Monday, April 7, 2014

Mengatasi Sembelit Bayi, Ketahui Penyebabnya!

Sebelumnya saya pernah bilang bahwa si Widya mengalami sembelit (Sembelit pada Bayi,Versi si Gembul Widya), nah artikel kali ini memnag kelanjutan dari postingan kala itu. Postingan itu tertanggal 5 Maret, dan ternyata sembelitnya dia berlangsung hampir selama sebulan.

Ternyata hasil konsultasi ke dokter tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi sembelitnya. Setelah makannya dikurangi, kondisi fesesnya juga tidak melembek, tetap keras sehingga memerlukan tenaga ekstra untuk keluar. Beberapa kali malah tidak mau keluar, keluar sedikit tetapi karena ngedennya dihentikan, fesesnya masuk lagi.

Berbagai macam makanan bayi dan trik untuk mengatasi sembelit pada bayi seperti yang tertuang dalam postingan mengenai Mengatasi Susah BAB (Sembelit) pada Bayi Mpasi saya jalankan, mulai dari memperbanyak serat, sayuran, cairan, fitnes, dan taraa... kegagalan yang dialami banyak mommy yang bertanya di komentar postingan tersebut saya alami juga. Stress? sudah pasti dong. Sampai-sampai, ketika kerja dan nelpon ke rumah untuk ngecek anak-anak, pertanyaan saya selalu sama setiap harinya,

"Si kakak mau makan, Bi? si Adik mau ngengek, Bi?"

Kakak adik berbanding kebalik benar ini. fiuhh...

Selama dua minggu pertama sembelitnya, bapaknya menyuntikan dua kali pencahar lewat dubur. Setelah itu, ternyata BAB nya masih keras, hingga kalau BAB harus sampai dicungkil-cungkil agar sedikit fesesnya sudah keluar, tidak masuk lagi.

Mengenai nangis, ya sudah pastilah. Wajahnya sampai memerah, duburnya berdarah karena lecet dan yang paling menyedihkan, saya sampai harus membatasi asupan makanan agar mendeteksi makanan apa kiranya yang membuat dia sembelit.

Susu formulanya saya ganti dengan merk lain karena beberapa teman mengatakan bisa jadi karena tidak cocok. Dua kali ganti tidak juga ada hasilnya. Pepaya yang kata banyak blog ternyata bisa juga menimbulkan sembelit, terpaksa saya hentikan. Beraneka buah pir sudah saya coba, ternyata tidak mampu mengencerkan BABnya. Apel tidak sama sekali karena malah bisa bikin sembelit dan terakhir saya juga hindarkan beras dari menunya karena lagi-lagi takut membuat BABnya tambah keras.

Pada Kamis 27 maret, dia full ASI karena stok perahnya lumayan dan keesokan harinya saya libur otomatis dua hari itu susu formulanya terhenti. Sabtu dan Minggu besoknya, menunya saya ganti dengan meniadakan beras sama sekali. Menunya saya kasih gandum dengan buah, seharian itu dia makan makanan cair campuran gandum dan buah pir korea + semangka. Hari sabtu siang, BABnya lancar karena bagian yang keras sudah berhasil dikeluarkan kemarinnya.  Saya sudah senang itu, karena mengira dengan meniadakan beras, babnya lancar.

Sabtu sore, karena sesuatu hal, si Widya kena formula lagi dan keesokan harinya, fesesnya kembali keras. Nah, berbekal pengalaman itu, akhirnya saya dan suami berkeputusan untuk mengganti formula yang biasa (susu sapi) dengan soya.

Hasilnya?
Setelah feses kerasnya berhasil keluar dengan sedikit bantuan cungkil-cungkilan, selasa, Fesesnya jadi lebih lembut dan rabu pagi fesesnya sudah lembek sempurna.

Lalu seterusnya bagaimana?
Fesesnya memang sudah normal, bahkan sehari bisa BAB hingga tiga kali dan baunya, amboy... jauh lebih beraroma feses dibanding sebelumnya. Masalahnya pada hari jumatnya, ada ruam-ruam merah di seluruh tubuhnya yang artinya dia kena alergi makanan. Perkiraan awal saya karena gandumnya, walaupun sempat mikir soyanya juga memberi dampak alergi. Namun saya sudah sering memberinya tempe tahu dan selama ini aman-aman saja.

Setelah ke dokter, akhirnya ruam merahnya berkurang dan dokter berpesan agar menghentikan gandum setidaknya untuk 6 bulan ke depan. Lihat dulu perkembangannya selama dua minggu, dan setelah bersih dari alergi, bisa lagi mencoba gandum untuk memastikan apakah dia alergi dengan bahan makanan itu atau tidak.

Nah, jadi mommy, inti dari postingan kali ini adalah mengetahui penyebab sembelit itu terlebih dahulu. Sekitar dua minggu sembelit, saya rasanya tidak percaya ini karena kurang serat atau cairan karena asupan keduanya sudah cukup. Cairannya seakan terserap semuanya oleh usus halus  sehingga tidak menyisakannya sama sekali ke usus besar. Pernah juga saya berpikir karena kelainan usus. Tetapi untungnya dengan trial eror bersama suami ini ketahuan kalau si Widya alergi susu sapi.

Setelah kejadian seperti ini saya kembali berpikir bahwa dokter tidak selalu bisa membantu kita dalam kasus seperti ini karena perlu observasi panjang. Kalau misalnya kita tidak peka, tentu si anak yang jadi korban.

Akhirnya saya hanya bisa bersyukur dan berdoa, semoga si Widya tidak mengalami alergi soya. Susu sapi alergi, kalau soya juga alergi, dia tambahannya apa dong?

No comments:

Post a Comment