Friday, January 15, 2016

Menyusui saat Hamil, Bolehkah?

Salah satu resiko dari jarak usia anak yang rapat adalah si kakak belum cukup umur untuk disapih, sementara si adik sudah nunggu giliran untuk brojol. Apakah mommy mengalaminya?

Tenang, mommy tidak sendirian, ada saya (dulu sih) dan jutaan ibu-ibu di dunia mengalami ini (tanda bahwa program pemerintah yang menyatakan si kakak baru boleh punya adik setelah umur lima tahun itu GATOT, hee).


Jika mommy sudah sempat searching, pasti akan menemukan ribuan artikel yang memperbolehkan  menyusui saat hamil dan bahkan tandem nursing (menyusui si kakak dan si adik secara bersamaan). Berbagai keuntungan dan kekurangan, sudah pasti Mommy temukan terlebih dahulu di sana sebelum baca postingan saya yang tidak bergizi ini.

Saya sendiri sudah hamil ketika si Cuta umur sembilan lebih. Karena sudah sangat-sangat tahu manfaat ASI, saya berusaha untuk terus menyusui walaupun dilarang oleh mertua dan juga dokter. Alasannya, menganggu kandungan. Pada awalnya saya ngotot, apalagi banyak saya temukan curhat-curhat mommy di milis yang berhasil melewati masa ini hingga akhirnya bisa tandem nursing.

Saya pun mencoba mencari pembenaran kembali atas niat saya, bahwa kehamilan yang pertama tidak bermasalah, tidak ada riwayat keguguran atau pun lahir prematur. Istilahnya, saya menganggap kondisi saya cukup kuat untuk menyusui selama hamil.

Niat itu pun berlangsung selama dua bulanan,  hingga si Cuta berumur setahun. Dan nyatanya, saya menyerah. Haaa... padahal awal-awal heboh sama suami mau tandem nursing, namun baru dua bulan sudah keok.

Ternyata menjadi pejuang ASI tidak segampang itu. Ada puluhan malam yang harus dihabiskan dengan sakit pinggang, badan lemas tidak bertenaga dan kurang enak badan. Namun bukan itu yang membuat saya menyerah, melainkan kontraksi dini yang membuat niat saya keder. Iyap, salah satu alasan saya menyerah menyusui selama hamil adalah resiko keguguran akibat kontraksi. Dokter bilang kandungan saya lemah karena sudah mengalami kontraksi di awal-awal kehamilan, sehingga dengan menyusui bisa menambah resiko keguguran.

Akhirnya, ya sudah. Selesailah si Cuta menyusui. Waktu itu jujur, merasa berdosa sekali karena tidak berhasil menamatkan dia ASI selama dua tahun. Namun ternyata, keinginan berhenti itu juga bukan dari saya saja, tapi si Cuta juga mulai tidak puas dengan jumlah ASI sehingga lebih memilih susu botol (padahal di sebelas umur pertamanya dia anti susu botol). Jadi proses menyapihnya gampang banget.

Menyusui selama hamil tidaklah gampang, butuh dukungan suami dan juga kemauan sang ibu. Hanya saja, beberapa ibu tidak dilimpahi oleh persediaan ASI yang cukup. Walaupun secara teori, supply ASI berdasarkan kebutuhan, namun adakalanya seorang ibu harus berusaha lebih banyak untuk menyiapkan persediaan lebih untuk bayinya, terlebih saat hamil.

Asupan makanan dan cairan, kondisi psikis, tekanan lingkungan atau pekerjaan, kondisi kesehatan. Semua faktor itu turut andil, tidak semata karena bayi minta terus keluarannya banyak. Bagaimana pun, pabrik akan beroperasi jika mesinnya dalam kualitas prima dan bahan bakunya cukup. Jadi, saya tidak akan sok menceramahi seorang ibu yang mengeluh ASI nya kurang dengan teori supply and demand (didemo ibu-ibu pro ASI sedunia).

Pada dasarnya,ASI memang penting, tapi dalam kasus seperti ini, bagi saya si calon adik tetaplah ada prioritas. Bagaimana kita menjaga anak pertama saat hamil, begitu pula harusnya kita merawat si anak kedua. Jadi, sekalipun dengan itu si kakak harus berhenti ASI.

Kalau mommy konsultasi ke dokter, hahhaa.... mungkin kebanyakan dokter akan menyarankan untuk stop seperti dokter kandungan saya. Wajar, mereka kan dokter kandungan, bukan dokter anak, apalagi ahli laktasi. Tapi tetap saja sih, selain Tuhan dan Mommy, mereka yang paling tahu kondisi kandungan kita.

Jadi apakah menyusui selama hamil itu boleh? Dengan banyaknya informasi di sekitar, kita tetap kembali ke diri sendiri. Apakah kondisi tubuh mommy siap dengan hal itu?


1 comment: