Wednesday, May 11, 2016

1:13 PM

Benjolan pada Leher Anak, Diapain Nih?

Apa yang mommy rasakan ketika menemukan benjolan pada leher anak? Panik? Kaget? Takut?

Iya, saya merasakannya. Anak saya yang kedua, si Widya ketahuan ada benjolan di lehernya. Tepatnya di bawah telinga kanan (agak maju dikit sih). Benjolannya pertama kali saya temukan di tahun 2015. Karena suatu hal, sama sekali belum bisa saya periksakan ke dokter.

Sekitar awal 2016, benjolannya membesar. Sangat-sangat bengkak hingga kelihatan. Padahal awalnya hanya terlihat ketika dia mendongak saja. Saat itu, benar-benar seperti gendongan tapi di kanan.

Gejala lain yang muncul adalah badannya sering hangat dan mukanya juga pucat. Walaupun si anak tidak merasakan apa-apa, benjolannya tidak sakit, aktivitas masih seperti biasa, tetap saja saya panik. Akhirnya si adek saya bawa ke dokter anak.

Berbagai macam pemikiran muncul. Jangan-jangan tumor, jangan-jangan kanker. Apalagi pas di dokter anak, sang dokter tidak berani memberi vonis apa-apa karena benjolannya sudah lama. Sang dokter yang memang terlalu overcare juga sudah sampai membicarakan urusan operasi dan tips mencari kamar di rumah sakit. Seketika saya menyesali kealpaan saya karena terlambat membawa si adek ke dokter.

Oleh dokter anak, anak saya dirusuk ke dokter bedah anak. Kebetulan sang dokter bedah ini praktek di RS Surya Husada Denpasar pada hari yang sama, sehingga langsung kami samperin.

Udah takut banget kalau si adik harus operasi segala macam. Syukurnya sang dokter bedah yang sudah 11 tahun menangani kasus seperti ini berkata untuk kasus seperti ini sangat jarang sampai operasi. Sang dokter jauh berbeda dengan dokter anak yang sebelumnya, lebih santai dan bisa menenangkan perasaan orangtua pasien yang sudah ketakutan.

Dokter bedah kemudian merujuk si adek ke dokter spesialis patologi untuk melakukan FNAB (Fine Needle Aspiration Cytology) atau biopsi jarum halus. Ini merupakan tindakan memeriksa suatu bagian tubuh dengan cara menyuntikkan sebuah jarum yang halus (lebih kecil dari jarum suntik biasa) ke bagian tubuh yang ingin diperiksa.

FNAB tidak berlangsung lama. Hanya menusukkan jarum kecil sekali di benjolan. Namun tetap saja si adek ketakutan dan menjerit. Hasil tesnya juga tidak lama, hanya menunggu sekitar satu jam dan hasil sudah keluar.
Ternyata, dari test itu ketahuan bahwa benjolan itu merupakan akibat dari Reactive lymphoid hyperplasia yaitu pembesaran kelenjar getah bening.

Saat menelpon dokter bedah anak untuk menyampaikan hasil test,  dokter bilang bahwa kasusnya si adek tidak perlu buru-buru. Saya kemudian diminta konsultasi lagi pada jadwal beliau yang berikutnya.

Beberapa hari kemudian, saya kembali konsultasi ke dokter bedah anak. Sang dokter mengatakan bahwa si adek terkena radang sekunder yang membuat benjolannya tambah besar. Akhirnya diberikan antibiotik selama seminggu, dan diminta kontrol lagi minggu depan pada hari yang sama.

Selama seminggu, benjolan berkurang drastis, tidak lagi bengkak seperti hari kemarin. Namun masih ada sisa, sehingga saya kembali kontrol minggu depannya. Karena hasil obat yang memuaskan, dokter kembali memberikan antibiotik dengan jenis serta dosis yang sama selama seminggu.



Seminggu kemudian, benjolan itu ternyata masih ada dengan ukuran yang sama seperti tahun lalu ditambah dua benjolan baru dengan ukuran kecil-kecil.  Saat kontrol lagi, si adek dan juga kakaknya Cuta (yang ternyata setelah saya cek juga memiliki benjolan serupa tapi lebih kecil) dirujuk ke dokter anak spesialis kelenjar untuk menjalani tes mantoux.

