Wednesday, March 22, 2017

Penyebab Bayi Muntah setelah Menyusu

Muntah sangat umum terjadi pada bayi dan biasanya (tetapi tidak selalu) normal. Kebanyakan bayi berusia muda mengalami  muntah  karena sistem pencernaan mereka belum matang, sehingga memudahkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Kadang mereka juga muntah lewat hidung.

Sebelumnya, penting bagi ibu untuk bisa membedakan gumoh dan muntah. Tidak seperti halnya gumoh dimana bayi sendiri terlihat tidak menyadari, muntah memberikan suatu dorongan terhadap bayi dan biasanya menyebabkan bayi menjadi stress dan gelisah. Muntah biasanya terjadi setelah sesi menyusui dan yang dikeluarkan lebih banyak dari gumoh. Jika bayi biasa muntah (sekali atau lebih setiap hari), atau jika ibu menemukan adanya darah atau warna hijau terang pada muntah bayi, segera hubungi dokter anak
.
Bayi sering muntah ketika mereka meminum terlalu banyak susu dalam waktu cepat. Terutama jika bayi menyusu dengan sangat cepat dan agresif, atau ketika payudara Ibu sedang penuh. Jika bayi mudah terganggu saat menyusu (dia melepas payudara Ibu untuk melihat-lihat) atau rewel pada payudara, si bayi kemungkinan menelan udara dan mengalami muntah dengan frekuensi lebih sering.

Penyebab yang paling umum adalah karena ASI atau susu yang ditelan bayi, kembali ke kerongkongan atau yang disebut sebagai refluks, karena gangguan otot antara esofagus dan lambung bayi. Bayi kemungkinan mengalami refluks karena ukuran perutnya sangat kecil sehingga mudah penuh. Refluks juga terjadi karena katup pada esofagus belum matang untuk bekerja optimal.

Beberapa bayi juga mengalami muntah ketika mereka tumbuh gigi, mulai merangkak atau mulai MPASI.
Kebanyakan bayi yang sehat akan mengalami tahap ini di umur 4-6 bulan. Namun jika bayi Ibu mengalami peningkatkan berat badan yang baik dan frekuensi kencingnya cukup (6-8 kali berganti popok kain atau 5-6 popok sekali pakai) dan buang air minimal 3 kali dalam waktu 24 jam (biasanya untuk bayi berusia lebih dari 6 minggu akan semakin jarang BAB), maka urusan muntah  ini bukan masalah yang serius.

Selain itu, menurut situs Mayo Clinic, muntah pada bayi ini tidak perlu dicemaskan kecuali jika bayi tidak mendapat kenaikan berat padan atau merasa tidak nyaman.

Beberapa penyebab bayi muntah  secara berlebihan:
•    Kelebihan pasokan ASI atau let-down reflex-nya kuat sehingga bisa menyebabkan gejala refluks dan biasanya dapat diatasi dengan langkah-langkah sederhana.

•    Sensitif terhadap makanan juga bisa menyebabkan muntah secara berlebihan. Yang paling sering adalah produk susu sapi (pada makanan Ibu atau bayi).

•    Bayi dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) biasanya muntah banyak. GERD terjadi ketika isi lambung kembali  ke kerongkongan dan keluar lewat mulut menjadi gumoh atau muntah. Kandungan lambung tersebut dapat berupa air liur, minuman atau makanan yang tertelan, sekresi (pengeluaran) pankreas dan cairan empedu.

•    Posisi menyusui. Kebiasaan ibu menyusui pada posisi miring akan membuat bayi muntah. Ini di karenakan posisi bayi terlentang sehingga cairan masuk ke saluran pencernaan melainkan ke saluran napas. Sebaiknya posisi bayi dalam keadaan miring, kepala lebih tinggi dari kaki dan membentuk 45 derajat. Cairan yang masuk langsung turun kebawah.

•    Meskipun jarang terlihat pada bayi ASI, muntah berlebihan  pada bayi baru lahir dapat menjadi tanda stenosis pilorus, sebuah masalah perut yang membutuhkan pembedahan. Hal ini terjadi 4 kali lebih sering pada anak laki-laki dari pada anak perempuan, dan gejala biasanya muncul antara usia 3 dan 5 minggu.


Bagaimana caranya mengurangi frekuensi muntah pada bayi?
•    Bantu bayi agar bersendawa, baik itu bayi yang menyusu pada payudara ataupun botol. Khusus untuk bayi yang disusui dengan botol minimal, usahakan bayi bersendawa  setiap 3 hingga 5 menit selama menyusu.
•    Hindari menyusu ketika bayi berada dalam posisi tiduran
•    Tahan bayi dalam posisi tegak selama 20 hingga 30 menit setiap setelah sesi menyusui
•    Jika bayi menyusu dari botol, pastikan lubang pada dot tidak terlalu besar (yang membuat susu mengalir terlalu cepat) atau terlalu kecil (yang bisa membuat bayi frustasi sehingga dapat menelan lebih banyak udara). Dot dengan ukuran yang pas yaitu jika botol dibalikkan akan keluar beberapa tetes susu kemudian berhenti
•    Ciptakan suasana tenang, hening dan menyenangkan dalam setiap sesi menyusui bayi.
•    Hindari interupsi, suara ribut tiba-tiba, cahaya terang, dan gangguan lainnya selama menyusui bayi
•    Jangan langsung bermain yang membuat bayi terlalu bersemangat segera setelah menyusui
•    Usahakan untuk menyusui bayi sebelum ia memberi tanda terlalu lapar
•    Naikkan bagian kepala crib dengan blok (jangan gunakan bantal) dan tidurkan bayi dengan terlentang. Hal ini akan membantu kepala bayi berada dalam posisi lebih tinggi dari perutnya dan menghindari bayi dari tersedak apabila ia muntah ketika tidur.
•    Jauhkan bayi dari paparan asap tembakau, lingkungan dengan asap rokok merupakan  faktor yang signifikan untuk refluks.
•    Mengurangi atau menghilangkan kafein. kafein yang berlebihan dalam makanan ibu juga akan berkontribusi untuk refluks.

Cara Menyendawakan bayi

1.    Gendong  bayi dalam posisi tegak menghadap tubuh ibu. posisikan agar kepalanya tepat di bahu Ibu, sangga punggung dan kepala bayi dengan baik. Kemudian tepuk-tepuk punggungnya secara perlahan.


2.    Dudukkan bayi diatas pangkuan ibu, sangga dada dan kepala bayi dengan tangan ibu sementara tangan ibu yang lain menepuk-nepuk lembut punggung bayi. Bisa juga dengan memutar-mutar tangan ibu di punggungnya.


3.    Telungkupkan bayi pada pangkuan ibu, sangga kepalanya sehingga berada dalam posisi lebih tinggi dari dadanya, lalu tepuk lembut atau putar-putar tangan ibu di punggungnya.



Kapan Ibu harus Khawatir dengan bayi muntah?
Di bulan-bulan pertama bayi, muntah lebih sering disebabkan oleh masalah ringan seperti perut bayi yang terlalu penuh. Namun penyebabnya bisa jadi lebih serius jika muntah itu disertai oleh gejala lain. ibu harus menghubungi dokter jika bayi mengalami muntah dan juga gejala berikut:

•    Tanda-tanda dehidrasi, termasuk mulut kering, kurangnya air mata, dan kuantitas popok basah lebih sedikit dari biasanya (kurang dari enam popok sehari).
•    Demam.
•    Menolak menyusu atau minum susu formula.
•    Muntah selama lebih dari 12 jam, atau muntah dengan kekuatan besar.
•    Mengantuk atau mudah marah.

•    Sesak napas.
•    Perut bengkak.
•    Terdapat darah atau empedu (zat hijau) di muntahannya.
•    Muntah yang hebat persisten pada bayi baru lahir dalam setengah jam setelah makan

Bayi Muntah lewat Hidung
Seperti yang disampaikan oleh dr. Muzal Kadim, SpA (dilansir dari yahbunda.co. id) muntah yang disebabkan oleh GERD kadang keluar lewat hidung. Kondisi ini seringnya tidak membahayakan karena antara mulut dan hidung (juga telinga) memiliki satu saluran. Tekanan muntah yang kuat akan membuat muntahan melewati jalur menuju mulut dan kemudian berlanjut hingga ke hidung (terutama pada makanan cair seperti susu).

Berbahayakah? Tidak, yang penting saat terjadi muntah atau gumoh yang banyak, letakkan bayi dalam posisi tidur miring atau posisi duduk agar dia tidak tersedak sehingga muntahan masuk ke dalam saluran napas.

GERD juga merupakan hal yang normal, asalkan bayi tidak menolak makan atau  minum dan berat badannya tetap naik. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi muntahnya antara lain dengan posisi bayi saat menyusu. Sebaiknya bayi menyusu pada posisi setengah duduk (jangan sambil tiduran) dan disendawakan sesudahnya.  


No comments:

Post a Comment