Sunday, June 30, 2013

8:41 AM

Cara Membuat Puree Apel untuk Bayi

Resep makanan bayi 6 bulan - Saus apel merupakan makanan yang cocok untuk bayi. Saus apel buatan sendiri agak manis, penuh dengan serat, dan kaya akan vitamin C. bayi pasti menyukainya. Untuk membuatnya tidak sulit, berikut langkah-langkahnya:

Langkah 1: Pilih & Beli Apel yang Segar
Apel merupakan buah pertama yang ideal karena rasanya yang manis dan mudah dicampurkan dengan berbagai sereal bayi. Cari apel yang bebas dari memar dan noda. Apel impor yang bagus adalah merk Red Delicious dan Apel Gala, hindari varietas apel seperti Granny Smith. Apel lokal juga bagus. Apel Malang dengan rasa sedikit asam namun akan menjadi manis jika dikukus. Begitu juga apel Manalagi. Tergantung dengan pilihan serta isi kantong.

Langkah 2: Bersihkan dan Kupas Apel
Bagian kupasan apel memang memiliki nutrisi dan serat yang bagus, namun sangat berisiko untuk memberikan apel tanpa dikupas untuk bayi. Cuci apel dengan campuran dari tiga bagian air dan satu bagian cuka putih untuk menghilangkan bakteri. Bilas dengan air dingin yang mengalir kemudian kupas.  Cara termudah untuk mengupas apel adalah dengan menggunakan alat pengupas sayuran yang bekerja dalam gerakan melingkar di sekitar buah. Namun jika tidak memiliki pengupas sayuran, gunakan pisau yang tajam.

Langkah 3: Buang bagian tengah dan potong Apel
Gunakan talenan yang bersih kemudian potong apel menjadi dua bagian. Buang bagian bijinya atau di tengahnya. Potong-potong apel menjadi potongan kecil agar cepat masak dan memudahkan saat dihaluskan.

Langkah 4: Masak Apel
Memasak apel bisa dengan mengukus atau merebus. Jika merebus, gunakan air dalam jumlah yanga sedikit
Jika mengukus, letakan potongan apel dalam wadah tahan panas kemudian kukus hingga matang.
Untuk pilihan memasak makanan bayi, lihat artikel Cara Memasak Makanan Bayi.
dan didihkan. Masukan apel dan periksa apel setelah 10 menit- sangat penting untuk meminimalkan waktu memasak untuk memastikan nutrisi vitamin dan mineralnya agar tidak terbuang. Kalau sudah lunak, tiriskan kemudian bilas dengan air dingin selama tiga menit untuk menghentikan proses memasak.

Langkah 5: Haluskan Apel
Haluskan dalam food processor atau blender sampai halus. Tambahkan air secukupnya untuk mencapai konsistensi yang diinginkan.

Langkah 6: Sajikan Saus apel yang
Saus apel bayi sangat serbaguna. Mommy bisa menyajikannya polos atau mencampurnya dengan puree lain untuk memperkenalkan rasa dan tekstur baru.

Langkah 7: Dinginkan atau Freeze Sisa Applesauce

Saus apel bisa didinginkan di kulkas dalam wadah BPA free hingga 3 hari. Saus apel beku bisa disimpan hingga 3 bulan.

Thursday, June 27, 2013

1:36 PM

Puree untuk Makanan Pendamping ASI

Pada pemberian makanan pendamping ASI pada tahap awal, puree merupakan jenis makanan yang sangat direkomendasikan. Puree adalah makanan semi padat yang berbentuk seperti bubur dengan tekstur yang sangat halus. Kalau dikamus artinya sup yang kental. Bahannya bisa berupa apa saja, sayuran, buah, sereal ataupun beras.

Cara pembuatan puree sangat sederhana, berikut dipetik dari wholesomebabyfood.com.

1. Mulailah dengan memasak sayuran / buah.
Memasak bisa dengan berbagai metode. Lebih lanjut bisa dibaca di Cara Memasak Makanan Bayi.
Hal yang perlu diperhatikan adalah, mengukus bisa mempertahankan sebagian nutrisi. Namun apapun metode memasak Mommy, entah itu mengukus, memanggang dan merebus, semua metode tersebut memungkinkan untuk memasak makanan dalam jumlah besar pada suatu waktu.

2. Haluskan sayur atau buah tersebut dengan alat yang tersedia untuk pureeing atau menghaluskan. Bisa menggunakan blender, grinder, hand grinder dan lainnya.

3. Air yang dihasilkan saat memasak makanan jangan dibuang. Gunakan untuk tambahan cairan saat membuat puree. Penambahan cairan yang dihasilkan dari proses memasak ini juga membantu mempertahankan nutrisi buah atau sayur yang hilang selama memasak.

Catatan: Jangan gunakan airnya jika buah atau sayur yang akan dipuree adalah wortel atau sayuran tinggi nitrat lainnya untuk bayi di bawah usia 7 bulan.

Jika menggunakan blender, bisa jadi Mommy memerlukan tambahan air waktu menghaluskan agar alat bisa bekerja. Nah, disinilah bisa digunakan air ini.

Selain menggunakan air rebusan/kukusan, bisa juga menggunakan air biasa, ASI dan susu formula. Cairan ini akan memberikan sedikit tambahan gizi dan menambah rasa yang akrab bagi bayi.

Mencairkan puree dengan ASI sebaiknya dilakukan setelah proses pureeing atau menghaluskan makanan.

Mau resep Puree yang sederhana namun sehat? Lihat saja artikel-artikel berikut:
Resep Puree ubi jalar
Resep Puree Wortel

Thursday, June 20, 2013

9:51 AM

Makanan Pendamping ASI, Haruskah Bikinan Rumahan?

Makanan pendamping ASI- Sebuah pertanyaan dilematis bagi ibu-ibu yang akan memberikan makanan pendamping ASI buat bayinya. Bagaimana tidak, godaan makanan bayi instant bertebaran dimana-mana. Selain itu, banyak pihak juga lebih menyarankan makanan instant dibanding makanan bayi rumahan. Tidak sebatas keluarga, teman, kerabat bahkan ada juga dokter spesialis anak dan praktisi kesehatan seperti bidan, perawat.

Saya pernah mendengar hal ini ketika berkunjung ke DSA. Perawat yang bertugas menyarankan untuk memberikan makanan instant pada seorang ibu karena pertimbangan kandungan nutrisi pada makanan tersebut lebih komplit dibandingkan makanan buatan rumah. Tidak hanya perawat, beberapa DSA juga seringkali menggunakan bubur instant saat mencontohkan tahapan tekstur makanan yang harus diberikan. Intinya, makanan bayi instant sudah membudaya di masyarakat kita.

Namun belakangan banyak juga kok Mommy yang mencari Panduan untuk Memulai Mpasi Pertama bagi Bayi mulai berpikir ulang untuk memberikan makanan instant. Beberapa komunitas juga sering menyerukan pentingnya Mpasi atau makanan pendamping ASI rumahan buat bayinya. Walaupun mungkin tidak mengurangi seratus persen makanan instant sih.

Selain itu, masyarakat sekarang juga sudah banyak yang tahu bahwa makanan instant itu tidak sehat. Contohnya saja mie instant, banyak pengawet, penyedap atau malah pewarna berlebihan. Lalu bagaimana dengan makanan instant untuk bayi? Yah, kalau dipikir-pikir, embel-embel instant itu dimana-mana sama. Entah di makanan dewasa atau makanan bayi, walau sudah dilabeli dengan tambahan nutrisi, tetap saja namanya instant.

So, saya tentu saja berpendapat bahwa makanan bayi rumahan itu jauh lebih sehat dibandingkan makanan instant. Manfaat dari makanan pendamping ASI rumahan atau buatan sendiri itu sangat besar, diantaranya:

Mommy tahu persis apa yang dimakan oleh bayi.

Terbayang jika bayi kita makan sesuatu yang kita tidak tahu, entah jenisnya, takarannya, kesehatannya atau malah fungsinya? Nah, dengan makanan bayi rumahan, Mommy tidak perlu takut bahwa yang dimakan bayi itu ada “pengisinya”. Selain itu, Mommy bisa memiliki buah, sayur atau bahan lainnya untuk membuat puree, dibandingkan menyerahkan urusan rasa pada pabrik. Memperkenalkan berbagai variasi rasa makanan itu penting loh buat pelajaran makan bayi, terutama untuk menghindari bayi memilih-milih makanan.

Lebih Sehat dan Segar
Mommy bisa memilih sendiri bahan makanan yang akan diberikan, yang pastinya bahan yang segar, sehat, kalau perlu organic bebas residu pestisida.

Menyesuaikan dengan Kebutuhan Bayi
Adakalnya bayi sedang tidak bisa memakan sesuatu, seperti pisang saat sembelit. Nah, dengan makanan bayi rumahan, Mommy bisa menyesuaikan makanan apa yang akan diberikan sehingga memenuhi kebutuhan dan preferensi bayi.

Hemat
Tentu saja lebih hemat. Resep makanan bayi rumahan memerlukan biaya yang lebih sedikit, apalagi porsi bayi juga masih kecil. Jadi Mommy tidak perlu berbelanja khusus, karena bisa mengambil sedikit-sedikit dari bahan makanan orang dewasa. Makanan bayi rumahan juga lebih ekonomis dibandingkan yang instant, walaupun memang sih, harga bukan pertimbangan utama.

Kepuasan Pribadi
Bagian yang paling penting adalah, memberikan menu makanan bayi rumahan memberikan kepuasan tersendiri, bukan hanya bagi Mommy namun juga bayi. Bayi bisa diberikan kesempatan sedini mungkin untuk ikut memakan apapun yang dimakan keluarga, hanya saja dalam bentuk puree.

Khawatir Tidak Punya Cukup Waktu untuk Membuat Makanan bayi Sendiri?
Waktu memang menjadi kendala utama dalam membuat makanan bayi rumahan. Hal ini menjadi kendala, terutama bagi ibu yang bekerja. Jadi ketimbang menghabiskan waktu di dapur dan terlambat kerja, menggunakan makanan bayi yang sudah dikemas dan siap pakai menjadi alternative yang menolong.

Membayangkan menghabiskan waktu di dapur sementara masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan memang menyebalkan. Tapi hey, ini tidak berbicara tentang memasak opor atau makanan lain yang membutuhkan waktu lama. Memasak makanan bayi tidak seperti memasak makanan orang dewasa yang membutuhkan waktu banyak.

Makanan bayi 6 bulan bahkan tidak membutuhkan waktu lama. Hanya membuat bubur beras sebanyak setengah sendok teh tepung. Atau membuat puree buah, cukup hanya mengukus dan memblender. Beberapa buah bahkan tidak perlu dikukus.

Ada beberapa artikel mengenai manajemen waktu untuk working mom saat menyiapkan Mpasi. Selain itu, ada pula metode penyimpanan makanan yang memungkinkan makanan bayi tersebut dibekukan dan kemudian diberikan pada saat dibutuhkan, yang tentunya tidak mengurangi nutrisi dan rasanya. Intinya memasak makanan untuk bayi tidak seharusnya menjadi sebuah tugas, namun KENIKMATAN.

Lalu bagaimana jika Mommy benar-benar tidak punya waktu untuk memasak sendiri makanan bayi dan terpaksa harus memberikan makanan instant? Jennifer Shu, MD, seorang dokter spesialis anak di Atlanta and co-writer buku Heading Home with Your Newborn: From Birth to Reality and Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup, seperti yang dikutip dari webmd.com menyarankan hal berikut ini:

“If you’re really concerned about what your baby’s eating and don’t have the time to make your own baby food, focus your attention on what they’re eating once they begin table foods. It’s really a very short window of time when they are eating purees.”

Intinya jika Mommy peduli dengan apa yang dimakan bayi namun tidak punya waktu untuk membuatkan mereka makanan rumahan, Mommy bisa fokuskas perhatian terhadap apa yang mereka makan ketika mereka memulai makan table food.


Namun janganlan menggunakan saran tersebut sebagai salah satu pembenaran terhadap makanan instant secara terus menerus. Kita juga harus menghargai dan tidak menghakimi mommy yang lebih memilih makanan instant, karena tentu saja ada pertimbangan tersendiri terhadap pilihan itu. Beberapa ibu mengalami masa-masa sulit yang membuat mereka tidak memungkinkan untuk memasak sendiri makanan bayi mereka. Lagi pula, kasih sayang tidak hanya dicurahkan hanya lewat makanan saja, bukan?!

Back to topic deh, untuk membuat makanan pendamping ASI rumahan, sangat sederhana. Hal yang perlu dipersiapkan hanyalah food grinder (alat untuk menghaluskan) dan pilihan cara untuk mengukus makanan. Kenapa harus dikukus? Karena mengukus mempertahankan lebih banyak nutrisi makanan dibandingkan cara lain. Untuk lengkapnya bisa baca di artikel Cara Memasak Makanan Bayi.

Ada banyak produk peralatan untuk membuat makanan bayi di pasar kok. Ada malah produk yang memiliki fungsi kombinasi berupa mengukus, memblender, menghangatkan dan mencairkan. Tapi tak perlu deh membeli peralatan baru untuk itu, gunakan saja peralatan yang ada dan sesuaikan dengan kebutuhan.

Memulai membuat makanan bayi hanya perlu 6 langkah mudah, yaitu:
•    Mulai dengan mencuci tangan dan peralatan.
•    Mencuci dan mengupas bahan makanan seperti sayur dan buah-buahan
•    Panggang, kukus atau masukan ke microwave bahan makanan diatas hingga lembut (mengukus dan memasak dengan microwave mempertahankan lebih banyak nutrisi)
•    Haluskan makanan dalam sebuah food processor (bisa berupa grinder, hand grinder atau blender) dengan sedikit cairan ( bisa berupa air, ASI atau formula). Khusus untuk ASI, lebih baik ditambahkan setelah makanan dihaluskan.
•    Simpan di kulkas atau freezer menggunakan wadah kedap udara.
•    Hangatkan makanan ketika hendak diberikan, pastikan suhunya tidak kepanasan agar mulut bayi tidak melepuh.

Banyak wadah kedap udara dengan ukuran kecil yang cocok untuk menyimpan makanan bayi sesuai porsinya. Atau Mommy juga bisa menggunakan ice cube tray bertutup. Jenisnya banyak kok di pasaran.

Untuk lebih menyederhanakan agar tidak menghabiskan banyak waktu, Mommy bisa kok memberikan bayi makanan yang sama dengan makanan yang dimakan anggota keluarga lainnya. contohnya ketika menu keluarga adalah kentang, Mommy juga bisa memberikan puree kentang buat si bayi. Jadi persiapannya hanya sekali, hanya saja prosesnya dibedakan, untuk si bayi di-puree, untuk keluarga digoreng atau diapain kek, terserah deh….

Sederhana sekali bukan?!

sumber: webmbd.com, 
              homemade-baby-food-recipes.com

Tuesday, June 18, 2013

11:11 AM

Alergi Telur pada Bayi

Alergi Telur saat pemberian Makanan Pendamping ASI - Telur merupakan salah satu sumber makanan penting dalam penyiapan Mpasi untuk bayi. Kandungan nutrisinya yang lengkap, membuat telur menjadi primadona, selain juga harganya murah dan terjangkau. Namun sayangnya tidak semua bayi bisa memanfaatkan telur, karena makanan ini merupakan salah satu dari 8 jenis makanan penyebab alergi makanan pada bayi dan balita. Makanan ini dianjurkan mulai diberikan pada anak umur 8 bulan keatas, dan hanya berupa kuning telurnya saja. Baca artikel: Mengenalkan Kuning Telur ke Bayi Mpasi.

Gejala alergi telur biasanya terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah bayi makan telur atau makanan yang mengandung telur. Tanda dan gejala berkisar dari ringan sampai parah dan dapat mencakup ruam kulit, gatal-gatal, peradangan hidung, dan muntah atau masalah pencernaan lainnya. Alergi telur jarang menyebabkan anafilaksis atau  reaksi yang mengancam jiwa.

Alergi telur dapat terjadi pada bayi. Kebanyakan anak bisa mengatasi alergi telur mereka sebelum masa remaja. Namun dalam beberapa kasus, alergi bisa berlanjut sampai dewasa.

Gejala Alergi Telur
Reaksi alergi telur bervariasi dari orang ke orang dan biasanya terjadi segera setelah terpapar telur. Gejala alergi telur dapat mencakup:
•    Peradangan kulit atau gatal-gatal merupakan gejala yang paling umum dari reaksi alergi telur
•    Peradangan hidung (rhinitis alergi)
•    Gejala pencernaan (gastrointestinal), seperti kram, mual dan muntah
•    Tanda-tanda asma dan gejala seperti batuk, sesak dada atau sesak napas]

Anafilaksis
Reaksi alergi yang parah dapat menyebabkan anafilaksis, keadaan darurat yang mengancam jiwa yang memerlukan epinefrin (adrenalin) ditembak langsung dan perjalanan ke ruang gawat darurat. Tanda-tanda anafilaksis dan gejala termasuk:
•    Penyempitan saluran udara, termasuk tenggorokan bengkak atau benjolan di tenggorokan yang membuatnya sulit untuk bernapas
•    Nyeri perut dan kram
•    Denyut nadi cepat
•    Shock, dengan penurunan tekanan darah berat sehingga merasa pusing, kepala ringan atau kehilangan kesadaran

Jika Mommy atau anak memiliki reaksi terhadap telur, konsultasikan hal ini dengan dokter tidak peduli seberapa ringan kemungkinannya. Tingkat keparahan reaksi alergi telur dapat bervariasi setiap kali kasus alergi terjadi. Ini berarti bahwa bahkan jika Mommy atau anak memiliki reaksi yang  ringan di masa lalu, reaksi berikutnya bisa lebih serius.

Jika dokter berpikir Mommy dan anak berada pada risiko reaksi yang parah, dokter mungkin meresepkan epinephrine darurat yang digunakan jika terjadi anafilaksis. Suntikan ini tersedia dalam sebuah perangkat yang mudah digunakan, disebut autoinjector.

Ketika ke dokter 
Temui dokter jika Mommy atau anak memiliki tanda-tanda atau gejala dari alergi makanan tak lama setelah makan telur atau produk yang mengandung telur. Jika mungkin, lihat dokter ketika reaksi alergi terjadi. Hal ini dapat membantu dalam membuat diagnosis.

Jika Mommy atau anak memiliki tanda dan gejala anafilaksis, bisa melakukan pengobatan darurat dengan menggunakan autoinjector.

Penyebab Alergi Telur

Semua alergi makanan disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi protein telur tertentu sebagai bahan yang berbahaya. Ketika Mommy atau anak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein telur, sel-sel sistem kekebalan tubuh (antibodi) mengenali mereka dan sinyal sistem kekebalan tubuh untuk melepaskan histamin dan bahan kimia lainnya yang menyebabkan tanda-tanda dan gejala alergi.

Kuning telur dan putih telur mengandung protein yang dapat menyebabkan alergi, namun alergi terhadap putih telur merupakan alergi yang paling umum. Bayi ASI juga memungkinkan terkena alergi terhadap protein telur jika ibunya mengkonsumsi telur.

Faktor risiko
Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko yang meningkatkan kemungkinan alergi telur:
•    Atopic dermatitis. Anak-anak dengan jenis reaksi kulit jauh lebih mungkin untuk mengembangkan alergi makanan daripada anak-anak yang tidak memiliki masalah kulit.
•    . Riwayat keluarga anak berada pada peningkatan risiko alergi makanan jika satu atau kedua orang tua memiliki asma, alergi makanan atau jenis lain dari alergi - seperti demam, gatal-gatal atau eksim.
•    Alergi telur berdasarkan usia. Paling sering terjadi pada anak-anak. Ketika anak bertambah tua, sistem pencernaan matang dan reaksi alergi makanan cenderung terjadi.

Komplikasi
Komplikasi yang paling signifikan dari alergi telur adalah memiliki reaksi alergi yang parah yang membutuhkan suntikan epinefrin dan perawatan darurat.
Reaksi sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan alergi telur juga bisa menyebabkan kondisi lain. Jika Mommy atau anak memiliki alergi telur, Mommy atau anak mungkin pada peningkatan risiko:
•    Alergi terhadap makanan lain, seperti susu, kedelai atau kacang
•    Hay demam - reaksi alergi terhadap bulu hewan peliharaan, tungau debu atau serbuk sari rumput
•    Reaksi alergi pada kulit seperti dermatitis atopik
•    Asma, yang pada gilirannya meningkatkan risiko mengalami reaksi alergi yang parah terhadap telur atau makanan lainnya

Perawatan dan obat-obatan
Tidak ada obat atau perawatan lain yang dapat menyembuhkan alergi telur atau mencegah seseorang dengan alergi makanan untuk mengalami reaksi alergi. Satu-satunya cara untuk mencegah gejala alergi telur adalah menghindari telur atau produk telur. Ini memang hal yang sulit, karena telur adalah bahan makanan umum.
Antihistamin untuk mengurangi gejala
Meskipun upaya terbaik adalah mengurangi konsumsi telur, namun kontak dengan telur kadang tidak bisa dihindari. Obat-obatan, seperti antihistamin, dapat mengurangi tanda dan gejala alergi telur ringan. Obat ini dapat digunakan setelah terpapar telur. Tapi, obat ini tidak efektif untuk mencegah reaksi alergi telur atau untuk mengobati reaksi yang parah.

Tembakan epinefrin Darurat
Jika kondisi reaksi alergi sudah pada resiko yang parah, maka mungkin perlu membawa epinephrine injektor darurat (EpiPen, EpiPen Jr, Twinject) setiap saat. Terutama jika anafilaksis setelah paparan telur, maka diperlukan tembakan ini ketika perjalanan ke rumah sakit. Bahkan jika gejala anafilaksis membaik, pasien tetap perlu untuk tetap berada di bawah pengawasan medis untuk jangka waktu untuk memastikan gejala yang parah tidak kembali.

Jika memiliki autoinjector, pastikan alat ini tersedia. Pelajari bagaimana menggunakannya dengan benar. Jika anak Anda memiliki satu, membuat pengasuh yakin telah akses ke sana dan tahu bagaimana menggunakannya. Jika anak Anda sudah cukup besar, pastikan dia juga mengerti bagaimana menggunakannya. Ganti autoinjector sebelum tanggal kedaluwarsa. Jika tidak, mungkin tidak bekerja dengan baik.

Tidak ada obat untuk alergi telur, tapi kebanyakan anak akhirnya akan mengatasi hal itu. Bicarakan dengan dokter anak tentang seberapa sering anak harus diuji untuk melihat apakah telur masih menimbulkan gejala. Hal ini mungkin tahunan, atau pada jadwal lain tergantung pada gejala anak dan rekomendasi dokter

 Pencegahan Alergi Telur

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari reaksi alergi, dan untuk mencegahnya menjadi lebih parah jika terjadi.

•    Tahu apa yang Mommy atau anak makan dan minum. Baca label makanan dengan hati-hati. Selain hati-hati membaca label, berhati-hati ketika makan di luar dan menggunakan produk telur bebas di rumah dapat membantu untuk menghindari reaksi

•    Hati-hati saat makan di luar. Perlu diingat, pelayan atau bahkan juru masak mungkin tidak sepenuhnya yakin tentang apakah makanan mengandung protein telur.

•    Biarkan pengasuh anak tahu tentang alergi telur. Bicaralah dengan pengasuh anak, guru, keluarga atau pengasuh lainnya tentang alergi telur anak sehingga mereka tidak sengaja memberi anak produk yang mengandung telur. Pastikan mereka mengerti apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

•    Jika menyusui, hindari telur. Jika anak memiliki alergi telur, ia mungkin bereaksi terhadap protein susu melewati ASI ibunya.

Gunakan aturan 4 Day Wait Rule ketika memberikan telur pertama kali ke bayi, lihat reaksi bayi. Jika bayi baik-baik saja, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pemberian telur ini. 

Sumber tersembunyi dari produk telur
Sayangnya, bahkan jika makanan yang diberi label bebas telur mungkin masih mengandung beberapa protein telur penyebab alergi. Jika ragu, hubungi produsen untuk memastikan produk tidak mengandung telur.
Beberapa istilah menunjukkan bahwa produk telur telah digunakan dalam pembuatan makanan olahan. Ketentuan yang dapat menunjukkan protein telur ini meliputi:
•    Albumin
•    Globulin
•    Lecithin
•    Livetin
•    Lisozim
•    Simplesse
•    Vitellin
•    Kata dimulai dengan "ovum" atau "ovo," seperti ovalbumin atau ovoglobulin

Orang-orang yang sangat sensitif terhadap protein telur memiliki reaksi ketika mereka menyentuh telur atau produk telur. Produk non-pangan yang terkadang mengandung telur meliputi:
•    Shampo
•    Obat-obatan
•    Kosmetik
•    cat kuku

Vaksinasi dan alergi telur
Beberapa suntikan untuk mencegah penyakit (vaksin) mengandung protein telur. Pada beberapa orang, vaksin ini menimbulkan risiko memicu reaksi alergi.

•    (MMR) Vaksin Campak-gondok umumnya aman untuk anak-anak dengan alergi telur, meskipun telur yang digunakan untuk menghasilkan vaksin tersebut.

•    (Influenza) vaksin flu kadang-kadang mengandung sejumlah kecil protein telur. Namun, vaksin flu yang tidak mengandung protein ini telah disetujui untuk digunakan pada orang dewasa usia 18 dan lebih tua. Dan bahkan vaksin yang memiliki protein telur dapat diberikan dengan aman untuk kebanyakan orang dengan alergi telur tanpa masalah. Jika mommy atau anak memiliki reaksi terhadap telur di masa lalu, berbicara dengan dokter sebelum mendapatkan vaksinasi flu.

•    Vaksin demam kuning dapat memprovokasi reaksi alergi pada beberapa orang yang memiliki alergi telur. Ini diberikan kepada wisatawan yang akan memasuki Negara di mana ada risiko tertular demam kuning. Ini umumnya tidak dianjurkan untuk orang dengan alergi telur, namun kadang-kadang diberikan di bawah pengawasan medis setelah pengujian untuk reaksi.

•    Vaksin rabies juga dapat menyebabkan reaksi pada orang dengan alergi telur. Seperti dengan vaksin demam kuning, vaksin rabies mungkin aman bila diberikan di bawah pengawasan medis setelah pengujian.

•    Vaksin lainnya umumnya tidak berisiko bagi orang yang memiliki alergi telur. Tapi tanyakan dokter hanya untuk menjadi aman. Jika dokter Anda prihatin tentang vaksin, ia mungkin akan melakukan pengujian untuk mengetahui kemungkinan menimbulkan reaksi.

sumber: mayo clinic


Sunday, June 16, 2013

11:31 AM

Alergi Makanan pada Bayi dan Balita

Alergi Makanan pada Bayi - Jika berbicara Mpasi, maka tidak lengkap rasanya jika tidak menyinggung soal alergi makanan pada bayi dan anak. Memang, alergi makanan merupakan salah satu masalah yang bisa dihadapi oleh anak dan bayi. Sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan (adverse reactions), termasuk yang disebabkan oleh reaksi alergi. Sebetulnya semua makanan dapat menimbulkan reaksi alergi, akan tetapi antara satu makanan dengan makanan lain, mempunyai derajat alergenitas yang berbeda. Di Amerika, 1 dari 12 batita mengidap alergi makanan, serta sekitar 150 batita meninggal dunia setiap tahun karenanya. Di seluruh dunia, kasus alergi makanan pada anak meningkat sampai 2 kali lipat selama 10 tahun.

Untuk itulah maka baik jika mengenali alergi makanan tersebut terlebih dahulu, mengingat bahaya sekali jika sembarangan memberikan makanan pada anak, terutama makanan yang merupakan allergen tinggi.
Alergi makanan merupakan suatu reaksi klinis yang tidak diinginkan terhadap makanan secara imunologis. Berbagai jenis manifestasi klinik reaksi hipersensitivitas tipe I menurut Gell dan Coomb diantaranya adalah disebabkan reaksi alergi terhadap makanan.

Tubuh bayi maupun dewasa memiliki antibodi yang disebut IgE, yang merupakan protein pendeteksi zat makanan yang masuk ke dalam tubuh. Ketika zat makanan tertentu yang menyebabkan alergi masuk, antibodi ini akan melepaskan zat-zat seperti histamin.  Nah, inilah yang menyebabkan reaksi alergi, baik ringan maupun berat.

Ada banyak jenis reaksi yang ditimbulkan oleh makanan, dan kebanyakan masayarakat menyimpulkannya sebagai alergi makanan. Padahal tidak. Menurut The American Academy of Allergy and Immunology dan The National Institute of Allergy and Infections Disease, ada tiga jenis reaksi terhadap makanan, yaitu:

1. Adverse food reactions
Suatu istilah umum untuk suatu reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap food allergy (hipersensitivitas) atau food intolerance (Intoleransi makanan).

2. Food Allergy
Istilah untuk suatu hasil reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe I (Gell & Coombs) yang diperani oleh IgE.

3. Food intolerance
Istilah umum untuk semua respons fisiologis yang abnormal terhadap makanan/aditif makanan yang ditelan. Reaksi ini merupakan reaksi non imunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini mungkin disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan seperti kontaminasi toksik (misalnya, histamin pada keracunan ikan, toksin yang disekresi oleh salmonella, shigela, dan campylobacter), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan (misalnya, kafein pada kopi, tiramin pada keju) atau karena kelainan pada pejamu sendiri, seperti gangguan metabolisme (misalnya, defisiensi laktase) maupun suatu respons idiosinkrasi pada pejamu.

Jenis Makanan Pemicu Alergi
Ada 8 jenis makanan yang seringkali penyebab alergi makanan baik pada bayi atau orang dewasa.



•  Telur (ayam, bebek, telur puyuh)
Bagian telur, terutama putih telur, bisa menyebabkan reaksi alergi. Akibat yang ditimbulkan alergi telur biasanya berupa rasa gatal di sekujur tubuh. Kulit tampak kemerahan ataupun bengkak-bengkak.

•  Susu (sapi dan kambing)
Reaksi alergi yang ditimbulkan oleh susu sapi atau kambing bisa berupa diare atau muntah. Bila bayi alergi terhadap susu sapi atau turunannya, maka beberapa penangangan yang dilakukan oleh dokter anak umumnya akan menyarankan makanan yang terbuat dari protein susu sapi yang telah terhidrolisa sehingga tidak menimbulkan alergi pada bayi, atau menyarankan makanan dengan protein dari kedelai.

•  Kacang tanah
Protein nabati yang terdapat dalam kacang tanah termasuk tinggi. Beberapa makanan pendamping ASI yang mengandung kacang tanah dapat menyebabkan rasa gatal pada tubuh bayi, juga munculnya bisul-bisul dengan warna kemerahan pada area tangan dan wajah bayi.

•  Gandum
Alergi karena jenis makanan yang mengandung gandum seperti roti atau sereal, dapat mengakibatkan berbagai gejala alergi seperti gatal-gatal, sesak napas dan mual, termasuk reaksi alergi fatal yang disebut anafilaksis. Bagi bayi dengan alergi gandum, sebaiknya menghindari makanan yang mengandung gluten dan semolina. Sebagai alternatif, Ibu bisa menggunakan beras atau jagung.

•  Kacang kedelai
Alergi kedelai biasanya ditemukan pada bayi yang diberikan susu yang mengandung kedelai. Makanan lain yang mengandung protein kedelai dan dapat menimbulkan gejala alergi pada anak-anak adalah miso soup, saus kedelai, dan makanan yang mengandung minyak kedelai.

•  Kacang
Kacang yang tumbuh di pohon seperti kenari, kacang mede, dan pistasio. Reaksi alergi yang ditimbulkan serupa dengan reaksi alergi pada bayi yang mengonsumsi kacang tanah.

•  Ikan (tuna, salmon, cod)
Ikan dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian bayi.  Oleh karena itu, Ibu sebaiknya jangan dulu memberi ikan pada bayi sebelum usianya mencapai 6 bulan karena masih dalam masa pemberian ASI eksklusif. Setelah usia bayi Ibu mencapai 8 atau 12 bulan, ikan bisa menjadi bagian dari menu yang seimbang.

•  Kerang-kerangan (termasuk lobster, udang, dan kepiting)
Gejala yang ditimbulkannya berupa urtikaria (gatal di kulit), angioedema (bengkak-bengkak), asma atau kombinasi dari beberapa kelainan tersebut. Alergi makanan karena ikan laut paling mudah terdeteksi karena gejala yang ditimbulkan relatif cepat. Biasanya kurang dari 8 jam keluhan alergi sudah bisa dikenali.

Gejala Alergi Makanan pada Anak
Tanda-tanda awal jika bayi atau anak memiliki alergi terhadap makanan tertentu, seperti berikut:

•    Perut bayi membesar (kembung), pupnya lebih cair atau mencret, dan buang air lebih sering dari biasanya, tetapi tidak disertai lendir atau darah.
•    Bayi lebih rewel karena rasa tidak nyaman pada organ pencernaannya.
•    Gatal, biduran, atau eksim pada kulit.
•    Batuk.
•    Muntah.
•    Nafas tersengal-sengal.
•    Bibir dan tenggorokan bengkak.
•    Mata bayi tampak merah dan berair.

Gejala-gejala awal seperti gatal-gatal, bengkak, atau kesulitan bernafas pada bayi biasanya muncul hingga dua jam setelah zat penyebab alergi dari makanan tertentu masuk ke dalam tubuh.  Perhatikan bayi Ibu ketika tanda-tanda awal ini terlihat, karena pada beberapa kasus alergi makanan pada bayi, hal ini dapat berlanjut menjadi sangat parah bila tidak segera ditangani.

Dalam beberapa kasus juga ditemukan gejala alergi pada pencernaan seperti muntah atau diare yang kronis dan diderita cukup lama oleh bayi hingga menimbulkan eksim pada kulit. Eksim adalah area kering pada kulit yang tampak seperti bercak kemerahan dan bersisik, yang muncul pada wajah, lengan, hingga area kaki bayi, namun tidak pada area popok.

Ada juga kasus dimana reaksi alergi karena makanan muncul pada bayi, walaupun makanan tersebut pernah diberikan kepada bayi sebelumnya dan tidak ada masalah alergi apapun. Jadi, bayi yang memiliki ataupun memiliki potensi alergi terhadap telur, misalnya, mungkin tidak akan menunjukkan reaksi alergi tertentu saat pertama kali mengonsumsi telur, namun setelah beberapa kali mengonsumsi, baru tampak gejala reaksinya.

Pengobatan dan pencegahan alergi makanan
Pengobatan yang paling penting pada alergi makanan ialah eliminasi terhadap makanan yang bersifat alergen. Terapi eliminasi ini seperti umumnya pengobatan lain mempunyai efek samping. Eliminasi yang ketat pada sejumlah besar jenis makanan, dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan malnutrisi atau kesulitan makan pada anak.

Umumnya alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu kecuali alergi terhadap kacang tanah dan sejenisnya serta hidangan laut. Dilaporkan bahwa anak yang menderita alergi makanan akan mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan sekitar 25%, sedangkan pada usia dewasa akan mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan selamanya. Dengan terapi diet yang ketat terhadap makanan alergen dalam beberapa tahun, alergi makanan dapat saja menghilang, akan tetapi bukan tidak mungkin akan timbul masalah malnutrisi atau gangguan makan yang lain. Oleh karena itu di upayakan untuk memberi makanan pengganti yang tepat.

Beberapa terhadap makanan seperti antihistamin, H1 dan H2, ketotifen, kortikosteroid serta inhibitor sistetase prostaglandin. Secara keseluruhan, pemberian obat obat ini dapat mengendalikan gejala, akan tetapi umumnya mempunyai efisiensi yang rendah. Penggunaan natrium kromoglikat peroral banyak diteliti, tetapi hasilnya masih bertentangan. Pemberian imunoterapi pada alergi makanan belum jelas hasilnya. Sampai sekarang belum ada studi yang memadai untuk membuktikan hasil imunoterapi pada alergi makanan.
Secara umum, ada 3 tahap pencegahan terjadinya penyakit alergi yaitu pencegahan primer (sebelum terjadi sensitisasi), pencegahan sekunder (sudah terjadi sensitisasi tetapi belum terjadi penyakit alergi) serta pencegahan tersier (sudah terjadi penyakit alergi misalnya dermatitis, tetapi belum terjadi penyakit alergi lain misalnya asma). Pencegahan primer dilakukan dengan diet penghindaran makanan hiperalergenik sejak trimester kehamilan. Sayangnya pada pencegahan primer ini belum ada cara yang tepat untuk menilai keberhasilannya. Pencegahan sekunder dilakukan dengan penentuan dan penghindaran jenis makanan yang menyebabkan penyakit alergi. Pencegahan tersier biasanya ditambah dengan penggunaan obat seperti misalnya pemberian setirizin pada dermatitis atopik untuk mencegah terjadinya asma di kemudian hari.

Pemberian ASI ekslusif dilaporkan, dapat mencegah penyakit atopik serta alergi makanan. Akan tetapi para ahli alergi masih memperdebatkan efektifitasnya. Walaupun demikian sebagian besar peneliti berpendapat bahwa dengan melakukan penghindaran makanan alergen pada ibu hamil dan menyusui serta pada bayi usia dini dengan resiko tinggi terjadinya penyakit atopik, ternyata dapat bermanfaat mencegah terjadinya alergi makanan/penyakit atopik dikemudian hari. Pendekatan moderen secara nutrisi misalnya dengan pemberian fraksi peptida dari protein spesifik yang ditoleransi usus misalnya pemberian formula susu hipoalergenik atau penggunaan komponen spesifik makanan sehari-hari seperti asam lemak dan antioksidan untuk mencegah terjadinya sensitisasi pada anak yang mempunyai risiko alergi. Pemberian probiotik dapat diberikan sebagai imunomodulator untuk merangsang sel limfosit Th1 pada anak yang mempunyai bakat alergi.

Pencegahan yang paling penting adalah dengan menelusuri  ada atau tidaknya riwayat alergi dalam keluarga. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap alergi, semakin besar pula risiko anak Anda menderita hal serupa.Selain itu, untuk memantau adanya reaksi alergi, Mommy bisa menerapkan aturan 4 Day wait Rule atau 4DR kepada bayi.

Ada 3 penyebab dari alergi makanan, yakni riwayat genetik, adanya ketidakmatangan saluran pencernaan, dan paparan makanan yang bersifat alergen terlalu dini. Catatan: Kedua penyebab pertama tersebut akan membaik ketika anak berusia 2-7 tahun.

Strategi lain untuk menghindari alergi adalah menunda pemberian makanan padat hingga si kecil berusia 6 bulan. Penelitian menemukan, hal ini terbukti bisa mengurangi risiko anak terserang alergi makanan. Bagi ibu menyusui, meski sejumlah penelitian menyatakan tingkat efektivitasnya tidak terlalu besar, mengurangi asupan makanan yang bersifat alergen dari menu sehari-hari bisa membantu menjauhkan anak dari paparan makanan alergen.


sumber: IDAI, parenting.co.id, bebeclub.co.id, wholesomebabyfood.com

Friday, June 7, 2013

11:14 AM

6 Manfaat Kesehatan Lactobacteria

Manfaat probiotik Lactobacteria-Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sharing mommy di milis bahwa salah satu anak kenalannya disarankan untuk mengkonsumsi Yakult untuk menambah berat badan. Setelah itu, saat si Cuta sakit dan konsultasi ke dokter, Bapaknya bertanya pada DSA tentang probiotik. Hasilnya, memang nyambung. Bahwa probiotik memiliki manfaat yang bagus untuk usus dan kesehatan anak dan juga orang dewasa.

Semenjak itu, saya rutin memberikan probiotik kepada Cuta. Probiotik mengandung bakteri baik, yang membantu pencernana. Pilihan saya adalah Yakult (itung-itung berharap berat badannya naik hihihi). Yakult, selain murah, juga praktis. Namun tentunya dosisnya terbatas, maksimal 1 botol sehari. Rasanya yang enak, membuat si Cuta sangat doyan.

Kemudian saya bertemu dengan label salah satu merk yogurt dan surprise karena ada kandungan probiotiknya. Lebih surprise lagi ketika nyatanya si Cuta doyannnn sekali dengan yogurt. Mengingat umurnya sudah lewat setahun, saya memberi yogurt yang ada rasanya sih.

Hasilnya, walau tidak jelas apakah ini memang dari probiotik atau suplemen vitaminnya, staminanya bertambah. Walau kaki gempor karena harus mengikuti kemanapun ia lari, namun secara umum, sekeluarga mengaku bahwa Cuta lebih sehat.

Kebetulan tadi saya sempat browsing tentang Mainan Edukatif, lalu ketemu dengan sebuah artikel menarik. Manfaat kesehatan Lactobackteria yang terkandung di dalam probiotik tersebut. Jadi daripada artikelnya lenyap dari ingatan, saya sharing saja disini. Sumbernya dari askdrsears.com.

Bakteri sehat berada dalam usus semua orang, dan sebagai imbalan atas makanan dan tempat yang hangat untuk hidup mereka, bakteri tersebut memberikan kontribusi untuk kesehatan kita. Salah satu penduduk bakteri yang paling ramah di usus adalah keluarga lactobacteria, disebut demikian karena kelompok ini berkembang biak pada laktosa gula. Jenis bakteri ini biasanya dibaca dalam label berupa L.acidophilus, yang berarti "acid-loving," karena organisme ini tumbuh baik dalam lingkungan usus yang asam.

Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan bakteri sehat ini untuk tubuh:

Memperbaiki pencernaan. Lactobacteria, seperti namanya, membantu mencerna laktosa dalam produk susu, mencegah kelebihan laktosa, dan mengurangi masalah dengan intoleransi laktosa. Lactobacteria juga membantu penyerapan nutrisi yang berharga dan merangsang peristaltik, gerakan makanan melalui usus yang mengarah ke gerakan usus besar.

Memproduksi vitamin. Seperti tanah subur yang menumbuhkan makanan kaya vitamin, lactobacteria menghasilkan vitamin B-kompleks, selain itu juga vitamin K.

Memproduksi Nutrisi. Bakteri ramah ini membantu memproduksi asam lemak esensial yang disebut asam lemak rantai pendek (ALRP). Ini adalah nutrisi yang berharga untuk sel usus dan juga menghasilkan zat pelawan kanker.

Meningkatkan kekebalan tubuh. Lactobacteria menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya dan jamur, seperti kandida (ragi). Bakteri ini membantu menjaga asam lingkungan pada usus dan melawan bakteri berbahaya dan racun dihasilkan oleh bakteri berbahaya tersebut. Lactobacteria bahkan menghasilkan hidrogen peroksida, yang memiliki efek antibiotik alami.

Melindungi terhadap karsinogen. Potensi mengikat karsinogen yang dimiliki oleh Lactobacteria mampu mencegah zat karsinogen tersebut merusak sel-sel. L.bulgaricus, lactobacillus utama yang digunakan dalam yogurt, memiliki sifat anti-tumor. Secara khusus, lactobacteria mengikat logam berat dan asam empedu, yang berpotensi karsinogen. Bakteri ini menghambat pertumbuhan bakteri penghasil nitrat (nitrat dapat menjadi karsinogen). Mereka juga memetabolisme flavanoids, memproduksi zat anti-tumor alami.

Melindungi terhadap penyakit kardiovaskular. Bantuan Lactobacteria mengatur kadar kolesterol dan tryglyceride dalam darah.

Karena bekerja di usus, sepertinya bakteri ini juga bisa dimanfaatkan untuk melawan sembelit atau kondisi dimana anak sulit BAB. Tapi tentunya hanya untuk bayi umur-umur tertentu. Untuk anak diatas setahun, Yakult bisa membantu.

Upss.. dari tadi sebut merk terus. Saya bukan agen produk itu loh, suer!

Tuesday, June 4, 2013

2:01 PM

Daya Tahan Daging, Telur dan Olahannya di Kulkas

Berapa lama daya tahan daging jika disimpan di kulkas? Ini merupakan pertanyaan umum dalam dunia masak-memasak, tidak hanya memasak makanan bayi atau Mpasi ya. Terlebih memasak Mpasi sih, kan perut bayi itu masih rentan. Takutnya kalau bahan makanan sehat yang satu ini terlalu lama dikulkas, walau sudah dimasak tetap mengandung bakteri berbahaya. Nah untuk itu, saya nemu nih panduan (sumber: The US Department of Health and Human Services) tentang berapa lama sih daya tahan daging di kulkas? (kalau diluar kulkas sehari juga udah bau!)

Daging Unggas mentah berlangsung hanya satu atau dua hari di lemari es (pada suhu 40 derajat Fahrenheit atau lebih dingin). Tapi daya tahan daging unggas seperti ayam, burung bisa sampai satu tahun di dalam freezer. Daging unggas yang sudah dimasak dapat bertahan beberapa hari di kulkas dan harus dibekukan tidak lebih dari 2-6 bulan.

Daging merah dan babi dapat tetap di kulkas hingga 5 hari dan dapat dibekukan selama 4-12 bulan. Sisa daging yang sudah dimasak akan bertahan 3-4 hari dalam kulkas dan 2-6 bulan di dalam freezer.
Daging giling (sapi, sapi, babi, atau unggas) dapat bertahan selama 1-2 hari di kulkas dan bertahan selama 3-4 bulan jika dibekukan.

Lunchmeats dan hot dog akan bertahan dua minggu di kulkas selama kemasan belum dibuka dan harus dimakan dalam waktu 3-5 hari setelah kemasan dibuka. Dalam freezer, daging jenis ini akan bertahan selama 1-2 bulan.

Bacon aman dikonsumsi hingga satu minggu di lemari es-tapi sosis mentah harus dimakan dalam waktu dua hari. Keduanya dapat dibekukan selama satu bulan, dan beberapa sosis akan bertahan dalam kondisi beku lebih lama (sekitar 2 bulan)


Telur bisa tahan hingga satu bulan dalam keadaan mentah tapi tidak lebih dari seminggu jika sudah direbus. Hanya putih telur atau telur kocok (kuning dan putihnya) harus dibekukan (yaitu, bukan telur utuh), dan akan bertahan selama satu tahun. Pengganti telur dan putih dan kuning telur yang sudah dipisahkan harus dimakan dalam waktu 2-4 hari.

Deli salad (ayam, tuna, telur, pasta, dll) akan bertahan 3-5 hari di lemari es dan tidak boleh dibekukan.