Apa itu test mantoux? Ini merupakan alat diagnostik yang sampai saat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk mendiagnosis adanya infeksi tuberkulosis. Prosedurnya adalah dengan menyuntikkan tuberkuloprotein ke bawah kulit. Lokasi penyuntikan di sekitar lengan.

Kenapa anak-anak saya harus menjalani test ini padahal hasil FNAB-nya menunjukan pembengkakan kelenjar getah bening? Karena di keluarga kami pernah ada riwayat TB sehingga disinyalir anak-anak tertular.

Test ini mungkin hanya seperti suntikan, tapi efeknya sungguh berbeda pada anak 3 tahun. Si Adek menangis jejeritan, meronta-ronta padahal sudah dipegangi oleh perawat. Suntikannya gagal karena obatnya keluar sehingga test harus diulang di lengannya lagi satu. Saya tidak heran kenapa si Adek ketakutan. Metode suntikannya tidak seperti suntikan bisa yang asal suntik lalu masukin obat. Tidak. Setelah disuntik, dengan posisi jarum semasih di kulit, sang dokter memastikan posisi jarum di jaringan kulit yang tepat sebelum memasukan obat. Inilah yang membuat si Adek dan kakaknya menjerit kesakitan.

Setelah test, kami diminta kontrol 3 hari kemudian karena hasil test baru akan kelihatan dalam jangka waktu 48-72 jam. Reaksi tubuh terhadap penyuntikan ini nantinya akan berupa munculnya benjolan kemerahan di sekitar suntikan. Dinyatakan tuberkulosis negatif apabila nilai indurasinya 0-4 mm. Di sisi lain, dinyatakan negatif tuberkulosis apabila nilai indurasinya diatas 10 mm. Jika nilai indurasi berkisar antara 5-9 mm, maka dinilai meragukan (ref: artikelkesehatanwanita.com)

Syukurnya, selama 3 hari itu sama sekali tidak ada tanda-tanda benjolan di lengannya anak-anak. Bekas suntikan memudar dengan cepat, dan ketika kontrol dokter mengatakan bahwa mereka tidaklah terkena TB.

Seketika saya lega. Kenapa? Sungguh mommy, pengobatan TB itu tidaklah gampang. Penderita harus minum obat setiap hari selama enam bulan. Tidak boleh putus barang satu hari saja. Kalau lupa sehari, bakteri akan resisten terhadap obat. Pada bulan-bulan awal bahkan 4 biji obat yang gedenya minta ampun. Saya membayangkan anak-anak saya menelan obat-obatan begitu, seketika rasanya mau lemas.

Syukurnya mereka negatif untuk TB. Kemudian, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka hingga memiliki benjolan seperti itu? Apa pengobatan selanjutnya?

Sang dokter yang juga merupakan spesialis kelenjar ini mengatakan bahwa anak-anak saya mengalami suatu jenis radang yang membuat kelenjar getah bening mereka membengkak (hasil FNAB jelas kok, dok). Hal ini katanya umum terjadi pada beberapa anak, tidak akan mempengaruhi kesehatan mereka dan juga tidak membutuhkan pengobatan tambahan. Dokternya sendiri bilang benjolan akan hilang dengan sendirinya. Saya hanya harus mengobservasi anak-anak dan melakukan pemeriksaan jika terjadi radang sekunder yang mengakibatkan bengkak besar seperti kemarin.

Ini melegakan. Sungguh, setelah hampir sebulan berkutat dengan masalah benjolan ini hingga membayang operasi segala macam.  Segala macam ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran yang menyita perhatian dan tenaga akhirnya bisa ditanggalkan (bahasanya novel banget hahahah). Namun biarpun begitu, tetap saya saya masih was-was. Anak saya dua-duanya mengalaminya, saya jadi menduga-duga penyebabnya apa walaupun dokternya tidak bisa menyebut penyebabnya secara spesifik.

Sampai seminggu setelah konsultasi terakhir, tidak ada masalah kesehatan berarti bagi mereka. Semoga benjolan tersebut memang bisa hilang dengan sendirinya.

Nah, postingan saya kali ini tujuannya untuk membuat mommy tahu, bahwa tidak semua gejala penyakit harus ditanggapi dengan ketakutan. Namun tetap ya harus waspada, karena benjolan yang tidak wajar seperti ini bisa jadi sesuatu yang mengkhawatirkan jika tidak ditindaklanjuti.

Atau mungkin ada mommy yang pernah mengalami masalah seperti anak-anak saya?