Thursday, September 20, 2012

Di Balik Sebuah Musibah

Mungkin memang benar sebuah musibah melatih kita untuk menjadi semakin berhati-hati. Iya, selama ini saya selalu meremehkan soal kehati-hatian. semenjak Acyuta lahir, saya terkesan agak 'beringas' menjaga dia. Meletakannya agak di sisi luar ranjang, menarik kakinya saat hendak menggendongnya, tangannya sering terbentur dinding atau meja ketika saya mengajaknya jalan-jalan, atau ketika hendak menyusui malam-malam dan posisi dia tidak pas, saya seenaknya saja menarik-narik dia.

Duh, Tuhan. Saya memang ibu yang teledor.
Hingga kejadiannya dua hari yang lalu, sore sekitar jam 4, dia terjatuh dari babywalkernya. Saat itu giliran saya yang menjaganya. Pengasuhnya sedang nyeterika baju, dia saya letakan di baby walker di ruang tengah. Sambil melirik-lirik dia, saya memeriksa pengeluaran. Awalnya saya duduk di ruang tengah, entah kenapa saya tiba-tiba pindah ke kamar. Menit-menit pertama saya masih sempat melirik dia seliweran dengan BWnya. Terakhir saya ingat, dia melongok ke kamar ngelihatin saya setelahnya saya fokus pada pengeluaran. Saya lupa dia.

Hingga terdengar suara gubrak jatuh dan tangisannya. Saya kaget, langsung lari ke ruang tengah. dia tidak ada. saya lari ke belakang. Ya ampun, dia sudah tersungkur di dapur yang lantainya lebih rendah beberapa centi dari ruang tengah.

Saya masih samar-samar mengingat posisinya jatuh. BW nya terbalik, kakinya di atas.

Saya angkat dia, dia nangis sesenggukan. Lama dia saya dekap, tangisnya bener-bener, uhh.... tidak bisa diceritakan. Jantungnya berdebar kencang, dia kaget dan menangis karenanya.

Rasa bersalah benar-benar membuat saya merutuki diri sendiri.

Kini, saya benar-benar berjanji pada diri sendiri agar tidak teledor lagi. ketika menjaga Acyuta, saya tidak akan mengerjakan hal lain lagi, kecuali sambil saya gendong.

Be healhty Acyuta!

No comments:

Post a Comment