Wednesday, October 12, 2016

Ketika Balita Tidak Mendengarkan Orangtua

Apakah balita seringkali bersikap seolah tidak mendengar apa yang Ibu katakan? Atau, mereka sama sekali tidak merespons setiap Ibu mengatakan atau meminta sesuatu?

Yap, itulah balita-balita saya. Si Cuta dan Widya. Anak-anak yang dengan siapa blog ini bertahan dan terus berkembang. Cuta sekarang mendekati umur 5, sementara Widya baru saja berulang tahun yang ke-3. Wow, betapa cepat waktu seakan berlalu.

Oke, dengan dua balita sehat laki-laki yang sedang aktif-aktifnya, mungkin Ibu bisa membayangkan bagaimana kondisi di rumah. Anak-anak yang berlarian, berteriak, berebut mainan, bertengkar dan juga tidak mendengar apa pun juga. Jangankan merespons ketika saya meminta ‘Adek, rapikan mainan!”, bahkan ketika saya memanggil “Adek, jangan lari!” pun mereka melengos begitu saja.

Namun, saya menganggap itulah mereka dengan perkembangan balita mereka. Anak-anak yang bahkan sampai harus dipanggil sepuluh kali hingga saya lelah sendiri. jadi alih-alih menunggu mereka merapikan mainan, akhirnya saya yang melakukannya karena itu lebih menghemat energi.

Tapi sebenarnya, apakah ini wajar?
Nah, seperti biasa. Saya akan membicarakan hal ini berdasarkan sebuah sumber. Kali ini saya ambil dari laman perilaku balita di newkidscenter.com. Selain untuk sharing, ini juga untuk pembelajaran pribadi. Karena saya merasa masih amat sangat kurang dalam memahami kenapa si krucil-krucil sama sekali tidak merespons ketika saya memanggil.

Balita kadang-kadang tidak akan mendengarkan orang tua mereka karena ketidakmampuan mereka untuk memperhatikan. Jika Ibu terus mengulangi perintah sepuluh kali ke anak maka sang anak bisa mengembangkan kebiasaan tidak mendengarkan Ibu sampai Ibu setidaknya mengatakan perintah sepuluh kali lebih.

Sikap mereka yang seolah tidak mendengar juga mungkin berarti sedang mencari perhatian. Namun, jika Ibu terus mengomel, maka si balita tidak akan tidak akan mampu meningkatkan keterampilan mendengarkan; sebaliknya, hal itu mungkin  mereka kesulitan untuk mendengarkan guru dan teman-teman.
Nah, mengapa balita kadang tidak mendengarkan orangtua mereka?

Salah satu alasannya adalah mereka mungkin kurang bisa memahami setengah dari kata-kata yang diucapkan kepada mereka. Oleh karena itu, jika anak tidak akan mendengarkan, kadang-kadang itu memang merupakan bagian dari proses  Anda kadang-kadang, itu adalah pengembangan alami mereka dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, jika mereka tidak pernah mendengarkan  Ibu, mungkin merupakan pertanda sebuah masalah sehingga Ibu perlu berkonsultasi dengan dokter anak.
Beberapa masalah tersebut di antaranya:

Keterlambatan perkembangan balita terutama dalam kemampuan kognitif dan Lisan
Pada umur dua tahun, seorang balita sehat biasanya sudah bisa memahami perintah yang diberikan pada mereka. Namun, anak-anak dengan keterlambatan kognitif atau lisan mungkin bisa mendengar perintah tapi tidak menafsirkannya. Jika anak Ibu belum mampu mengikuti perintah kecil di usianya yang dua tahun itu, maka berkonsultasi dengan dokter anak.

Tantangan
Anak keras kepala biasanya menggunakan pendengaran selektif sebagai cara pembangkangan. Anak-anak mungkin hanya tidak ingin mendengarkan beberapa perintah Ibu dan mulai mengabaikan. Meskipun pada kenyataannya mereka memahami mereka dengan sempurna.

Gangguan Spektrum Autisme
Anak-anak yang menderita gangguan autisme spektrum mungkin juga tampak tuli terhadap perintah orangtua mereka. Jika anak menunjukkan tanda-tanda ini, cara terbaik adalah konsultasi ke dokter

Penurunan Pendengaran
Anak-anak yang lahir tuli atau yang telah menderita beberapa jenis trauma setelah lahir mungkin kehilangan kemampuan mereka untuk mendengar. Salah satu cirinya adalah anak yang tidak menanggapi suara atau suara dalam beberapa bulan pertama mereka.

Gangguan Pengolahan Sensorik
Anak-anak yang menderita gangguan pengolahan sensorik dapat mendengarkan suara orang tua, tetapi mereka tidak dapat memahaminya karena otak mereka tidak mampu memproses nada atau suara yang dibuat dengan cara yang normal. Gangguan ini membuat anak tidak mampu merespon orangtua atau mengambil bagian dalam komunikasi.

Lalu bagaimana cara menanganinya?


Dari laman yang sama, saya mendapat beberapa cara. Yaitu:

Baca Buku untuk Balita
Membacakan mereka buku bisa meningkatkan kemampuan anak untuk mendengarkan. Cobalah membaca dengan keras dan juga mengubah intonasi suara sehingga anak tidak kehilangan minat. Belilah buku baru dalam jangka waktu berkala, sehingga anak tidak bosan dan mereka akan terus mendengarkan dengan penuh minat demi mengetahui apa yang terjadi selanjutnya dalam cerita.

Catatan penulis: bagian ini suer, benar banget. Anak-anak saya selalu suka setiap dibacakan buku cerita. Bahkan, mereka selalu meminta.

Turunkan Volume Suara ketika memberi mereka perintah
Memberi perintah sambil berteriak dan berdiri akan menakuti dia dan dia tidak akan mendengar apa yang Ibu katakan. Oleh karena itu, adalah ide yang baik untuk menurunkan volume suara ketika memberi anak perintah. Dengan cara ini, dia akan mendengarkan Anda dan bertindak atasnya juga.

Catatan penulis: Hmm... bagian ini sepertinya agak... yah, begitulah. Anak-anak, tetap ga dengar

Berbagi dengan Balita
Makan bersama dengan seluruh keluarga adalah cara yang bagus untuk membuat anak mendengarkan. Ketika semua anggota keluarga berkumpul di satu meja dan makan makanan mereka bersama-sama, mereka akan berinteraksi satu sama lain dan anak akan mendapatkan kesempatan untuk mendengar dan juga terlibat dengan mereka.

Nyatakan Pesan dengan Jelas

Anak-anak memiliki rentang perhatian yang sangat kecil, sehingga Ibu janganlah mengobrol tentang sesuatu sebelum memberikan perintah kepada anak. Sebaliknya, cobalah untuk memberikan perintah dalam kata-kata kecil dan tepat, sehingga anak dapat dengan mudah mendengarkan dan memahami.

Beri Contoh
Jika Ibu memberikan anak perintah tapi si anak tidak mendengarkan, tindak lanjuti perintah itu sesegera mungkin dengan menunjukkan anak apa yang Ibu ingin dia lakukan. Misalnya, ketika Ibu menyuruh mereka merapikan mainan dan mereka tidak mendengar, maka Ibu rapikan mainan itu dengan cepat sehingga bisa melihat. Kalau perlu ajak mereka turut serta.

Memperkuat Pesan 
Setelah memberikan perintah kepada anak, cobalah untuk memperkuat perintah itu dengan gerakan fisik. Misalnya, jika Ibu ingin dia pergi ke tempat tidur maka matikan lampu, sentuh bahunya dan katakan bahwa sudah waktunya bagi dia untuk pergi tidur.

Berikan Peringatan pada Balita

Berikan anak peringatan ketika sebuah perubahan terjadi secara tiba-tiba. Misalnya, jika Ibu akan keluar dengan dia, katakan padanya bahwa ia harus meninggalkan aktivitas dan menemani  Ibu. Peringatan ini harus diberikan dengan segera karena anak sama sekali belum bisa melacak dan menghitung waktu.

Berikan Balita Instruksi yang Realistis

Jangan meminta anak untuk melakukan semua pekerjaan sekaligus. Misalnya, ketika meminta dia untuk membersihkan kamarnya, katakan padanya pertama untuk merapikan buku-bukunya. Setelah ia selesai dengan buku, baru minta dia merapikan mainan dan lainnya. Dengan cara ini, balita akan melakukan hal-hal yang Ibu minta.

Memotivasi Balita Ibu
Memberi perintah dengan berteriak hanya akan menakuti anak.  Cobalah untuk mengatakan sesuatu yang positif pada akhir perintah Ibu. hal ini bertujuan untuk mendorong dan memotivasi anak untuk melakukan apa yang Ibu katakan.

Memberi Contoh Baik untuk Balita
Memberi contoh yang baik bagi anak  dengan mendengarkan anak ketika mereka berbicara akan membuat mereka mendengarkan Ibu. Karena ketika dia melihat Ibu memperhatikan apa yang dia katakan, dia juga akan mulai memperhatikan apa yang Ibu katakan padanya.

Tips sederhana ya sebenarnya, Bu. Hanya saja, seperti saya, kadang melaksanakannya sulit karena kita memandang persoalan dari sudut pandang orang dewasa. Kita, tanpa sadar menganggap mereka orang dewasa, yang seharusnya sudah menyahut dengan dua tiga kali panggilan. Kita lupa, bahwa dunia anak dan dunia orang dewasa itu berbeda.


No comments:

Post a Comment