Tuesday, October 2, 2018

8:07 AM

Kenali Ciri-ciri Bayi Terkena Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa pada bayi bisa terjadi kapan saja. kenali ciri-ciri bayi terkena intoleransi laktosa agar Ibu bisa mengetahuinya sejak awal.

Ibu mungkin tahu bahwa laktosa adalah gula yang biasa ditemukan dalam produk susu, termasuk ASI. Jenis makanan ini bisa membangun perkembangan untuk si kecil, untuk itu intoleransi laktosa pada bayi bisa menjadi sebuah mimpi buruk dan membuat kesehatan pencernaan mereka menjadi buruk.

Apa Itu Intoleransi Laktosa?


Intoleransi laktosa adalah gangguan di mana seseorang tidak dapat mencerna laktosa yang ada dalam produk susu. Padahal laktosa adalah karbohidrat penting untuk bayi. Laktosa ini harus dipecah oleh enzim laktase.

Jadi, jika tubuh bayi tidak dapat menghasilkan laktase yang cukup, ia tidak akan dapat memecah laktosa atau mendapatkan energi dari produk susu.

Hal ini sering menyebabkan perut kembung yang parah, kolik dan bahkan diare jika dibiarkan tidak terkendali.

Jenis Intoleransi Laktosa


Biasanya, intoleransi laktosa ada tiga jenis, yaitu:
  • Intoleransi laktosa kongenital: Jenis intoleransi ini terjadi karena kekurangan enzim laktase, yang pada dasarnya memetabolisme laktosa yang dikonsumsi bayi.
  • Intoleransi laktosa primer: Jenis intoleransi khusus ini terjadi ketika bayi lahir dengan tingkat laktase rendah.
  • Intoleransi laktosa sekunder: Ini terjadi jika bayi sudah menderita penyakit tertentu seperti sembelit atau diare dan ia mengembangkan intoleransi laktosa transien.

Jenis-jenis intoleransi ini kadang-kadang sulit untuk diidentifikasi secara langsung , sehingga Ibu harus benar-benar memperhatikan si kecil.

Ciri-ciri Bayi Terkena Intoleransi Laktosa

Ibu perlu mengetahui ciri ciri bayi terkena intoleransi laktosa  untuk memastikan apakah si kecil memang menderita hal ini atau tidak.

Biasanya ciri-ciri intoleransi ini berbeda pada setiap bayi.  Namun secara umum, ada kondisi-kondisi yang bisa dijadikan ciri ciri bayi terkena intoleransi laktosa.

•    Perut kembung,
•    Sakit perut
•    Diare,
•    Angin yang terperangkap di perut bayi,
•    BAB berair,
•    Kolik,
•    Sering menangis atau tidak nyaman,
•    Pergerakan perut menimbulkan suara bising,
•    Muntah

Setiap atau sebagian besar dari ciri-ciri ini bisa terjadi beberapa menit atau beberapa jam setelah bayi mengonsumsi susu atau produk susu. Namun, karena beberapa ciri di atas seringkali muncul bertepatan dengan masalah kesehatan, misalnya demam, maka orangtua kadang sulit untuk mengidentifikasi gejalanya sebagai gejala intoleransi laktosa.

Tetapi jika Ibu menduga bahwa si kecil mengalami intoleransi laktosa, Ibu harus membawanya ke dokter anak tanpa penundaan. Dokter dapat melakukan tes tertentu sebagai bagian dari pemeriksaan.
Tes untuk Memeriksa Intoleransi Laktosa pada Bayi

Umumnya, dokter melakukan tes Dimona atau tes napas hidrogen. Tetapi terkadang, itu tidak layak untuk dilakukan pada bayi. Karena itu, dokter biasanya lebih suka menjalankan tes tinja.

Jika tinja terlalu asam, yang berarti tingkat pH kurang dari 5,5, maka bayi memiliki kemungkinan menderita intoleransi laktosa.

Di sisi lain, jika tinja tidak terlalu asam, gejala-gejala di atas yang muncul pada bayi, bisa jadi disebabkan oleh kondisi medis yang lain.

Kenali Ciri-ciri Bayi Terkena Intoleransi Laktosa

Cara Merawat Intoleransi Laktosa pada Bayi


Umumnya, dokter akan mendiagnosa bayi dengan intoleransi laktosa jika mendeteksi tidak hanya satu tetapi setidaknya dua atau tiga gejala. Hal ini terutama berlaku untuk intoleransi laktosa kongenital.

1. Intoleransi Laktosa Kongenital

Kurangnya penambahan berat badan, muntah terus menerus, diare dan kolik dapat dianggap sebagai gejala intoleransi laktosa.

Sekarang, jika gejala-gejala ini lebih dibuktikan oleh tes tinja, maka Ibu harus berhenti memberikan produk susu dengan segera pada bayi.

Ada beberapa formula susu bebas laktosa yang tersedia di pasar yang dapat Ibu coba. Tetapi jangan berhenti memberinya ASI, kecuali dokter meminta lain. Dalam kasus langka dan akut, dokter mungkin meminta Ibu untuk berhenti menyusui untuk memeriksa apakah gejalanya kambuh kembali.

2. Intoleransi Laktosa Primer

Dalam kasus intoleransi laktosa primer pada bayi, dokter mungkin merekomendasikan memberikan produk bebas laktosa selama beberapa waktu sebagai periode percobaan. Periode ini bisa berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung pada tingkat keparahan kondisi.

3. Intoleransi Laktosa Sekunder


Jika seorang bayi menderita intoleransi laktosa sekunder, ia bisa saja mengalami diare berat atau muntah. Pada titik ini, Ibu mungkin disarankan untuk menghentikan produk-produk berbasis laktosa untuk sementara waktu sampai si kecil sembuh.

Begitu ia pulih, Ibu bisa mulai memberinya produk susu atau produk berbasis susu. Biasanya periode penghentian ini membantu bayi untuk menambah berat badan dan menjadi lebih baik dan mereka dapat mencerna produk berbasis laktosa dalam jangka panjang.

Terlepas dari jenis intoleransi laktosa apa yang diderita bayi, ingatlah bahwa itu dapat terjadi kapan saja. Intoleransi laktosa tidak hanya terjadi pasa masa ekslusif susu atau ASI, bisa juga pada masa MPASI.

Namun, seorang anak dengan intoleransi laktosa bawaan dan primer akan memiliki masalah dengan produk susu dan produk berbasis susu sejak lahir. Untuk anak dengan intoleransi laktosa sekunder, kondisinya bisa membaik seiring waktu.