Monday, November 9, 2015

Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja

Sudah lama sekali blog ini tidak diupdate, tetapi masih saja ada yang datang berkunjung.

Kali ini saya akan share pengalaman saya selama memerah ASI saat anak kedua. Kondisi saya saat itu sebenarnya agak susah untuk menyimpan ASIP. Mengapa? Di kantor sama sekali tidak ada kulkas, adanya kulkas minuman di koperasi yang setiap saat dibuka dan ditutup pembeli. Tidak hanya suhu yang kurang terjaga, namun juga kemungkinan terjamah oleh tangan-tangan lain.
Sebelum saya share lebih lanjut, mungkin mommy baru pingin tahu  bagaimana seluk beluk ASI perah itu.

Masa Penyimpanan
Seperti yang dilansir oleh IDAI atau Ikatan Dokter Anak Indonesia, ada panduan lama waktu yang harus diikuti dalam menyimpan ASI Perah. Seperti daftar yang saya dapat dari http://idai.or.id, adalah sebagai berikut:

Suhu Ruangan : dengan catatan suhu maksimal 25 derajat celcius, masa penyimpanan maksimal 8 jam. Dengan catatan wadah harus tertutup dan dijaga sedingin mungkin, bila perlu dibalut dengan kain handuk.

Cooler bag tertutup :  dengan suhu -15 s.d -4 derajat celcius, maksimal 24 jam dengan keterangan pastikan es batu menyentuh wadah ASI sepanjang waktu dan cooler bag tidak sering-sering dibuka.
Lemari Es : Dengan suhu 4 derajat celcius, maksimal 5 hari, dengan catatan tidak simpan di pintu namun di bagian terdalam.

Freezer kulkas 1 pintu : dengan suhu -15 derajat celcius maksimal 2 minggu, dengan catatan disimpan di bagian terdalam freezer.

Freezer kulkas 2 pintu : dengan suhu -18 derajat celcius 3-6 bulan, bisa disimpan melebihi waktu tersebut hanya saja kualitasnya sudah menurun.


Tempat Penyimpanan ASI Perah
Ada beberapa alternatif penyimpanan, dengan berbagai kualitas dan juga merk. Beberapa yang saya tahu adalah:

1.    Botol susu bayi biasa namun BPA free. Tentunya yang ini lebih mahal

2.    Plastik ASIP khusus

3.    Botol berbahan kaca. Banyak yang menggunakan botol bekas minuman UC 1000 dengan tutup diganti dengan tutup dari minuman teh (saya lupa, entah merk apa, ada kok yang cocok.

Botol bahan kaca ini aman kok, asalkan sudah dicuci bersih dan disterilkan sebelum digunakan. Kalau saya biasanya dengan merebusnya. Di beberapa daerah terutama yang menggunakan sumur bor, air nya kadang berkapur, jadi kalau digunakan untuk merebus botol, akan meninggalkan lapisan putih tipis di botol. Tipsnya adalah rebuslah dengan air matang. Atau kalau perlu dengan air galon.

Adakalanya setelah merebus, mommy kesulitan mengeringkannya. Tips dari saya, setelah direbus, posisikan botol dengan bagian mulut di atas atau jangan dibalik. Kaca yang panas akan membuat sisa-sisa air di dalam botol menguap, sehingga keluar dengan sendirinya. Jika botol dibalik, maka pengeluaran air akan berlangsung lebih lama. Hanya saja, jangan membiarkan botol dalam posisi mulut di atas terlalu lama karena rentan dengan debu dari udara luar.

Perlatan untuk Memerah ASIP
Peralatan pertama yang dibutuhkan tentunya adalah media penyimpanan. Seperti yang sudah saya uraikan di atas, ada botol khusus, plastik atau botol kaca. Pastikan media penyimpanan bersih, khusus yang berkali-kali pakai seperti botol, pastikan permukaan dalam dan tutupnya kering.

Kedua adalah alat memerah. Bisa dengan tangan, namun saya lebih suka dengan alat. Pompa ASI yang saya gunakan merk Pigeon manual, lebih nyaman dan terjangkau. Pastikan sudah dicuci bersih. Rangkaiannya dilepas sebelum dicuci, kemudian sterilkan. Bisa direbus, bisa dengan mesin khusus. Kalau dengan direbus, dipastikan pompa akan menguning dengan cepat (hehehehe)

Ketiga adalah media penyimpanan. Nah, saya yakin yang ini adalah yang tersulit. Seperti kondisi yang saya uraikan di awal, saya tidak punya kulkas di kantor. Jadi terpaksa saya menggunakan cooler bag dengan isian blue ice. Namun blue ice juga tidak bisa bertahan lama, apalagi seharian.

Tetapi apakah mommy tahu, pada suhu ruangan, ASI bisa bertahan selama delapan jam. Artinya, jika mau langsung dikonsumsi pada hari yang bersamaan, ASI itu juga tidak perlu dimasukan ke kulkas lagi. Catatan, jika mommy memompa jam sembilan pagi, ASI itu masih bagus hingga jam lima sore.

Nah, jika kondisi seperti saya, hanya bisa mengandalkan blue ice yang bertahan selama beberapa jam saja, maka agar bisa menyimpan stok ASIP, maka mommy bisa perah melewati jam sembilan. Mommy bisa ukur-ukur waktu, sekiranya pulang jam lima, jam berapa bisa memerah agar ASI tidak melewati jangka delapan jam itu.

Teman saya bahkan pernah tidak memasukan ASIP nya ke cooler bag, hanya disimpan di suhu ruangan hingga pulang, dengan catatan ASI langsung masuk kulkas dan diberikan langsung keesokan harinya.  Tidak disimpan dalam jangka waktu lama.

Bagi beberapa bayi, mungkin tidak toleran dengan ASIP yang model begini ya, dan sekali lagi saya hanya memberi alternatif dibanding ASInya diperah dan dibuang.  Sayang sekali bukan?!

Jika memungkin untuk mendapatkan kulkas, maka akan lebih baik lagi.


Membekukan ASIP

Oke, mungkin bagian ini hanya berlaku untuk ASIP yang tidak pernah disimpan dalam suhu ruangan untuk jangka waktu lama. Artinya, mommy dalam kondisi di dekat kulkas, jadi bisa langsung membekukan begitu selesai memeras.

Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan:

1.    Tutup botol atau media penyimpanan dengan kencang.

2.    Sisakan ruang sekitar 2.5 cm dari tutup media. Pernah saya baca, mommy yang mengisi botol penuh sampai ke mulut botol, ASIPnya pecah. Jika menggunakan botol ASIP dari bahan botol UC, isi cukup sampai leher botol

3.    Simpan per porsi, sesuaikan dengan kebutuhan minum si kecil.

4.    Letakan ASIP di bagian terdalam freezer, berikan label tanggal dan jam ASI diperas.

Menghangatkan ASIP Beku

 
Nah, ketika mommy mau memberikan ASIP pada si kecil, maka sebisa mungkin ikuti prosedur di bawah ini.

1.    Semalam sebelumnya, turunkan ASIP beku ke chiller (kulkas bawah) untuk mencairkannya.

2.    Ketika akan dihangatkan, maka keluarkan ASIP dan letakan di suhu ruangan selama beberapa saat, setidaknya sampai botol berkeringat. Jangan melewati setengah jam di suhu ruangan ya.

3.    Siapkan mangkok berisi air hangat, kemudian letakan botol ASIP di sana.

4.    Cek suhu sebelum diberikan ke bayi ya

Nah, adakalahnya ada beberapa mommy yang langsung menghangatkan ASIP beku, terutama saat terburu-buru. Cara ini tidak bisa dibilang salah, namun tidak juga dianjurkan. Sekali lagi masalah waktu ya mom.

Beberapa info-info penting seputar ASIP ini, yang saya kumpulkan dari berbagai website:

1.    Nah, ASIP beku yang sudah ditaruh di chiller dan mencair, jangan pernah dipindahkan ke freezer lagi ya. membekukan berulang-ulang bisa mengurangi kualitas ASIP.

2.    Jangan pernah mengocok ASIP cair karena bisa merusak kandungannya. Jangan pula memanaskan ASIP dalam microwafe, apalagi menjerangnya dengan api di atas kompor.

3.    Gunakan ASI yang disimpan paling duluan untuk menghindari kadaluarsa

4.    Tips lain untuk menghangatkan ASIP adalah: pindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam atau ke dalam bak berisi air dingin. Naikkan suhu air perlahan-lahan hingga mencapai suhu pemberian ASI

5.    ASI yang telah dihangatkan kadang terasa seperti sabun karena hancurnya komponen lemak. ASI dalam kondisi ini masih aman untuk dikonsumsi. Apabila ASI berbau anyir karena kandungan lipase (enzim pemecah lemak) tinggi, setelah diperah, hangatkan ASI hingga muncul gelembung pada bagian tepi (jangan mendidih) lalu segera didinginkan dan dibekukan. Hal ini dapat menghentikan aktivitas lipase pada ASI. Dalam kondisi inipun kualitas ASI masih lebih baik dibandingkan dengan susu formula.

6.    ASI yang sudah diperah hanya bisa digabung jika waktu perahnya dalam kurun waktu 24 jam. Artinya, jika mommy memerah jam 8, ASIP itu bisa digabung dengan ASIP jam 12. Asalkan suhunya sama, jadi letakan dulu di dalam lemari es selama setidaknya satu jam hingga suhu sama, baru kemudian digabung.

7.    Memilih blue ice, pilih yang ukuran besar. jangan pilih yang ukuran kecil karena akan mencair lebih cepat (sekalipun banyak).

8.    ASIP yang sudah dihangatkan tidak boleh disimpan lagi ya.

9.    ASIP yang sudah dicairkan, tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam biarpun dalam

Sekali lagi, ini hanya sharing dan ngumpulin info dari beberapa website ya mom, bukan petunjuk medis. Jadi, jika ada hal-hal yang sekiranya tidak cocok, bisa kok ditanyakan ke ahlinya.

1 comment: