Monday, December 16, 2013

9:00 AM

Berapa Banyak Garam yang Dibutuhkan Bayi dan Anak-anak?

Makanan bayi - Garam merupakan salah satu makanan yang tidak boleh dikonsumsi bayi di bawah satu tahun. Bayi di atas setahun dan anak-anak hanya perlu garam dengan jumlah yang sangat kecil dalam makanan mereka.  Namun, karena garam selalu ditambahkan ke banyak makanan yang biasa mommy beli, seperti roti, kacang panggang, dan bahkan biskuit, sehingga mudah bagi bayi untuk mengkonsumsi lebih banyak garam dibandingkan yang mereka dibutuhkan.

Diambil dari nhs.uk, berikut jumlah maksimum pemberian garam yang disarankan untuk bayi dan anak-anak adalah:

•    sampai 12 bulan - kurang dari 1g garam sehari (kurang dari 0.4g sodium)
•    1 sampai 3 tahun - 2g garam sehari (0.8g sodium)
•    4 sampai 6 tahun - 3g garam sehari (1.2g sodium)
•    7 sampai 10 tahun - 5g garam sehari (2g sodium)
•    11 tahun ke atas - garam 6g sehari (2.4g natrium)

Bayi ASI mendapatkan jumlah garam yang tepat lewat ASI. Susu formula bayi juga mengandung jumlah garam yang sama dengan ASI.



Ketika Mommy mulai memperkenalkan makanan padat, ingat untuk tidak menambahkan garam ke makanan mereka karena ginjal mereka tidak bisa mengatasinya. Mommy juga harus menghindari memberikan bayi makanan siap saji yang tidak dibuat khusus untuk bayi, seperti sereal sarapan, karena bisa mengandung garam yang tinggi.

Banyak makanan yang diproduksi untuk anak-anak mengandung tingkat garam yang tinggi sehingga penting untuk memeriksa informasi gizi sebelum membelinya. Kandungan garam biasanya diberikan sebagai angka untuk natrium. Sebagai panduan kasar, makanan yang mengandung lebih dari 0.6g sodium per 100g dianggap tinggi garam. Mommy bisa menghitung jumlah garam dalam makanan dengan mengalikan jumlah natrium dengan angka sebesar 2,5. Sebagai contoh, natrium 1g per 100g adalah sama dengan garam 2.5g per 100g.

Mommy dapat mengurangi jumlah garam anak dengan menghindari snack asin, seperti keripik dan biskuit, dan ganti dengan makanan ringan rendah garam sebagai gantinya. Coba pilihan sehat, seperti buah kering, potongan sayuran mentah dan buah cincang,

Wednesday, December 11, 2013

9:08 AM

Makanan yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bayi

Makanan Bayi - Bagi bayi Mpasi, ada beberapa makanan yang harus dihindarkan. Mungkin beberapa jenis makanan ini sudah ada di beberapa artikel-artikel yang lain, namun kini saya jadikan satu, seperti yang dimuat di website nhs.uk.

Beberapa makanan ini diantaranya adalah:

Garam
Bayi tidak boleh makan banyak garam karena tidak baik untuk ginjal mereka. Jangan menambahkan garam ke makanan bayi. Mommy harus mengingat hal ini ketika memasak makanan keluarha jika berencana memberikan makanan yang sama untuk bayi.

Gula
Bayi  tidak membutuhkan gula. Dengan menghindari makanan ringan dan minuman dengan tinggi dula, Mommy akan membantu mencegah kerusakan gigi. Gunakan pisang, ASI atau susu formula yang dihaluskan untuk mempermanis makanan jika diperlukan.
 
Untuk artikel tentang pemberian garam dan gula, bisa dilihat di artikel Penambahan Gula dan Garam pada Makanan Bayi


Madu
Kadang-kadang, madu mengandung bakteri yang dapat menghasilkan racun dalam usus bayi, yang menyebabkan botulisme pada bayi, yang merupakan penyakit yang sangat serius. Sebaiknya jangan memberikan madu pad abayi hingga mereka berumur satu tahun. Madu adalah gula, sehingga menghindari makanan ini juga akan membantu untuk mencegah kerusakan gigi.
 
Kacang-kacangan
Kacang secara keseluruhan keseluruhan, termasuk kacang tanah, tidak boleh diberikan kepada anak-anak balita karena bisa menyebabkan tersedak. Selama tidak ada riwayat alergi makanan atau alergi lain dalam keluarga, Mommy bisa memberikan kacang begitu bayi berumur enam bulan asalkan kacang dihancurkan atau ditumbuh menjadi selai.


Makanan "Rendah lemak"
Lemak merupakan sumber kalori penting dan beberapa vitamin untuk bayi dan anak-anak. Lebih baik untuk bayi dan anak-anak di bawah dua tahun mengkonsumsi susu penuh lemak, yoghurt dan keju daripada varietas rendah lemak.
 
Lemak jenuh
Jangan memberikan anak terlalu banyak makanan mengandung lemak jenuh seperti  keripik, burger murah dan kue.
 
Hiu, ikan todak dan marlin
Jangan berikan bayi Mommy makanan laut dari ikan hiu, ikan todak atau marlin. Jumlah merkuri dalam ikan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan sistem saraf bayi.
 
Kerang mentah
Kerang mentah dapat meningkatkan risiko keracunan makanan, jadi biarpun proteinnya tinggi, sangat dianjurkan untuk tidak memberikannya pada bayi.

Telur mentah dan Setengah matang
Telur dapat diberikan kepada bayi selama enam bulan, tapi pastikan bahan ini dimasak sampai kedua putih dan kuning telur yang padat. Baca Tips Merebus Telur

Wednesday, November 20, 2013

11:09 AM

Perlukah Mengupas Buah dan Sayur untuk Makanan Bayi?

Perlukah kita mengupas buah dan sayur yang akan dipakai untuk makanan bayi? Iyak, pertanyaan ini seringkali kita dengar di kalangan mommy yang sedang ber-Mpasi. Untuk itu, saya menemukan sebuah artikel berguna untuk menjawab pertanyaan ini. Artikelnya saya ambil dari homemade-baby-food-recipes.com.

Ada beberapa alasan mengapa mommy mungkin ingin mempertimbangkan untuk mengupas buah dan sayuran untuk makanan bayi.
•    Untuk membuat buah dan sayur tersebut lebih mudah dicerna bayi.
•    Karena rasa kulitnya mungkin tidak sesuai dengan selera bayi.
•    Untuk mencegah tersedak.
•    Untuk menghindari tambahan lilin yang masuk ke tubuh bayi
•    Untuk menghapus residu pestisida.

Dapatkah bayi mencerna kulit?
Seperti banyak aspek gizi pada bayi, ini tergantung pada individu.
Dalam beberapa kasus, mengkonsumsi makananberkulit dapat menyebabkan perut bermasalah. Selain itu, buah atau sayuran berkulit juga bisa memicu reaksi alergi pada bayi yang sensitif, karena potensi alergi dari beberapa makanan (termasuk apel dan pear) lebih tinggi di kulitnya daripada daging buah.

Namun banyak bayi tidak mengalami masalah saat mengkonsumsi kulit buah dan sayuran.

Saran dari artikel tersebut adalah untuk hati-hati dengan memantau reaksi bayi terhadap makanan baik dengan dan tanpa kulitnya. Jadi, ketika mommy pertama kali memperkenalkan buah atau sayuran baru untuk bayi, kupas sebelum mommy memasak atau menyajikan.

Setelah mommy yakin bahwa makanan setuju dengan bayi Anda, maka bisa dicoba untuk memasaknya tanpa dikupas. Selama mommy tidak memperkenalkan makanan baru lainnya pada saat yang sama, maka mommy akan dengan mudah memantau apakah makan sayur atau buah berkulit menimbulkan masalah pada bayi.

Penting: Jika mommy memilih untuk memperkenalkan makanan padat untuk bayi sebelum usia yang direkomendasikan dari 6 bulan, maka disarankan untuk mengupas semua buah-buahan dan sayuran sebelum dimasak.





Beberapa bayi tidak menyukai rasa buah atau sayuran berkulit

Para bayi lucu tersebut mungkin merasa buah berkulit terlalu kuat atau pahit, sehingga mommy harus menyiapkan makanan baru.

Mommy bisa mencoba di lain waktu jika ingin memberikan buah dan sayur berkulit.

Apakah buah kulit menimbulkan bahaya tersedak?

Mengupas buah dan sayuran untuk bayi bisa meminimalkan risiko tersedak. Jika mommy menghaluskan produk yang tidak dikupas, tekstur yang didapatkan tidak akan terlalu halus karena masih ada potongan-potongan kecil kulit buah. Untuk bayi yang masih muda, hal ini bisa memicu terjadinya tersedak.

Untuk itu, sangat disarankan untuk mengupas kulit bagi bayi muda dan memastikan puree benar-benar halus untuk menghindari bahaya tersedak. Hingga mommy yakin bahwa bayi sudah bisa mengunyah dengan baik, buah juga harus dikupas jika diberikan sebagai finger food.

Lilin pada Sayuran dan buah-buahan

Banyak buah-buahan dan sayuran dilapisi lilin (waxing) untuk menjaga kesegaran dan membuatnya terlihat menarik.

Berbagai lilin yang digunakan, termasuk lilin lebah, lilin carnauba, lak dan minyak yang food grade namun berbasis lilin. Kadang-kadang, resin sintetis dan fungisida dapat ditambahkan ke lilin tersebut.
Meskipun waxing disetujui oleh FDA , namun lebih baik untuk menghindarkan lilin pada makanan bayi dan melindungi mereka dari aditif sintetis yang mungkin bermasalah dengan pencernaan.
Wax tidak mudah dihilangkan dengan mencuci sehingga pilihan terbaik untuk menghilangkannya adalah dengan mengupas lapisan tipis kulit untuk menghilangkan lapisan lilin namun tetap menjaga nutrisi yang ada dibawah kulit.

Beberapa produk yang paling umum mengalmi wax  adalah apel, pear, serta beberapa item yang membutuhkan pendistribusian yang panjang dan lama.
Produsen diwajibkan oleh FDA untuk memberi label buah wax dan sayuran, menunjukkan jenis lilin telah digunakan.

Tapi untuk memastikan menghindari lilin sama sekali, mommy bisa membeli produk organik. Buah-buahan dan sayuran organik jarang di-waxing dan jika diwax biasanya menggunakan lilin alami seperti lilin carnauba, yang berasal dari daun pohon palem.

Residu pestisida pada buah dan sayuran bayi Anda

Iya, seperti yang telah dimuat dalam daftar bahan makanan yang terkontaminasi pestisida, semua itu memang mengerikan. Banyak kulit buah dan sayur mengandung pestisida berbahaya. Pestisida diyakini berkontribusi terhadap masalah perilaku, kesulitan belajar dan masalah kesehatan yang serius. Bayi, yang tubuhnya kecil mudah menyerap pestisida, sangat rentan.

Mengupas buah-buahan dan sayuran untuk menghilangkan residu pestisida

Mengupas buah-buahan dan sayuran adalah tindakan pencegahan paling jelas terhadap residu pestisida ini. Bahkan eberapa ahli mengklaim bahwa hingga 99% dari residu pestisida dapat dihilangkan dengan cara ini. Menurut Environmental Protection Agency (EPA), residu pestisida pada umumnya tetap pada kulit item produk dan tidak menembus ke dalam makanan. Rekomendasi keamanan pangan dari FDA juga mencakup menghilangkan daun luar produk seperti selada dan kubis

Apakah mengupas buah dan sayur bayi akan mengurangi nilai gizinya?

Untuk batas tertentu, iya! Vitamin, serat dan nutrisi lainnya memang kebanyakan terkonsnetrasi di kulit buah atau sayur, sehingga diperlukan. Namun mommy juga harus ingat bahwa pestisida juga begitu!
 
Jadi apa alternatifnya?

FDA dan Food Standards Agency di Inggris menyarankan mencuci produk sebagai alternatif untuk mengupas.

Jika mommy memilih untuk melakukan mencuci maka mommy harus mencuci dan menggosok item secara menyeluruh di bawah air hangat mengalir (air hangat menghilangkan residu pestisida lebih efisien daripada dingin). Ada khusus sabun khusus untuk mencuci produk sayur dan buah, jangan menggunakan sabun biasa karena akan menyebabkan masalah kesehatan bagi bayi.
Rendam buah halus seperti stroberi dengan sbaun dan kemudian bilas. Produk seperti ini susah digosok bersih.

Monday, November 18, 2013

12:51 PM

Vitamin C pada Makanan Bayi - Tips dan Info

Vitamin C pada makanan bayi - Vitamin C sangat penting untuk pertumbuhan bayi dan digunakan dalam banyak fungsi tubuh, termasuk pertumbuhan jaringan, penyembuhan setelah luka dan perlindungan terhadap flu biasa!

Vitamin ini juga merupakan anti-oksidan yang penting, yang berarti bahwa itu membantu melindungi tubuh terhadap penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan arthritis.

Terlebih lagi, vitamin C membantu bayi Anda dalam menyerap zat besi dan kalsium dari makanan. Inilah sebabnya mengapa menawarkan sepotong buah setiap kali makan.

Kekurangan vitamin C - yang sebenarnya jarang terjadi di negara maju - dapat menyebabkan kondisi yang disebut penyakit kudis, gejala yang meliputi nyeri di sendi, kelelahan, perdarahan atau gusi meradang dan pada bayi berupa masalah dengan pertumbuhan.

Sejarah memberitahu kita bahwa pelaut Inggris sering mengembangkan penyakit kudis karena mereka kekurangan buah atau sayuran dalam diet mereka selama perjalanan panjang. Hubungan antara kurangnya produk segar dan perkembangan penyakit kudis telah dicatat oleh Dr James Lind pada tahun 1747, sehingga kapal kemudian mulai berlayar dengan kargo tambahan jeruk nipis untuk menjaga kadar vitamin C para pelaut.

Berapa banyak vitamin C yang diperlukan bayi ?

Tidak seperti banyak mamalia lain, manusia tidak dapat membuat sendiri vitamin C. Kita perlu mendapatkan pasokan terus menerus dari makanan.

Untuk tahun pertama bayi, kebutuhan vitamin C terpenuhi oleh susunya, tetapi ketika waktunya diberikan Mpasi sebagau sumber gizi utamanya, maka bayi harus mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C setiap hari. 

Poin penting untuk diingat adalah bahwa - karena tubuh tidak dapat menyimpan vitamin C - tidak ada manfaat dalam memberikan sejumlah besar makanan yang kaya vitamin C dalam sekali makan. Sebaliknya, kita harus memberikan satu jumlah kecil makanan yang kaya vitamin C secara teratur.
Informasi berikut ini dari Linus Pauling Institute , menunjukkan Recommended Dietary Allowance (RDA) untuk vitamin C untuk bayi dan anak-anak ...

Life Stage         Usia        Pria (mg / hari)     Wanita (mg / hari)
Bayi               0-6 bulan     40 * (AI)                 40 * (AI)
Bayi             7-12 bulan     50 (AI)                    50 (AI)
Anak-anak     1-3 tahun     15                            15

* AI - asupan yang memadai. Didirikan oleh Dewan Pangan dan Gizi dari US Institute of Medicine, AI adalah nilai asupan yang disarankan berdasarkan perkiraan  atau ditentukan secara eksperimental asupan gizi oleh sekelompok orang sehat yang dianggap memadai. AI yang dibuat saat RDA tidak dapat ditentukan.


Apakah bayi saya membutuhkan suplemen vitamin C?

Tidak ada yang mengalahkan buah dan sayuran segar sebagai sumber bio-available (mudah diserap) vitamin C. Setelah makanna padat menjadi sumber nutrisi utama si kecil, berilah dia makanan sehat, seimbang dengan banyak sayuran dan buah agar memenuhi kebutuhan vitamin C nya, tanpa perlu tambahan vitamin sintetis.
Sebagai contoh, beberapa dokter anak akan merekomendasikan suplemen vitamin untuk bayi yang lahir prematur, atau bayi dengan kondisi medis. Suplemen vitamin juga mungkin diperlukan untuk bayi yang lebih tua yang 'picky eaters' - mungkin menolak buah-buahan dan sayuran dan tidak lagi cukup mengkonsumsi ASI atau susu formula untuk mendukung kebutuhan mereka.
Tentu saja, cara terbaik untuk menghindari situasi ini adalah untuk memperkenalkan si kecil untuk berbagai buah-buahan dan sayuran dari awal.

Sumber vitamin C

Semua buah-buahan dan sayuran mengandung vitamin C, tapi sebagian lebih baik daripada yang lain!
Berikut adalah dua kelompok makanan - daftar pertama berisi sumber terbaik vitamin C dan daftar kedua menunjukkan makanan lain yang memiliki kandungan vitamin C sedikit lebih rendah tetapi masih merupakan sumber yang berguna. Beberapa orangtua memilih untuk menghindari atau menunda pengenalan yang ditandai dengan tanda bintang (*) sampai setelah ulang tahun pertama bayi.

Sumber terbaik vitamin C. ..
•    paprika (terutama yang hijau)
•    buah jeruk *
•    buah kiwi *
•    tomat *
•    brokoli
•    sayuran hijau
•    kentang ( manis atau putih)
•    belewar
•    peterseli

Sumber berguna lainnya dari vitamin C. ..
•    bluberi
•    nanas *
•    labu musim dingin
•    raspberry *
•    cranberry *
•    pepaya
•    semangka
•    mangga
•    kubis
•    lobak
•    zucchini / cukini
•    asparagus

Ingat - vitamin C dalam buah utuh yang jauh lebih baik diserap oleh bayi daripada vitamin C dalam jus buah, ditambah itu memberinya lebih banyak serat.

Produk lainnya yang dicap sebagai 'diperkaya dengan vitamin C' tidak bisa menggantikan buah segar dan sayuran!

Apakah memasak mempengaruhi tingkat vitamin C dalam makanan?
Vitamin C larut dalam air - dengan kata lain, larut dalam air. Vitamin ini juga sensitif terhadap cahaya dan panas.

Dalam rangka mempertahankan vitamin C sebanyak mungkin dalam makanan bayi Anda, berikut adalah beberapa panduan sederhana untuk diikuti.

•    Cobalah untuk memastikan bahwa buah-buahan dan sayuran yang dibeli untuk bayi benar-benar segar. Produk yang sudah berada di rak selama berhari-hari telah kehilangan beberapa kandungan vitamin C. Membeli produk lokal terutama dari pasar petani adalah pilihan yang bijak karena tidak perlu waktu lama dalam pendistribusiannya. Jika mommy hanya memiliki akses ke buah dan sayuran yang jelas tidak segar seperti yang seharusnya, membeli produk yang dibekukan atau bahkan kaleng produk mungkin lebih baik. Meskipun beberapa vitamin C hilang selama pengolahan, namun komposisinya mungkin masih lebih baik diabanding produk yang terpapar cahaya dan panas.

•    Carilah produk yang matang atau mematangkan produk sebelum diberikan ke bayi. Buah-buahan dan sayuran yang sudah matang mengandung lebih banyak vitamin C daripada mentah.

•    Menyimpan buah-buahan dan sayuran di tempat yang dingin dan gelap (sebaiknya kulkas!) Untuk meminimalkan kerugian vitamin C.

•    Sajikan buah-buahan dan sayuran untuk bayi dalam kondisi mentah bila memungkinkan. Ini tidak berlaku untuk semua produk, tentu saja, dan mungkin tidak sesuai untuk semua bayi, tergantung pada usia mereka, tahap pembangunan dan sensitivitas.

•    Jika mungkin, cobalah untuk membuat makanan bayi dan memberikannya pada hari yang sama. Pembekuan dan pencairan makanan bayi berkontribusi terhadap hilangnya vitamin. Namun, bagi mommy yang sibuk, membuat makanan bayi sendiri dan menyimpan di freezer jauh lebih baik dibandingkan makanna instan.

•    Cobalah membuat makanan bayi dengan buah-buahan dan sayuran yang tidak dikupas, karena sebagian besar nutrisi disimpan dalam - atau hanya di bawah - kulit. Sekali lagi, ada situasi di mana hal ini mungkin tidak tepat.

•    Masak buah-buahan dan sayuran dalam waktu sesingkat mungkin. Overcooking adalah cara tercepat untuk menghancurkan kandungan vitamin C makanan.

•    Cobalah mengukus buah-buahan dan sayuran daripada merebusnya, vitamin C hilang lebih sedikit dengan cara ini. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa memasak dalam microwave akan mempertahankan vitamin lebih dari mengukus, meskipun masih banyak orang tua memilih untuk tidak menggunakan microwave untuk makanan bayi mereka. Baca Cara Memasak Makanan Bayi.

•    Jika mommy terpaksa merebus sayuran untuk bayi Anda, tambahkan air masak kembali ke dalam makanan bila memungkinkan. Hal ini membuat melarutkan vitamin C yang telah dibubarkan - atau 'tercuci' - ke dalam air.

•    Hindari memasak buah-buahan dan sayuran dalam pot tembaga - ini dipercaya bisa menghancurkan kandungan vitamin C.

•    Apakah Mommy pernah mendengar bahwa menambahkan baking soda ke sayuran saat mendidih akan membantu mempertahankan warna cerah sayuran? Ini juga akan menyebabkan hilangnya nutrisi  jadi jangan lakukan itu! Sayuran yang dimasak dalam waktu sesingkat mungkin akan tetap terlihat cerah pula!

Friday, November 15, 2013

8:30 AM

Resep Bubur Beras Labu Kuning (6 bulan +)

Resep makanan bayi 6 bulan - Sesekali saya ingin posting resep makanan bayi. Apalagi kondisi yang tidak memungkinkan membuat postingan berat yang butuh waktu banyak buat survey artikel. Nah untuk mengiai kekosongan postingan, saya post resep aja deh. Kali ini resepnya nyontek berhubung saya tidak kreatif dalam masak. Resep berikut saya dapat dari kumpulan resep bonus Ayahbunda edisi desember 2005 (seri jadul banget nih).


Resep Bubur Beras Labu Kuning (6 bulan +)
untuk 2 porsi

Bahan:
50 g beras, cuci bersih
50 g labu kuning, potong dadu
500 ml air
25 g hati ayam potong kecil-kecil
25 g tomat, potong kecil kecil
 1 sdm margarin

Cara membuat:
1. Rebus beras bersama air, labu kuning dan hati ayam. aduk aduk hingga setengah matang
2. masukan tomat dan margarin. aduk hingga semua bahan matang.
3. angkat bubur kemudian dinginkan.
4. setelah dingin, masukan ke blender dan haluskan. tuang ke mangkuk bayi, dan siap disuapkan.

info: margarin terbuat dari minyak nabati, umumnya dari kelapa sawit

Monday, October 28, 2013

11:04 AM

Obat Herbal untuk Mengatasi Batuk pada Balita

Kali ini, saya mau share sedikit masalah obat herbal. Pertama kali jadi ibu, saya memang bertekad untuk tidak ketergantungan dengan obat dokter. Maklumlah, begitulah newbie yang belum berpengalaman, mengira semuanya gampang dan mudah diatur. Hingga ketika si cuta tiba tiba sakit, barulah saya kalap. Apalagi sakitnya tidak sembuh sembuh yang mengakibatkan saya terpaksa membawanya ke dokter. Sejak saat itu, saya rasanya parno setiap si kecil sakit, terutama panas. Saking takutnya dia panas, sering saya cek suhu tubuhnya setiap bangun tidur. Pernah ketika ia lewat setahun, ia demam. Begitu paniknya kami, hingga baru paginya panas, sorenya sudah saya ajak ke dokter. Waktu kami berpikir, semakin cepat dibawa ke dokter semakin baik. Padahal, dokter sendiri bukan dewa yang begitu pasien datang langsung tahu penyakitnya apa.

Jadilah obatnya mubasir. Waktu itu dikasi antibiotik, padahal penyebab panasnya adalah virus yang membuatnya demam tinggi hampir empat pulih derajat selama lima hari. Berarti si cuta percuma minum antibiotik. Yah, itulah pengalaman. Pengalaman sekali ternyata tidak bikin jera. Kenapa? Karena baru seminggu sembuh, dia demam tinggi lagi. Ke dokter lagi, antibiotik lagi padahal penyakit yang sebenarnya adalah virus apa itu namanya yang sejenis campak namun lebih ringan. Well, berbekal dua kali antibiotik nyasar itu Lah akhirnya saya mulai berpikir bahwa sakit anak itu sebaiknya jangan panik. Terutama sekali kalau demam. Demam bukanlah penyakit, melainkan gejala sebuah penyakit. Jika demam baru sehari, dokter seberpengalaman apapun belum bisa membuat diagnosis jika tidak disertai batpil. Dulu, cuta demam karena imunisasi saja saya takutnya minta ampun, padahal demamnya paati akan berhenti. Jadi memang ya ketenangan itu perlu banget agar anak tidak malah minum obat secara berlebih. Eh, kok malah ngelantur.


Saya posting hari ini cuman mau share cara ngatasin batuk anak tanpa obat kimiawi alias herbal. Resepnya simple banget, kencur diparut dan diambil airnya. Kalau ga dapat airnya, dicampur dengan dua sdm air lalu saring. Campur dengan sedikit garam dan mulailah cekoki. Yang punya madu, bisa juga ditambahkan. Saya berikan sekali sehari sih. Resep ini saya dapat dari forum TUM alias the urban mama. Saya dua kali praktekan dan berhasil walau tidak seketika. Mungkin khasiat tidak tidak sama untuk batuk yang disebabkan penyakit kronis. Sekian dulu sharingnya ya mom.

Sunday, September 29, 2013

9:46 AM

Pentingnya Interval Waktu 2 jam dalam Pemberian ASI bagi NB

Melenceng sedikit nih dari topik Mpasi, kali ini saya mau sharing masalah pemberian ASI bagi bayi baru lahir. Aha, ceritanya ini pengalaman pribadi yang saya alami ketika menangani newborn baby. Seperti kita tahu, bayi baru lahir rentan dengan yang namanya warna kuning, terutama di bagian-bagian tubuh sekitar mulut, mata, hidung dan juga tubuh lainnya. Salah satu cara untuk mencegah warna kuning yang berbahaya, istilahnya meningkatnya kadar bilirubin pada tubuh bayi adalah dengan memberikan ASI sebanyak mungkin pada bayi. Nah, dengan pengetahuan inilah, akhirnya saya memberikan ASI pada adiknya Acyuta sebanyak yang ia mau.

Terkadang ia minum setiap satu jam. Ngeek nangis dikit, langsung minum. Tidurnya gelisah, langsung kasi ASI. Begitulah kira-kira sekitar satu mingguan lebih. Hingga saya mempunyai pendapat bahwa bayi yang satu ini minumnya super sekali, lebih kuat minum dibanding kakaknya.

Akhirnya sekitar minggu kedua, terjadilah sesuatu itu. Tidurnya tidak nyenyak saat malam. Seringkali terbangun, rewel sedikit, mengangkat kaki seolah mau ngeden, badannya menggeliat dan suara-suara sumbang keluar dari mulutnya.

Awalnya saya kira ia kurang nyaman karena menggunakan popok sekali pakai. Popoknya saya lepas, namun dia masih saja gelisah. Esok malamnya terulang lagi, padahal popok sekali pakainya sudah saya ganti pakai clodi, namun ia masih saja ‘terasa’ kurang nyaman alias suka ngangkat kaki dan ngeden.
Kondisinya semakin tambah parah di minggu-minggu seterusnya. Jika di minggu kedua, dia masih bisa tidur, minggu selanjutnya dia semakin susah tidur. Jika sebelumnya hanya gelisah, kemudian menjadi rewel, menangis hingga wajahnya memerah. Saya tentu saja bingung, ini bayi kenapa, sakit perutkah? Apakah karena beberapa hari belakangan saya makan makanan bersantan?

Beberapa minggu seperti itu, akhirnya saya khawatir. Setiap malam, tepatnya mulai jam 2 hingga pagi, dia selalu terbangun, gelisah, rewel, menangis sambil ngeden-ngeden hingga perutnya kencang dan wajahnya merah. Selain itu, dia mengeluarkan gas terus.  Namun sekalipun gas sudah keluar, kondisinya tidak membaik.

Akhirnya, si adik ‘menabung’ ke dokter spesialis anak. Singkat cerita, keluarlah diagnosis dokternya. Ternyata, semua ini terjadi karena si adik kebanyakan minum. lambungnya belum kosong saat menyusui, sehingga susu dengan volume berlebih tersebut  ‘terpaksa’ mengalir ke usus halus. Usus halus bayi yang belum sempurna belum memadai untuk mengolah makanan sebanyak itu. Salah satu jenis enzim yang berguna untuk mencerna susu (kalau tidak salah laktosa apa itu yang dibilang dokternya) belum mencukupi sehingga susu tidak tercerna secara sempurna.

Kemudian susu-susu itu mengalir ke usus besar. Di usus besar akan difermentasi oleh bakteri yang ada disana dan kemudian lahirlah akar masalahnya, gas yang sangat banyak, yang membuat perut si adik kembung kayak balon.

Biarpun gas sudah keluar lewat kentut, namun volume yang banyak tersebut membuat perut bayi tidak nyaman. Karena itulah, makanya si adik rewel terus.



Kenapa diagnosis ini saya anggap tepat?
Pertama karena dokter langganan Cuta itu adalah konsultas gastrohepatologi atau apalah itu istilahnya, pokoknya ahli masalah per-perut-an. Kedua, si adik kentut-kentut terus. Selain itu, si adik sering muntah atau gumoh, bukan hanya gumoh biasa namun benar-benar muntah hingga keluar lewat hidung. Bahkan belum selesai menyusu, dia sudah muntah. Itu artinya, lambungnya masih penuh. Belum ada tempat kosong untuk menyimpan susu yang ia minum.

Dan juga, yang membuat saya nyengir adalah, beratnya si adik naik dengan drastic. Belum sebulan, kalau tidak salah waktu itu 20 hari, beratnya sudah naik ke angka 5,2 kilo (lahir 3,5). Terbuktilah kalau semua masalah ini karena si adik, eh emaknya rakus ngasih ASI.

Nah, saran dokter untuk masalah ini adalah mulai memberikan ASI secara teratur. Bayi menangis belum tentu karena lapar. Lambung bayi biasanya kosong dalam waktu 1,5 hingga 2 jam. Jadi mulai saat itu, si adik di-diet-in. hanya boleh minum paling cepat 1,5 jam.

Selain itu, dokter juga memberikan resep berupa serbuk yang probiotik untuk meningkatkan fungsi saluran cernanya.

Lalu apakah masalah berhenti begitu saja?

Tidak! Padahal dokter memprediksi, dalam 5 hari kondisinya sudah kembali normal. Ternyata tidak, masalah seperti ini masih berlanjut, namun dengan kondisi yang membaik sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur. Kondisinya mulai normal sekitar umur 1,5 bulan, ketika si adik sudah teratur pup sekali sehari dan bahkan dua kali sehari. Hal ini menandakan kondisi pencernaannya sudah semakin sempurna.

Yah, well… begitulah Mom. Mungkin beberapa orang akan mengatakan ini kolik, saya tidak tahu juga.  Inilah sedikit sharing tentang pentingnya interval 2 jam dalam pemberian ASI. Semoga berguna ya. kalau tidak sekarang, buat newborn baby selanjutnya.

Monday, July 29, 2013

10:54 AM

Gunakan Minyak Zaitun dengan Tepat!

Minyak zaitun biasanya banyak digunakan untuk memasak makanan pendamping ASI bayi. Jenis yang sering ada di resep makanan bayi yaitu minyak zaitun jenis extra light atau ELOO, namun ternyata ada yang harus diperhatikan loh Mommy saat menggunakan minyak zaitun ini.

Salah penggunaan pada makanan bayi bisa membuat nutrisinya hilang. Diambil dari Kompas.com, berikut info penggunaan minyak zaitun yang tepat.

Penggunaan minyak zaitun lebih tepat untuk memasak aneka tumisan karena waktu untuk menumis tak lama. Memasak terlalu lama dengan minyak zaitun menyebabkan minyak rusak dan kehilangan nutrisinya karena terlalu panas.

"Saat minyak terlalu panas, tandanya api naik, mulai berasap, saat inilah minyak pecah. Jika minyak zaitun dipakai memasak dengan cara ini, nutrisinya akan hilang. Karena itu, minyak zaitun cocok untuk menumis, bukan untuk menggoreng ayam misalnya. Selain mahal karena akan memakai minyak dalam jumlah banyak, nutrisi minyak zaitun akan menghilang jika dipakai menggoreng dengan suhu terlalu panas," ungkapnya saat berbuka puasa bersama di Gourmet Kemang, Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Yang juga perlu diperhatikan saat memasak dengan minyak zaitun adalah jenis masakannya. Chef Akbar mengatakan, minyak zaitun kurang tepat jika digunakan untuk makanan tradisional Indonesia. Seperti nasi goreng Jawa, ayam goreng, rendang, ayam kecap misalnya. Namun masih bisa untuk memasak ceplok telur yang tak membutuhkan banyak minyak serta dimasak dalam waktu singkat.



"Memasak nasi goreng dengan minyak zaitun masih bisa tapi nasi goreng putih bukan nasi goreng Jawa yang menggunakan banyak bumbu dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memasaknya," jelasnya.

Selain aneka tumisan, minyak zaitun juga bisa dipakai untuk memasak makanan saos bening atau encer. Lebih sehat lagi jika minyak zaitun dikonsumsi mentah.

"Bisa saja dipakai untuk ayam goreng, tapi bukan untuk menggorengnya,melainkan untuk menyiram ayam goreng yang sudah matang. Minyak zaitun aman dikonsumsi dalam kondisi mentah, justru nutrisinya lebih terserap," tutupnya.

Friday, July 26, 2013

12:37 PM

Menyimpan/Membekukan Makanan Bayi

Penyimpanan Makanan Bayi
Untuk menjaga higienitas dan kebersihan, tentunya setelah disiapkan, makanan bayi harus disimpan dengan benar terutama jika disiapkan jauh sebelum jam makan. Puree sangat rentan dengan bakteri, terutama jika disimpan dalam ruangan terbuka. Menutup saja tentu tidak menjanjikan kebersihannya, untuk itu puree atau makanan bayi yang tidak akan segera dikonsumsi, bagusnya disimpan di kulkas untuk menghindari pertumbuhan bakteri.

Penyimpanan tentu saja menggunakan peralatan makanan bayi yang tepat, yaitu wadah bertutup yang BPA free. Tidak hanya untuk puree saja sih, makanan lain seperti sayur rebus atau bubur juga baiknya disimpan di kulkas. Wadah bertutup bertujuan untuk mengurangi kontaminasi dengan bahan makanan lain di kulkas seperti daging atau sayuran.

Ketika hendak diberikan ke bayi, makanan tersebut bisa dihangatkan. Sangat tidak disarankan untuk menghangatkan kembali di atas kompor karena proses memasak yang berkali-kali bisa mengurangi kandungan nutrisinya. Untuk itu, menghangatkan makanan bayi bisa dilakukan dengan meletakannya di dalam magic jar, magic com atau rice cooker. Peralatan makanan bayi tersebut biasanya disertai saringan untuk mengukus, dan itu bisa dimanfaatkan untuk menghangatkan makanan. Tentunya cek lagi suhu makanan biar suhunya pas.

Cara lebih efektif yaitu dengan menggunakan baby food warmer elektrik. Tapi tentunya harus punya alatnya dan budget lebih hehehehhe. Jadi sesuaikan budget saja.

Makanan yang tidak habis hendaknya jangan disimpan lagi, dibuang saja atau emaknya yang makan. Hehehhee....

Membekukan Makanan Bayi
Cara yang paling efisien untuk menyimpan makanan bayi rumahan untuk jangka waktu yang lebih lama  adalah dengan menggunakan  ice cube tray yang sudah BPA–free. Makanan bayi yang sudah dihaluskan atau pure dimasukan ke ice cub tray dengan menggunakan sendok. Tutup ice cube tray yang sudah berisi makanan bayi tersebut dengan plastik.

Sebelum digunakan, ice cub tray harus benar-benar dibersihkan menggunakan air sabun hangat. Atau jika mau, Mommy juga bisa merebusnya terlebih dahulu untuk sterilisasi.

Setelah itu masukan ice cub tray ke dalam freezer dan bekukan. Setelah beku, keluarkan makanan bayi yang sudah jadi es tersebut dari tray. Mommy bisa memasukannya ke dalam freezer bag, atau menggunakan wadah bertutup yang sudah BPA-free untuk mengurangi kontaminasi dengan bahan makanan lain di freezer. Pastikan memberi label tanggal dengan baik pada wadah, dan kembali letakan pada freezer. Selain label tanggal, pastikan memberi label jenis makanan, sehingga Mommy tidak repot menebak-nebak jika ingin menggunakannya.

Keuntungan membekukan makanan bayi dengan ice cub tray diantaranya adalah masing-masing cube berisi sekitar 1 ons sehingga memudahkan Mommy untuk mengatur berapa cube yang akan diberikan pada bayi. Selain itu, ice cube tray tidak perlu dibeli karena sudah pasti jadi satu paket dengan kulkas. Mommy juga tidak banyak membuang makanan karena porsi cube nya kecil.

 Makanan bayi yang sudah dibekukan ini bisa tahan hingga 3 bulan di dalam freezer. Namun masa penyimpanan hanya tahan 48 jam jika diletakan di chiller atau kulkas bagian bawah.

Tidak dianjurkan untuk membekukan makanan bayi dalam botol kaca atau stoples kaca yang tidak dibuat secara khusus untuk membekukan makanan bayi. Kaca memiliki kemampuan retak yang tinggi sehingga berbahaya.

Jangan membekukan makanan yang sudah pernah beku dan dicairkan karena sangat rentan dengan pertumbuhan bakteri. Lalu bagaimana jika salah satu bahan dari puree tersebut pernah dibekukan dalam keadaan mentah misalnya kacang polong beku? Dari nurturebaby.com dijelaskan bahwa jika bahan itu dibekukan saat masih mentah, lalu dimasak dan dijadikan puree, puree nya bisa dibekukan kembali. 

Bolehkah membekukan makanan yang sudah dicampur dengan ASIP yang sebelumnya sudah pernah dibekukan?

Dari wholesomebabyfood dijelaskan bahwa Mommy seharusnya tidak menggunakan ASIP yang sudah dibekukan untuk membuat makanan bayi yang akan disimpan di freezer. Artinya, ASI yang sudah pernah dibekukan kemudian dicairkan lagi itu, tidak boleh dibekukan kembali, walaupun dalam kondisi tercampur dengan puree. 

Tuesday, July 23, 2013

11:47 AM

Peralatan untuk Menyiapkan Makanan Bayi

Sebagian besar Mommy suka shoping dan mungkin tergoda untuk membeli peralatan untuk membuat makanan pendamping ASI bayi yang mahal, bagus dan juga bervariasi. Padahal jika dilihat-lihat, Mommy mungkin mempunyai hampir semua peralatan yang dibutuhkan di lemari dapur. Namun tetap saja, jiwa shoping bisa mempengaruhi pandangan mata.

Sebagai sedikit gambaran, untuk membuat makanan bayi, Mommy hanya memerlukan peralatan memasak dasar sebagai berikut:

-    Panci
-    Food processor seperti blender, grinder, hand grinder dll
-    Peralatan sederhana seperti pisau, talenan, saringan dll

Tiga peralatan dasar diatas tentunya sudah Mommy punya di dapur. Panci fungsinya untuk memasak makanan bayi baik itu mengukus atau merebus. Food processor fungsinya untuk membuat puree atau menghaluskan makanan bayi. Jika tidak menggunakan yang elektrik, Mommy bisa menggunakan saringan logam atau kawat.

Sementara untuk memberikan dan menyimpan makanan bayi, ada lagi peralatan yang diperlukan. Kira-kira peralatan dasarnya adalah:

-    Piring dan sendok bayi.
-    Wadah kecil bertutup atau cup kecil bertutup ukuran 1-1.5 oz untuk menyimpan makanan bayi.
-    Kulkas, tentunya.
-    Magic jar, magic com atau rice cooker untuk menghangatkan.
-    Ice tray untuk membekukan. Bagusnya jika bertutup. Atau bisa juga menggunakan wadah kecil bertutup seperti point 2.

Rasanya peralatan dasar yang dibutuhkan hanyalah itu. Keempat jenis peralatan itu fungsinya primer, artinya memang harus ada kalau hendak memberikan dan menyimpan makanan bayi.

Piring dan sendok khusus bayi tersedia banyak di supermarket, toko kebutuhan bayi dan juga kebutuhan rumah tangga. Hendaknya tidak menggunakan sendok dari logam karena bisa menyebabkan luka pada gusi bayi yang masih sensitif. Juga jangan menggunakan sendok makan biasa karena mulut bayi kan masih kecil sekali.

Untuk media penyimpanan di kulkas, bisa menggunakan wadah kecil dengan tutup untuk menghindari kontaminasi dengan bahan makanan lain di kulkas. Ukuran yang kecil pas dengan porsi bayi.

Kalau fungsi kulkas jangan ditanya deh, terutama bagi working mom yang tidak bisa menyiapkan makanan semenit sebelum diberikan. Kulkas fungsinya untuk menyimpan sementara atau bahkan menyimpan dalam waktu lama dengan cara dibekukan.

Nah, setelah makanan disimpan di kulkas, saat hendak memberikan harus dihangatkan. Inilah fungsinya magic com, magic jar atau rice cooker. Tinggal taruh makanan bayi di dalamnya (tentunya dengan wadah tahan panas), dan tunggu hingga hangat.

Peralatan dasar diatas rata-rata sudah ada di dapur. Namun sekarang ada banyak pilihan peralatan yang memang khusus dibuat untuk menyiapkan makanan bayi.

Diambil dari file milis Mpasi rumahan, berikut kira-kira peralatan tambahan tersebut:

Homemade Babyfood Maker Set
Fungsi Homemade babyfood maker set: Merupakan satu set alat yang bisa digunakan untuk memeras buah jeruk, menyaring, penggiling/grinder, pemarut dan menghaluskan makanan.



Merk yang direkomendasikan yitu: Pigeon, PEX, PUPU. Variasi harga: berkisar diantara Rp 35.000 hingga 80.000 untuk merk PEX dan PUPU, dan Rp 130.000 hingga 150.000 untuk merk Pigeon.

Baby Food Warmer (elektrik)
Fungsinya sudah pasti untuk menghangatkan makanan bayi. Fungsi yang sebenarnya bisa digantikan dengan magic com, magic jar atau malah rice cooker. Merk yang direkomendasikan adalah Avent, Babylove, Core dengan variasi harga berkisar antara Rp 150.000 s.d 250.000.

Mini Blender, Hand Blender
Namanya saja mini, fungsinya adalah menghaluskan makanan bayi dalam porsi yang lebih mini. Cocok digunakan jika Mommy ingin mempersiapkan alat khusus untuk makanan bayi. Merk yang direkomendasikan adalah Babylove, Pukupuku, Philips dengan variasi harga Rp 200.000 s.d 250.000

Mini Elektric Slow Cooker
Peralatan ini sangat populer di kalangan mommy yang bekerja. Fungsinya adalah memasak makanan bayi baik itu bubur atau nasi tim dengan praktis dan tanpa tenaga. Namanya juga elektrik, Mommy cukup memasukan beras dan air sesuai takaran, sambungkan ke stop kontak listrik, tekan tombol dan bubur akan termasak dengan sendirinya.
Merk yang banyak digunakan adalah Takahi dengan harga yang bervariasi, tergantung lokasi tempat tinggal.

Botol Bersendok


Biasanya dari jenis polypropylene. Berupa botol dengan ujungnya berupa sendok. Praktis jika digunakan untuk menyuapkan makanan semi cair seperti jus atau bubur tepung cair untuk bayi di awal Mpasi. Merk yang direkomendasikan adalah merk Pigeon.

Nah, itu kira-kira peralatan yang dibutuhkan. Kira-kira ada tambahan ga ya?

Monday, July 15, 2013

12:18 PM

Penambahan Gula dan Garam pada Makanan Bayi

Mommy pasti sudah tahu bahwa sebaiknya penambahan gula dan garam dihindarkan pada makanan bayi dibawah satu tahun. Alasannya adalah karena mengingat ginjal bayi perlu kuat untuk mencerna asupan garam dan gula yang berlebih. Namun apakah jawaban itu cukup memuaskan Mommy? Terlebih ketika Mommy sedang konsultasi dengan dokter yang tidak pro Mpasi rumahan?

Saya mengalaminya. Rata-rata, dokter spesialis anak yang saya temui tidak begitu pro dengan Mpasi rumahan. Memang mereka tidak melarang, namun seringkali mengambil contoh makanan instant untuk menunjukan jenis-jenis makanan bayi dan teksturnya. Sehingga boro-boro menanyakan tentang penambahan gula garam, Ilmu Mpasi juga kebanyakan dapat dari artikel-artikel di internet.

Untuk itu, mengenai penambahan gula dan garam ini, saya coba-coba browsing dari media luar. Apakah memang sekedar masalah ginjal saja?


http://everydaylife.globalpost.com

Dalam sebuah studi 2011 yang diterbitkan dalam "Journal of Public Health," peneliti menemukan bahwa 63 persen produk makanan bayi mengandung natrium tinggi atau gula. Olahan makanan bayi sering mengandung garam yang ditambahkan untuk membantu meningkatkan rasa, tekstur dan umur penyimpanan. Sementara konsumsi makanan ini sesekali mungkin tidak akan menyakiti bayi Anda, namun pelanggaran diet makanan bayi secara teratur dan berkepanjangan bisa memiliki dampak merugikan pada masa depan kesehatan bayi.

Diet tinggi garam dan gula tidak baik untuk kesehatan bayi, jadi penting untuk memantau asupan nya. Terlalu banyak garam dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, yang memainkan peran dalam penyakit jantung. Terlalu banyak gula dapat membahayakan gigi bayi dan berkontribusi terhadap perkembangan diabetes. Gula mengandung kalori, sehingga diet kaya gula juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak sehat, yang merupakan faktor dalam berbagai kondisi kesehatan.

Membatasi gula bayi dan asupan garam seharusnya tidak sulit, tetapi kenyataannya makanan bayi instant membuatnya menjadi sulit. Sangat penting untuk membaca label makanan bayi dengan hati-hati sehingga dapat membuat keputusan yang sehat. Pilihan tanpa menambahkan garam atau gula adalah taruhan yang aman, seperti yang dicatat dalam "Journal of Public Health." Asupan garam harian bayi tidak boleh melebihi 370 miligram per hari, asupan gula seharusnya hanya sekitar 100 kalori setiap hari.


http://www.homemade-baby-food-recipes.com
Mengapa terlalu banyak garam berbahaya

Tubuh manusia membutuhkan garam agar dapat berfungsi dengan benar. Garam tidak bisa direproduksi oleh tubuh, sehingga sedikit garam merupakan bagian penting dari diet harian kita.

Tapi persyaratan untuk kebutuhan garam bagi bayi yang sangat kecil (kurang dari 1g per hari sampai usia 12 bulan) - dan kebutuhan ini dipenuhi oleh ASI atau susu formula nya.

Ginjal bayi tidak dilengkapi untuk memproses garam lebih dari jumlah diatas - yang berarti bahwa menambahkan garam pada makanan bayi dapat menyebabkan kerusakan ginjal serius. Bahkan telah ada situasi ekstrim di mana seorang bayi meninggal sebagai akibat dari mengkonsumsi terlalu banyak garam. Seperti yang dilaporkan dari BBC, di mana bayi yang sangat muda (hanya 3 bulan) meninggal setelah diberi makan bubur orang dewasa yang tentu saja, kadar garamnya jauh melebihi kadar garam yang tepat untuk bayi.

Ada juga bukti bahwa mengkonsumsi terlalu banyak garam sejak usia dini dapat menyebabkan tekanan darah tinggi di kemudian hari - terutama pada keluarga dengan riwayat hipertensi.

Jadi sebaiknya makanan bayi menjadi hambar?

Nah, Anda mungkin menemukan makanan hambar jika dimasak tanpa garam, karena langit-langit Anda mungkin terbiasa dengan rasa asin. Tapi ingat bahwa langit-langit bayi Anda berkembang dan bahwa ia belum memperoleh preferensi untuk selera asin! Bahkan, makanan yang Anda anggap hambar mungkin bisa diterima untuk si kecil karena dia belum berpengalaman.

Di sisi lain, memastikan bahwa makanan bayi Anda adalah 'bebas garam' tidak berarti bahwa itu harus 'bebas rasa' juga! Bayi boleh merasakan rasa asin yang sewajarnya, namun tentunya tanpa penambahan garam.

Menambah rasa tanpa menambahkan garam

Dibandingkan menambahkan garam pada makanan bayi, coba tambahkan bumbu, rempah-rempah atau bawang putih sebagai gantinya. 'Perasa alami' ini benar-benar menawarkan banyak manfaat kesehatan di bagi diri mereka sendiri.

Beberapa orang tua memilih untuk menggunakan Bumbu Herbal tanpa garam dalam makanan bayi mereka - sedikit merica hitam menambah varian rasa dalam makanan bayi yang juga menjadi alat bantu yang indah untuk pencernaan.

Ingat juga bahwa tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan bawang putih harus diperlakukan sebagai makanan baru ketika Anda pertama kali memperkenalkannya kepada bayi Anda - ini berarti bahwa makanan tersebut harus diberikan secara terpisah, setidaknya empat hari terpisah , untuk membantu Anda mengidentifikasi dan menghindari potensi alergi makanan atau masalah pencernaan.

Dan ingat - pengenalan APAPUN makanan baru pertama harus didiskusikan dengan dokter anak Anda.



http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/404667.stm, 27 Juli 1999.
Leroy Elders (3 bulan) diberi makanan sereal beras yang disiapkan khusus bukan untuk bayi karena lebih murah dan orangtuanya berpikir produk ini menggunakan bahan-bahan yang sama.

Dokter menghabiskan waktu lima hari untuk mencoba menyelamatkan Leroy setelah ia mulai menderita keracunan, tapi dia meninggal dalam pelukan ibunya ketika keputusan dibuat untuk mematikan mesin pendukung kehidupannya

Sebuah pemeriksaan pada Senin diberitahu bahwa tubuh Leroy berisi sembilan gram garam, asupan rata-rata harian untuk orang dewasa tapi cukup untuk membunuh seorang bayi, yang ginjal hanya dapat memproses sebagian kecil dari jumlah itu.


http://www.babycenter.in
Tidak perlu menambahkan garam pada makanan bayi Anda di tahun pertamanya. Bayi memerlukan kurang dari 1 gram garam sehari sampai mereka berusia 12 bulan. Balita berusia 1-3 tahun membutuhkan kurang dari 2g. Makan lebih banyak dari jumlah yang disarankan garam dapat merusak ginjal bayi Anda.

Juga, tampak bahwa selera yang diperoleh pada masa bayi akan terus dibawa hingga dewasa. Jadi jika bayi Anda terbiasa dengan makanan asin pada usia ini, dia mungkin terus ingin makanan asin di kemudian hari juga.

Sebelum bayi Anda berusia enam bulan, dia akan mendapatkan semua garam yang dia butuhkan dari ASI atau susu formula. Setelah bayi Anda mulai makanan padat, Anda tidak perlu menambahkan garam apapun untuk makanan bayi rumahan atau komersial. Kebanyakan makanan alami mengandung sedikit garam dan menambahkan lebih banyak bisa menjadikannya tidak sehat bagi bayi Anda.

Monday, July 8, 2013

12:11 PM

Tips Merebus Telur

Telur sangat mudah dimasak dan merupakan salah satu sumber protein untuk bayi.Namun, pernahkah Mommy  mengalami masalah untuk mengetahui matang tidaknya saat merebus telur? Saya sering mengalaminya. Kadangkala telur masih mentah di bagian kuningnya karena kurang lama merebus. Lain waktu, kadang telur kematangan hingga berwarna kebiruan di bagian luar kuningnya.

Dari Buku Resepi (Malaysian food recipes), ada nih tips sederhana untuk mendapatkan rebusan telur sesuai yang diinginkan. Tipsnya sesuai dengan gambar berikut.


Wednesday, July 3, 2013

9:14 AM

Cara Membuat Puree Pir untuk Bayi

Resep makanan bayi 6 bulan – buah Pir merupakan buah yang cocok untuk Mpasi pertama bayi. Informasi selengkapnya soal buah pir, bisa dilihat di halaman Buah Pir (Pear) untuk Bayi.

Untuk membuat puree pir, caranya sangat gampang. Berikut langkah-langkahnya:

Langlah 1 : Memilih Pir yang Segar
Mungkin agak sulit mendapatkan pir yang segar di Indonesia mengingat buah ini kebanyakan buah impor. Namun Mommy bisa mendapatkan pir yang sehat dengan mengenali kondisi fisik. Buah yang matang biasanya beraroma manis. Untuk pir cina biasanya ada di pasaran dalam kondisi susah matang. Untuk pir hijau, biasanya buahnya akan lembut jika sudah matang, jadi cukup ditekan perlahan. Pilih buah yang permukaan halus dan bebas noda.

Langkah 2 : Cuci dan Kupas

Cuci pir dengan campuran dari tiga bagian air dan satu bagian cuka putih untuk menghilangkan bakteri. Bilas dibawah air yang mengalir, keringkan dan kemudian kupas.

Langkah 3 : Buang bagian tengahnya dan potong
Pir cina biasanya memiliki kristal di bagian tengahnya. Bagian ini akan tetap mengkristal dan keras ketika dimasak dan dijadikan puree. Jadi untuk bagi yang baru mulai Mpasi, bagian tengah yang mengkristal ini sebaiknya dibuang. Setelah bagian tengahnya dibuang, potong pir kecil-kecil.

Langkah 4 : Masak Pir
Dari beberapa sumber, khusus untuk pir hijau yang sudah matang tidak perlu dimasak. Namun untuk bayi dibawah 8 bulan, memasak pir berfungsi untuk melembutkan buah dengan memecah struktur sel, membuatnya menjadi sedikit lebih mudah untuk dicerna. Hal ini juga menghancurkan salah satu allergen.

Beberapa cara untuk memasak pir:
Kukus. Kupas pear, buang batang dan bagian dalamnya yang berpasir dan potong-potong. Letakan di

Rebus. Kupas dan buang bagian biji pir, kemudian tempat ke dalam panci dengan sedikit air (secukupnya hanya untuk menutupi potongan pir). Rebus sampai empuk. Jangan merebus sampai campuran menyerupai pure, karena akan menjadi terlalu encer.

Panggang. Kupas dan buang biji pir, potong menjadi empat dan bungkus dalam aluminium foil. Panggang sampai empuk.

Microwave. Kupas dan buang biji pir, kemudian potong-potong. Tempatkan di piring yang aman microwave dan tambahkan sedikit air. Masak pada suhu tinggi sampai pir lembut.
kukusan dan masak sampai lunak.


Untuk informasi lengkap mengenai metode memasak ini, silahkan lihat di halaman Cara Memasak Makanan Bayi.

Langkah 5 : Haluskan Pir

Pir yang sudah matang tinggal dihaluskan menggunakan blender atau food procecor. Pir biasanya mengandung banyak air, sehingga terkadang tidak perlu ditambahkan air. Jika hendak dicairkan, tambahkan susu atau ASI setelah dihaluskan.

Sunday, June 30, 2013

8:41 AM

Cara Membuat Puree Apel untuk Bayi

Resep makanan bayi 6 bulan - Saus apel merupakan makanan yang cocok untuk bayi. Saus apel buatan sendiri agak manis, penuh dengan serat, dan kaya akan vitamin C. bayi pasti menyukainya. Untuk membuatnya tidak sulit, berikut langkah-langkahnya:

Langkah 1: Pilih & Beli Apel yang Segar
Apel merupakan buah pertama yang ideal karena rasanya yang manis dan mudah dicampurkan dengan berbagai sereal bayi. Cari apel yang bebas dari memar dan noda. Apel impor yang bagus adalah merk Red Delicious dan Apel Gala, hindari varietas apel seperti Granny Smith. Apel lokal juga bagus. Apel Malang dengan rasa sedikit asam namun akan menjadi manis jika dikukus. Begitu juga apel Manalagi. Tergantung dengan pilihan serta isi kantong.

Langkah 2: Bersihkan dan Kupas Apel
Bagian kupasan apel memang memiliki nutrisi dan serat yang bagus, namun sangat berisiko untuk memberikan apel tanpa dikupas untuk bayi. Cuci apel dengan campuran dari tiga bagian air dan satu bagian cuka putih untuk menghilangkan bakteri. Bilas dengan air dingin yang mengalir kemudian kupas.  Cara termudah untuk mengupas apel adalah dengan menggunakan alat pengupas sayuran yang bekerja dalam gerakan melingkar di sekitar buah. Namun jika tidak memiliki pengupas sayuran, gunakan pisau yang tajam.

Langkah 3: Buang bagian tengah dan potong Apel
Gunakan talenan yang bersih kemudian potong apel menjadi dua bagian. Buang bagian bijinya atau di tengahnya. Potong-potong apel menjadi potongan kecil agar cepat masak dan memudahkan saat dihaluskan.

Langkah 4: Masak Apel
Memasak apel bisa dengan mengukus atau merebus. Jika merebus, gunakan air dalam jumlah yanga sedikit
Jika mengukus, letakan potongan apel dalam wadah tahan panas kemudian kukus hingga matang.
Untuk pilihan memasak makanan bayi, lihat artikel Cara Memasak Makanan Bayi.
dan didihkan. Masukan apel dan periksa apel setelah 10 menit- sangat penting untuk meminimalkan waktu memasak untuk memastikan nutrisi vitamin dan mineralnya agar tidak terbuang. Kalau sudah lunak, tiriskan kemudian bilas dengan air dingin selama tiga menit untuk menghentikan proses memasak.

Langkah 5: Haluskan Apel
Haluskan dalam food processor atau blender sampai halus. Tambahkan air secukupnya untuk mencapai konsistensi yang diinginkan.

Langkah 6: Sajikan Saus apel yang
Saus apel bayi sangat serbaguna. Mommy bisa menyajikannya polos atau mencampurnya dengan puree lain untuk memperkenalkan rasa dan tekstur baru.

Langkah 7: Dinginkan atau Freeze Sisa Applesauce

Saus apel bisa didinginkan di kulkas dalam wadah BPA free hingga 3 hari. Saus apel beku bisa disimpan hingga 3 bulan.

Thursday, June 27, 2013

1:36 PM

Puree untuk Makanan Pendamping ASI

Pada pemberian makanan pendamping ASI pada tahap awal, puree merupakan jenis makanan yang sangat direkomendasikan. Puree adalah makanan semi padat yang berbentuk seperti bubur dengan tekstur yang sangat halus. Kalau dikamus artinya sup yang kental. Bahannya bisa berupa apa saja, sayuran, buah, sereal ataupun beras.

Cara pembuatan puree sangat sederhana, berikut dipetik dari wholesomebabyfood.com.

1. Mulailah dengan memasak sayuran / buah.
Memasak bisa dengan berbagai metode. Lebih lanjut bisa dibaca di Cara Memasak Makanan Bayi.
Hal yang perlu diperhatikan adalah, mengukus bisa mempertahankan sebagian nutrisi. Namun apapun metode memasak Mommy, entah itu mengukus, memanggang dan merebus, semua metode tersebut memungkinkan untuk memasak makanan dalam jumlah besar pada suatu waktu.

2. Haluskan sayur atau buah tersebut dengan alat yang tersedia untuk pureeing atau menghaluskan. Bisa menggunakan blender, grinder, hand grinder dan lainnya.

3. Air yang dihasilkan saat memasak makanan jangan dibuang. Gunakan untuk tambahan cairan saat membuat puree. Penambahan cairan yang dihasilkan dari proses memasak ini juga membantu mempertahankan nutrisi buah atau sayur yang hilang selama memasak.

Catatan: Jangan gunakan airnya jika buah atau sayur yang akan dipuree adalah wortel atau sayuran tinggi nitrat lainnya untuk bayi di bawah usia 7 bulan.

Jika menggunakan blender, bisa jadi Mommy memerlukan tambahan air waktu menghaluskan agar alat bisa bekerja. Nah, disinilah bisa digunakan air ini.

Selain menggunakan air rebusan/kukusan, bisa juga menggunakan air biasa, ASI dan susu formula. Cairan ini akan memberikan sedikit tambahan gizi dan menambah rasa yang akrab bagi bayi.

Mencairkan puree dengan ASI sebaiknya dilakukan setelah proses pureeing atau menghaluskan makanan.

Mau resep Puree yang sederhana namun sehat? Lihat saja artikel-artikel berikut:
Resep Puree ubi jalar
Resep Puree Wortel

Thursday, June 20, 2013

9:51 AM

Makanan Pendamping ASI, Haruskah Bikinan Rumahan?

Makanan pendamping ASI- Sebuah pertanyaan dilematis bagi ibu-ibu yang akan memberikan makanan pendamping ASI buat bayinya. Bagaimana tidak, godaan makanan bayi instant bertebaran dimana-mana. Selain itu, banyak pihak juga lebih menyarankan makanan instant dibanding makanan bayi rumahan. Tidak sebatas keluarga, teman, kerabat bahkan ada juga dokter spesialis anak dan praktisi kesehatan seperti bidan, perawat.

Saya pernah mendengar hal ini ketika berkunjung ke DSA. Perawat yang bertugas menyarankan untuk memberikan makanan instant pada seorang ibu karena pertimbangan kandungan nutrisi pada makanan tersebut lebih komplit dibandingkan makanan buatan rumah. Tidak hanya perawat, beberapa DSA juga seringkali menggunakan bubur instant saat mencontohkan tahapan tekstur makanan yang harus diberikan. Intinya, makanan bayi instant sudah membudaya di masyarakat kita.

Namun belakangan banyak juga kok Mommy yang mencari Panduan untuk Memulai Mpasi Pertama bagi Bayi mulai berpikir ulang untuk memberikan makanan instant. Beberapa komunitas juga sering menyerukan pentingnya Mpasi atau makanan pendamping ASI rumahan buat bayinya. Walaupun mungkin tidak mengurangi seratus persen makanan instant sih.

Selain itu, masyarakat sekarang juga sudah banyak yang tahu bahwa makanan instant itu tidak sehat. Contohnya saja mie instant, banyak pengawet, penyedap atau malah pewarna berlebihan. Lalu bagaimana dengan makanan instant untuk bayi? Yah, kalau dipikir-pikir, embel-embel instant itu dimana-mana sama. Entah di makanan dewasa atau makanan bayi, walau sudah dilabeli dengan tambahan nutrisi, tetap saja namanya instant.

So, saya tentu saja berpendapat bahwa makanan bayi rumahan itu jauh lebih sehat dibandingkan makanan instant. Manfaat dari makanan pendamping ASI rumahan atau buatan sendiri itu sangat besar, diantaranya:

Mommy tahu persis apa yang dimakan oleh bayi.

Terbayang jika bayi kita makan sesuatu yang kita tidak tahu, entah jenisnya, takarannya, kesehatannya atau malah fungsinya? Nah, dengan makanan bayi rumahan, Mommy tidak perlu takut bahwa yang dimakan bayi itu ada “pengisinya”. Selain itu, Mommy bisa memiliki buah, sayur atau bahan lainnya untuk membuat puree, dibandingkan menyerahkan urusan rasa pada pabrik. Memperkenalkan berbagai variasi rasa makanan itu penting loh buat pelajaran makan bayi, terutama untuk menghindari bayi memilih-milih makanan.

Lebih Sehat dan Segar
Mommy bisa memilih sendiri bahan makanan yang akan diberikan, yang pastinya bahan yang segar, sehat, kalau perlu organic bebas residu pestisida.

Menyesuaikan dengan Kebutuhan Bayi
Adakalnya bayi sedang tidak bisa memakan sesuatu, seperti pisang saat sembelit. Nah, dengan makanan bayi rumahan, Mommy bisa menyesuaikan makanan apa yang akan diberikan sehingga memenuhi kebutuhan dan preferensi bayi.

Hemat
Tentu saja lebih hemat. Resep makanan bayi rumahan memerlukan biaya yang lebih sedikit, apalagi porsi bayi juga masih kecil. Jadi Mommy tidak perlu berbelanja khusus, karena bisa mengambil sedikit-sedikit dari bahan makanan orang dewasa. Makanan bayi rumahan juga lebih ekonomis dibandingkan yang instant, walaupun memang sih, harga bukan pertimbangan utama.

Kepuasan Pribadi
Bagian yang paling penting adalah, memberikan menu makanan bayi rumahan memberikan kepuasan tersendiri, bukan hanya bagi Mommy namun juga bayi. Bayi bisa diberikan kesempatan sedini mungkin untuk ikut memakan apapun yang dimakan keluarga, hanya saja dalam bentuk puree.

Khawatir Tidak Punya Cukup Waktu untuk Membuat Makanan bayi Sendiri?
Waktu memang menjadi kendala utama dalam membuat makanan bayi rumahan. Hal ini menjadi kendala, terutama bagi ibu yang bekerja. Jadi ketimbang menghabiskan waktu di dapur dan terlambat kerja, menggunakan makanan bayi yang sudah dikemas dan siap pakai menjadi alternative yang menolong.

Membayangkan menghabiskan waktu di dapur sementara masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan memang menyebalkan. Tapi hey, ini tidak berbicara tentang memasak opor atau makanan lain yang membutuhkan waktu lama. Memasak makanan bayi tidak seperti memasak makanan orang dewasa yang membutuhkan waktu banyak.

Makanan bayi 6 bulan bahkan tidak membutuhkan waktu lama. Hanya membuat bubur beras sebanyak setengah sendok teh tepung. Atau membuat puree buah, cukup hanya mengukus dan memblender. Beberapa buah bahkan tidak perlu dikukus.

Ada beberapa artikel mengenai manajemen waktu untuk working mom saat menyiapkan Mpasi. Selain itu, ada pula metode penyimpanan makanan yang memungkinkan makanan bayi tersebut dibekukan dan kemudian diberikan pada saat dibutuhkan, yang tentunya tidak mengurangi nutrisi dan rasanya. Intinya memasak makanan untuk bayi tidak seharusnya menjadi sebuah tugas, namun KENIKMATAN.

Lalu bagaimana jika Mommy benar-benar tidak punya waktu untuk memasak sendiri makanan bayi dan terpaksa harus memberikan makanan instant? Jennifer Shu, MD, seorang dokter spesialis anak di Atlanta and co-writer buku Heading Home with Your Newborn: From Birth to Reality and Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup, seperti yang dikutip dari webmd.com menyarankan hal berikut ini:

“If you’re really concerned about what your baby’s eating and don’t have the time to make your own baby food, focus your attention on what they’re eating once they begin table foods. It’s really a very short window of time when they are eating purees.”

Intinya jika Mommy peduli dengan apa yang dimakan bayi namun tidak punya waktu untuk membuatkan mereka makanan rumahan, Mommy bisa fokuskas perhatian terhadap apa yang mereka makan ketika mereka memulai makan table food.


Namun janganlan menggunakan saran tersebut sebagai salah satu pembenaran terhadap makanan instant secara terus menerus. Kita juga harus menghargai dan tidak menghakimi mommy yang lebih memilih makanan instant, karena tentu saja ada pertimbangan tersendiri terhadap pilihan itu. Beberapa ibu mengalami masa-masa sulit yang membuat mereka tidak memungkinkan untuk memasak sendiri makanan bayi mereka. Lagi pula, kasih sayang tidak hanya dicurahkan hanya lewat makanan saja, bukan?!

Back to topic deh, untuk membuat makanan pendamping ASI rumahan, sangat sederhana. Hal yang perlu dipersiapkan hanyalah food grinder (alat untuk menghaluskan) dan pilihan cara untuk mengukus makanan. Kenapa harus dikukus? Karena mengukus mempertahankan lebih banyak nutrisi makanan dibandingkan cara lain. Untuk lengkapnya bisa baca di artikel Cara Memasak Makanan Bayi.

Ada banyak produk peralatan untuk membuat makanan bayi di pasar kok. Ada malah produk yang memiliki fungsi kombinasi berupa mengukus, memblender, menghangatkan dan mencairkan. Tapi tak perlu deh membeli peralatan baru untuk itu, gunakan saja peralatan yang ada dan sesuaikan dengan kebutuhan.

Memulai membuat makanan bayi hanya perlu 6 langkah mudah, yaitu:
•    Mulai dengan mencuci tangan dan peralatan.
•    Mencuci dan mengupas bahan makanan seperti sayur dan buah-buahan
•    Panggang, kukus atau masukan ke microwave bahan makanan diatas hingga lembut (mengukus dan memasak dengan microwave mempertahankan lebih banyak nutrisi)
•    Haluskan makanan dalam sebuah food processor (bisa berupa grinder, hand grinder atau blender) dengan sedikit cairan ( bisa berupa air, ASI atau formula). Khusus untuk ASI, lebih baik ditambahkan setelah makanan dihaluskan.
•    Simpan di kulkas atau freezer menggunakan wadah kedap udara.
•    Hangatkan makanan ketika hendak diberikan, pastikan suhunya tidak kepanasan agar mulut bayi tidak melepuh.

Banyak wadah kedap udara dengan ukuran kecil yang cocok untuk menyimpan makanan bayi sesuai porsinya. Atau Mommy juga bisa menggunakan ice cube tray bertutup. Jenisnya banyak kok di pasaran.

Untuk lebih menyederhanakan agar tidak menghabiskan banyak waktu, Mommy bisa kok memberikan bayi makanan yang sama dengan makanan yang dimakan anggota keluarga lainnya. contohnya ketika menu keluarga adalah kentang, Mommy juga bisa memberikan puree kentang buat si bayi. Jadi persiapannya hanya sekali, hanya saja prosesnya dibedakan, untuk si bayi di-puree, untuk keluarga digoreng atau diapain kek, terserah deh….

Sederhana sekali bukan?!

sumber: webmbd.com, 
              homemade-baby-food-recipes.com

Tuesday, June 18, 2013

11:11 AM

Alergi Telur pada Bayi

Alergi Telur saat pemberian Makanan Pendamping ASI - Telur merupakan salah satu sumber makanan penting dalam penyiapan Mpasi untuk bayi. Kandungan nutrisinya yang lengkap, membuat telur menjadi primadona, selain juga harganya murah dan terjangkau. Namun sayangnya tidak semua bayi bisa memanfaatkan telur, karena makanan ini merupakan salah satu dari 8 jenis makanan penyebab alergi makanan pada bayi dan balita. Makanan ini dianjurkan mulai diberikan pada anak umur 8 bulan keatas, dan hanya berupa kuning telurnya saja. Baca artikel: Mengenalkan Kuning Telur ke Bayi Mpasi.

Gejala alergi telur biasanya terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah bayi makan telur atau makanan yang mengandung telur. Tanda dan gejala berkisar dari ringan sampai parah dan dapat mencakup ruam kulit, gatal-gatal, peradangan hidung, dan muntah atau masalah pencernaan lainnya. Alergi telur jarang menyebabkan anafilaksis atau  reaksi yang mengancam jiwa.

Alergi telur dapat terjadi pada bayi. Kebanyakan anak bisa mengatasi alergi telur mereka sebelum masa remaja. Namun dalam beberapa kasus, alergi bisa berlanjut sampai dewasa.

Gejala Alergi Telur
Reaksi alergi telur bervariasi dari orang ke orang dan biasanya terjadi segera setelah terpapar telur. Gejala alergi telur dapat mencakup:
•    Peradangan kulit atau gatal-gatal merupakan gejala yang paling umum dari reaksi alergi telur
•    Peradangan hidung (rhinitis alergi)
•    Gejala pencernaan (gastrointestinal), seperti kram, mual dan muntah
•    Tanda-tanda asma dan gejala seperti batuk, sesak dada atau sesak napas]

Anafilaksis
Reaksi alergi yang parah dapat menyebabkan anafilaksis, keadaan darurat yang mengancam jiwa yang memerlukan epinefrin (adrenalin) ditembak langsung dan perjalanan ke ruang gawat darurat. Tanda-tanda anafilaksis dan gejala termasuk:
•    Penyempitan saluran udara, termasuk tenggorokan bengkak atau benjolan di tenggorokan yang membuatnya sulit untuk bernapas
•    Nyeri perut dan kram
•    Denyut nadi cepat
•    Shock, dengan penurunan tekanan darah berat sehingga merasa pusing, kepala ringan atau kehilangan kesadaran

Jika Mommy atau anak memiliki reaksi terhadap telur, konsultasikan hal ini dengan dokter tidak peduli seberapa ringan kemungkinannya. Tingkat keparahan reaksi alergi telur dapat bervariasi setiap kali kasus alergi terjadi. Ini berarti bahwa bahkan jika Mommy atau anak memiliki reaksi yang  ringan di masa lalu, reaksi berikutnya bisa lebih serius.

Jika dokter berpikir Mommy dan anak berada pada risiko reaksi yang parah, dokter mungkin meresepkan epinephrine darurat yang digunakan jika terjadi anafilaksis. Suntikan ini tersedia dalam sebuah perangkat yang mudah digunakan, disebut autoinjector.

Ketika ke dokter 
Temui dokter jika Mommy atau anak memiliki tanda-tanda atau gejala dari alergi makanan tak lama setelah makan telur atau produk yang mengandung telur. Jika mungkin, lihat dokter ketika reaksi alergi terjadi. Hal ini dapat membantu dalam membuat diagnosis.

Jika Mommy atau anak memiliki tanda dan gejala anafilaksis, bisa melakukan pengobatan darurat dengan menggunakan autoinjector.

Penyebab Alergi Telur

Semua alergi makanan disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi protein telur tertentu sebagai bahan yang berbahaya. Ketika Mommy atau anak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein telur, sel-sel sistem kekebalan tubuh (antibodi) mengenali mereka dan sinyal sistem kekebalan tubuh untuk melepaskan histamin dan bahan kimia lainnya yang menyebabkan tanda-tanda dan gejala alergi.

Kuning telur dan putih telur mengandung protein yang dapat menyebabkan alergi, namun alergi terhadap putih telur merupakan alergi yang paling umum. Bayi ASI juga memungkinkan terkena alergi terhadap protein telur jika ibunya mengkonsumsi telur.

Faktor risiko
Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko yang meningkatkan kemungkinan alergi telur:
•    Atopic dermatitis. Anak-anak dengan jenis reaksi kulit jauh lebih mungkin untuk mengembangkan alergi makanan daripada anak-anak yang tidak memiliki masalah kulit.
•    . Riwayat keluarga anak berada pada peningkatan risiko alergi makanan jika satu atau kedua orang tua memiliki asma, alergi makanan atau jenis lain dari alergi - seperti demam, gatal-gatal atau eksim.
•    Alergi telur berdasarkan usia. Paling sering terjadi pada anak-anak. Ketika anak bertambah tua, sistem pencernaan matang dan reaksi alergi makanan cenderung terjadi.

Komplikasi
Komplikasi yang paling signifikan dari alergi telur adalah memiliki reaksi alergi yang parah yang membutuhkan suntikan epinefrin dan perawatan darurat.
Reaksi sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan alergi telur juga bisa menyebabkan kondisi lain. Jika Mommy atau anak memiliki alergi telur, Mommy atau anak mungkin pada peningkatan risiko:
•    Alergi terhadap makanan lain, seperti susu, kedelai atau kacang
•    Hay demam - reaksi alergi terhadap bulu hewan peliharaan, tungau debu atau serbuk sari rumput
•    Reaksi alergi pada kulit seperti dermatitis atopik
•    Asma, yang pada gilirannya meningkatkan risiko mengalami reaksi alergi yang parah terhadap telur atau makanan lainnya

Perawatan dan obat-obatan
Tidak ada obat atau perawatan lain yang dapat menyembuhkan alergi telur atau mencegah seseorang dengan alergi makanan untuk mengalami reaksi alergi. Satu-satunya cara untuk mencegah gejala alergi telur adalah menghindari telur atau produk telur. Ini memang hal yang sulit, karena telur adalah bahan makanan umum.
Antihistamin untuk mengurangi gejala
Meskipun upaya terbaik adalah mengurangi konsumsi telur, namun kontak dengan telur kadang tidak bisa dihindari. Obat-obatan, seperti antihistamin, dapat mengurangi tanda dan gejala alergi telur ringan. Obat ini dapat digunakan setelah terpapar telur. Tapi, obat ini tidak efektif untuk mencegah reaksi alergi telur atau untuk mengobati reaksi yang parah.

Tembakan epinefrin Darurat
Jika kondisi reaksi alergi sudah pada resiko yang parah, maka mungkin perlu membawa epinephrine injektor darurat (EpiPen, EpiPen Jr, Twinject) setiap saat. Terutama jika anafilaksis setelah paparan telur, maka diperlukan tembakan ini ketika perjalanan ke rumah sakit. Bahkan jika gejala anafilaksis membaik, pasien tetap perlu untuk tetap berada di bawah pengawasan medis untuk jangka waktu untuk memastikan gejala yang parah tidak kembali.

Jika memiliki autoinjector, pastikan alat ini tersedia. Pelajari bagaimana menggunakannya dengan benar. Jika anak Anda memiliki satu, membuat pengasuh yakin telah akses ke sana dan tahu bagaimana menggunakannya. Jika anak Anda sudah cukup besar, pastikan dia juga mengerti bagaimana menggunakannya. Ganti autoinjector sebelum tanggal kedaluwarsa. Jika tidak, mungkin tidak bekerja dengan baik.

Tidak ada obat untuk alergi telur, tapi kebanyakan anak akhirnya akan mengatasi hal itu. Bicarakan dengan dokter anak tentang seberapa sering anak harus diuji untuk melihat apakah telur masih menimbulkan gejala. Hal ini mungkin tahunan, atau pada jadwal lain tergantung pada gejala anak dan rekomendasi dokter

 Pencegahan Alergi Telur

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari reaksi alergi, dan untuk mencegahnya menjadi lebih parah jika terjadi.

•    Tahu apa yang Mommy atau anak makan dan minum. Baca label makanan dengan hati-hati. Selain hati-hati membaca label, berhati-hati ketika makan di luar dan menggunakan produk telur bebas di rumah dapat membantu untuk menghindari reaksi

•    Hati-hati saat makan di luar. Perlu diingat, pelayan atau bahkan juru masak mungkin tidak sepenuhnya yakin tentang apakah makanan mengandung protein telur.

•    Biarkan pengasuh anak tahu tentang alergi telur. Bicaralah dengan pengasuh anak, guru, keluarga atau pengasuh lainnya tentang alergi telur anak sehingga mereka tidak sengaja memberi anak produk yang mengandung telur. Pastikan mereka mengerti apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

•    Jika menyusui, hindari telur. Jika anak memiliki alergi telur, ia mungkin bereaksi terhadap protein susu melewati ASI ibunya.

Gunakan aturan 4 Day Wait Rule ketika memberikan telur pertama kali ke bayi, lihat reaksi bayi. Jika bayi baik-baik saja, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pemberian telur ini. 

Sumber tersembunyi dari produk telur
Sayangnya, bahkan jika makanan yang diberi label bebas telur mungkin masih mengandung beberapa protein telur penyebab alergi. Jika ragu, hubungi produsen untuk memastikan produk tidak mengandung telur.
Beberapa istilah menunjukkan bahwa produk telur telah digunakan dalam pembuatan makanan olahan. Ketentuan yang dapat menunjukkan protein telur ini meliputi:
•    Albumin
•    Globulin
•    Lecithin
•    Livetin
•    Lisozim
•    Simplesse
•    Vitellin
•    Kata dimulai dengan "ovum" atau "ovo," seperti ovalbumin atau ovoglobulin

Orang-orang yang sangat sensitif terhadap protein telur memiliki reaksi ketika mereka menyentuh telur atau produk telur. Produk non-pangan yang terkadang mengandung telur meliputi:
•    Shampo
•    Obat-obatan
•    Kosmetik
•    cat kuku

Vaksinasi dan alergi telur
Beberapa suntikan untuk mencegah penyakit (vaksin) mengandung protein telur. Pada beberapa orang, vaksin ini menimbulkan risiko memicu reaksi alergi.

•    (MMR) Vaksin Campak-gondok umumnya aman untuk anak-anak dengan alergi telur, meskipun telur yang digunakan untuk menghasilkan vaksin tersebut.

•    (Influenza) vaksin flu kadang-kadang mengandung sejumlah kecil protein telur. Namun, vaksin flu yang tidak mengandung protein ini telah disetujui untuk digunakan pada orang dewasa usia 18 dan lebih tua. Dan bahkan vaksin yang memiliki protein telur dapat diberikan dengan aman untuk kebanyakan orang dengan alergi telur tanpa masalah. Jika mommy atau anak memiliki reaksi terhadap telur di masa lalu, berbicara dengan dokter sebelum mendapatkan vaksinasi flu.

•    Vaksin demam kuning dapat memprovokasi reaksi alergi pada beberapa orang yang memiliki alergi telur. Ini diberikan kepada wisatawan yang akan memasuki Negara di mana ada risiko tertular demam kuning. Ini umumnya tidak dianjurkan untuk orang dengan alergi telur, namun kadang-kadang diberikan di bawah pengawasan medis setelah pengujian untuk reaksi.

•    Vaksin rabies juga dapat menyebabkan reaksi pada orang dengan alergi telur. Seperti dengan vaksin demam kuning, vaksin rabies mungkin aman bila diberikan di bawah pengawasan medis setelah pengujian.

•    Vaksin lainnya umumnya tidak berisiko bagi orang yang memiliki alergi telur. Tapi tanyakan dokter hanya untuk menjadi aman. Jika dokter Anda prihatin tentang vaksin, ia mungkin akan melakukan pengujian untuk mengetahui kemungkinan menimbulkan reaksi.

sumber: mayo clinic


Sunday, June 16, 2013

11:31 AM

Alergi Makanan pada Bayi dan Balita

Alergi Makanan pada Bayi - Jika berbicara Mpasi, maka tidak lengkap rasanya jika tidak menyinggung soal alergi makanan pada bayi dan anak. Memang, alergi makanan merupakan salah satu masalah yang bisa dihadapi oleh anak dan bayi. Sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan (adverse reactions), termasuk yang disebabkan oleh reaksi alergi. Sebetulnya semua makanan dapat menimbulkan reaksi alergi, akan tetapi antara satu makanan dengan makanan lain, mempunyai derajat alergenitas yang berbeda. Di Amerika, 1 dari 12 batita mengidap alergi makanan, serta sekitar 150 batita meninggal dunia setiap tahun karenanya. Di seluruh dunia, kasus alergi makanan pada anak meningkat sampai 2 kali lipat selama 10 tahun.

Untuk itulah maka baik jika mengenali alergi makanan tersebut terlebih dahulu, mengingat bahaya sekali jika sembarangan memberikan makanan pada anak, terutama makanan yang merupakan allergen tinggi.
Alergi makanan merupakan suatu reaksi klinis yang tidak diinginkan terhadap makanan secara imunologis. Berbagai jenis manifestasi klinik reaksi hipersensitivitas tipe I menurut Gell dan Coomb diantaranya adalah disebabkan reaksi alergi terhadap makanan.

Tubuh bayi maupun dewasa memiliki antibodi yang disebut IgE, yang merupakan protein pendeteksi zat makanan yang masuk ke dalam tubuh. Ketika zat makanan tertentu yang menyebabkan alergi masuk, antibodi ini akan melepaskan zat-zat seperti histamin.  Nah, inilah yang menyebabkan reaksi alergi, baik ringan maupun berat.

Ada banyak jenis reaksi yang ditimbulkan oleh makanan, dan kebanyakan masayarakat menyimpulkannya sebagai alergi makanan. Padahal tidak. Menurut The American Academy of Allergy and Immunology dan The National Institute of Allergy and Infections Disease, ada tiga jenis reaksi terhadap makanan, yaitu:

1. Adverse food reactions
Suatu istilah umum untuk suatu reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap food allergy (hipersensitivitas) atau food intolerance (Intoleransi makanan).

2. Food Allergy
Istilah untuk suatu hasil reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe I (Gell & Coombs) yang diperani oleh IgE.

3. Food intolerance
Istilah umum untuk semua respons fisiologis yang abnormal terhadap makanan/aditif makanan yang ditelan. Reaksi ini merupakan reaksi non imunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini mungkin disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan seperti kontaminasi toksik (misalnya, histamin pada keracunan ikan, toksin yang disekresi oleh salmonella, shigela, dan campylobacter), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan (misalnya, kafein pada kopi, tiramin pada keju) atau karena kelainan pada pejamu sendiri, seperti gangguan metabolisme (misalnya, defisiensi laktase) maupun suatu respons idiosinkrasi pada pejamu.

Jenis Makanan Pemicu Alergi
Ada 8 jenis makanan yang seringkali penyebab alergi makanan baik pada bayi atau orang dewasa.



•  Telur (ayam, bebek, telur puyuh)
Bagian telur, terutama putih telur, bisa menyebabkan reaksi alergi. Akibat yang ditimbulkan alergi telur biasanya berupa rasa gatal di sekujur tubuh. Kulit tampak kemerahan ataupun bengkak-bengkak.

•  Susu (sapi dan kambing)
Reaksi alergi yang ditimbulkan oleh susu sapi atau kambing bisa berupa diare atau muntah. Bila bayi alergi terhadap susu sapi atau turunannya, maka beberapa penangangan yang dilakukan oleh dokter anak umumnya akan menyarankan makanan yang terbuat dari protein susu sapi yang telah terhidrolisa sehingga tidak menimbulkan alergi pada bayi, atau menyarankan makanan dengan protein dari kedelai.

•  Kacang tanah
Protein nabati yang terdapat dalam kacang tanah termasuk tinggi. Beberapa makanan pendamping ASI yang mengandung kacang tanah dapat menyebabkan rasa gatal pada tubuh bayi, juga munculnya bisul-bisul dengan warna kemerahan pada area tangan dan wajah bayi.

•  Gandum
Alergi karena jenis makanan yang mengandung gandum seperti roti atau sereal, dapat mengakibatkan berbagai gejala alergi seperti gatal-gatal, sesak napas dan mual, termasuk reaksi alergi fatal yang disebut anafilaksis. Bagi bayi dengan alergi gandum, sebaiknya menghindari makanan yang mengandung gluten dan semolina. Sebagai alternatif, Ibu bisa menggunakan beras atau jagung.

•  Kacang kedelai
Alergi kedelai biasanya ditemukan pada bayi yang diberikan susu yang mengandung kedelai. Makanan lain yang mengandung protein kedelai dan dapat menimbulkan gejala alergi pada anak-anak adalah miso soup, saus kedelai, dan makanan yang mengandung minyak kedelai.

•  Kacang
Kacang yang tumbuh di pohon seperti kenari, kacang mede, dan pistasio. Reaksi alergi yang ditimbulkan serupa dengan reaksi alergi pada bayi yang mengonsumsi kacang tanah.

•  Ikan (tuna, salmon, cod)
Ikan dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian bayi.  Oleh karena itu, Ibu sebaiknya jangan dulu memberi ikan pada bayi sebelum usianya mencapai 6 bulan karena masih dalam masa pemberian ASI eksklusif. Setelah usia bayi Ibu mencapai 8 atau 12 bulan, ikan bisa menjadi bagian dari menu yang seimbang.

•  Kerang-kerangan (termasuk lobster, udang, dan kepiting)
Gejala yang ditimbulkannya berupa urtikaria (gatal di kulit), angioedema (bengkak-bengkak), asma atau kombinasi dari beberapa kelainan tersebut. Alergi makanan karena ikan laut paling mudah terdeteksi karena gejala yang ditimbulkan relatif cepat. Biasanya kurang dari 8 jam keluhan alergi sudah bisa dikenali.

Gejala Alergi Makanan pada Anak
Tanda-tanda awal jika bayi atau anak memiliki alergi terhadap makanan tertentu, seperti berikut:

•    Perut bayi membesar (kembung), pupnya lebih cair atau mencret, dan buang air lebih sering dari biasanya, tetapi tidak disertai lendir atau darah.
•    Bayi lebih rewel karena rasa tidak nyaman pada organ pencernaannya.
•    Gatal, biduran, atau eksim pada kulit.
•    Batuk.
•    Muntah.
•    Nafas tersengal-sengal.
•    Bibir dan tenggorokan bengkak.
•    Mata bayi tampak merah dan berair.

Gejala-gejala awal seperti gatal-gatal, bengkak, atau kesulitan bernafas pada bayi biasanya muncul hingga dua jam setelah zat penyebab alergi dari makanan tertentu masuk ke dalam tubuh.  Perhatikan bayi Ibu ketika tanda-tanda awal ini terlihat, karena pada beberapa kasus alergi makanan pada bayi, hal ini dapat berlanjut menjadi sangat parah bila tidak segera ditangani.

Dalam beberapa kasus juga ditemukan gejala alergi pada pencernaan seperti muntah atau diare yang kronis dan diderita cukup lama oleh bayi hingga menimbulkan eksim pada kulit. Eksim adalah area kering pada kulit yang tampak seperti bercak kemerahan dan bersisik, yang muncul pada wajah, lengan, hingga area kaki bayi, namun tidak pada area popok.

Ada juga kasus dimana reaksi alergi karena makanan muncul pada bayi, walaupun makanan tersebut pernah diberikan kepada bayi sebelumnya dan tidak ada masalah alergi apapun. Jadi, bayi yang memiliki ataupun memiliki potensi alergi terhadap telur, misalnya, mungkin tidak akan menunjukkan reaksi alergi tertentu saat pertama kali mengonsumsi telur, namun setelah beberapa kali mengonsumsi, baru tampak gejala reaksinya.

Pengobatan dan pencegahan alergi makanan
Pengobatan yang paling penting pada alergi makanan ialah eliminasi terhadap makanan yang bersifat alergen. Terapi eliminasi ini seperti umumnya pengobatan lain mempunyai efek samping. Eliminasi yang ketat pada sejumlah besar jenis makanan, dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan malnutrisi atau kesulitan makan pada anak.

Umumnya alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu kecuali alergi terhadap kacang tanah dan sejenisnya serta hidangan laut. Dilaporkan bahwa anak yang menderita alergi makanan akan mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan sekitar 25%, sedangkan pada usia dewasa akan mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan selamanya. Dengan terapi diet yang ketat terhadap makanan alergen dalam beberapa tahun, alergi makanan dapat saja menghilang, akan tetapi bukan tidak mungkin akan timbul masalah malnutrisi atau gangguan makan yang lain. Oleh karena itu di upayakan untuk memberi makanan pengganti yang tepat.

Beberapa terhadap makanan seperti antihistamin, H1 dan H2, ketotifen, kortikosteroid serta inhibitor sistetase prostaglandin. Secara keseluruhan, pemberian obat obat ini dapat mengendalikan gejala, akan tetapi umumnya mempunyai efisiensi yang rendah. Penggunaan natrium kromoglikat peroral banyak diteliti, tetapi hasilnya masih bertentangan. Pemberian imunoterapi pada alergi makanan belum jelas hasilnya. Sampai sekarang belum ada studi yang memadai untuk membuktikan hasil imunoterapi pada alergi makanan.
Secara umum, ada 3 tahap pencegahan terjadinya penyakit alergi yaitu pencegahan primer (sebelum terjadi sensitisasi), pencegahan sekunder (sudah terjadi sensitisasi tetapi belum terjadi penyakit alergi) serta pencegahan tersier (sudah terjadi penyakit alergi misalnya dermatitis, tetapi belum terjadi penyakit alergi lain misalnya asma). Pencegahan primer dilakukan dengan diet penghindaran makanan hiperalergenik sejak trimester kehamilan. Sayangnya pada pencegahan primer ini belum ada cara yang tepat untuk menilai keberhasilannya. Pencegahan sekunder dilakukan dengan penentuan dan penghindaran jenis makanan yang menyebabkan penyakit alergi. Pencegahan tersier biasanya ditambah dengan penggunaan obat seperti misalnya pemberian setirizin pada dermatitis atopik untuk mencegah terjadinya asma di kemudian hari.

Pemberian ASI ekslusif dilaporkan, dapat mencegah penyakit atopik serta alergi makanan. Akan tetapi para ahli alergi masih memperdebatkan efektifitasnya. Walaupun demikian sebagian besar peneliti berpendapat bahwa dengan melakukan penghindaran makanan alergen pada ibu hamil dan menyusui serta pada bayi usia dini dengan resiko tinggi terjadinya penyakit atopik, ternyata dapat bermanfaat mencegah terjadinya alergi makanan/penyakit atopik dikemudian hari. Pendekatan moderen secara nutrisi misalnya dengan pemberian fraksi peptida dari protein spesifik yang ditoleransi usus misalnya pemberian formula susu hipoalergenik atau penggunaan komponen spesifik makanan sehari-hari seperti asam lemak dan antioksidan untuk mencegah terjadinya sensitisasi pada anak yang mempunyai risiko alergi. Pemberian probiotik dapat diberikan sebagai imunomodulator untuk merangsang sel limfosit Th1 pada anak yang mempunyai bakat alergi.

Pencegahan yang paling penting adalah dengan menelusuri  ada atau tidaknya riwayat alergi dalam keluarga. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap alergi, semakin besar pula risiko anak Anda menderita hal serupa.Selain itu, untuk memantau adanya reaksi alergi, Mommy bisa menerapkan aturan 4 Day wait Rule atau 4DR kepada bayi.

Ada 3 penyebab dari alergi makanan, yakni riwayat genetik, adanya ketidakmatangan saluran pencernaan, dan paparan makanan yang bersifat alergen terlalu dini. Catatan: Kedua penyebab pertama tersebut akan membaik ketika anak berusia 2-7 tahun.

Strategi lain untuk menghindari alergi adalah menunda pemberian makanan padat hingga si kecil berusia 6 bulan. Penelitian menemukan, hal ini terbukti bisa mengurangi risiko anak terserang alergi makanan. Bagi ibu menyusui, meski sejumlah penelitian menyatakan tingkat efektivitasnya tidak terlalu besar, mengurangi asupan makanan yang bersifat alergen dari menu sehari-hari bisa membantu menjauhkan anak dari paparan makanan alergen.


sumber: IDAI, parenting.co.id, bebeclub.co.id, wholesomebabyfood.com

My Blog List

Blog Archive