Tuesday, August 16, 2016

Tips Merebus Botol Kaca ASIP

- 1 comments
Apakah Ibu menggunakan botol kaca untuk menampung ASI perah? Nah, sehabis pakai, botol kaca tersebut  harus dicuci dan disterilkan. Cara sterilisasi biasanya dilakukan dengan cara merebusnya dalam air mendidih.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa cara yang bisa digunakan dalam merebus botol kaca wadah ASIP. Apa saja?

Air
Jika Ibu menggunakan air sumur atau air tanah, maka biasanya akan meninggalkan lapisan putih pada bagian dalam atau pun luar botol. Nah, cara mensiasatinya adalah, gunakan air matang. Air yang sudah direbus terlebih dahulu, dan kemudian didinginkan, maka kandungan kapurnya akan mengendap.  Jadi ketika digunakan kembali untuk merebus botol, kandungan kapur yang menyebabkan lapisan putih sudah berkurang.


Posisi meletakkan botol
 
Setelah merebus, biasanya botol dalam kondisi panas. Jangan letakan botol dalam posisi terbalik, karena uap panas yang terbentuk akan terkumpul di dasar botol (yang berada di posisi atas). Saat suhu botol mendingin, uap itu akan terkondensasi dan meninggalkan tetes tetes air sehingga bagian dalam botol masih tetap basah.

Letakan botol dalam posisi tengadah (bagian mulut di atas) sehingga uap air bisa keluar dengan bebas. Air di bagian dalam botol juga akan menguap akibat dari suhu botol yang tinggi. Untuk menghalangi masuknya debu ke bagian dalam botol, maka tutup botol-botol yang masih panas itu dengan kain bersih, atau penutup yang berpori. Jangan gunakan tutup panci atau plastik karena uap akan tertahan sehingga membentuk tetesan air yang bisa kembali jatuh ke dalam botol.

Setelah bagian dalam botol kering dan suhunya dingin, maka cepat-cepat tutup botol dengan penutupnya untuk menghindari masuknya kotoran atau debu.

Untuk panduan, ASI perah secara lengkap, silahkan mampir ke artikel Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja

[Continue reading...]

Friday, August 12, 2016

Pemberian Susu Bayi Lewat Botol, Panduan dan Tips

- 0 comments
Ibu memutuskan untuk memberikan susu bayi lewat botol susu? ada beberapa tips dan panduan nih yang bisa dibaca, diambil dari WebMD. com.

Lebih baik botol Kaca atau botol plastik? 

Beberapa bayi memiliki kesukaan tersendiri pada suatu jenis botol. Namun sebagai Ibu, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan:

Botol plastik lebih ringan dari kaca dan anti pecah. Tetapi jangka waktu penggunaannya tidak selama seperti menggunakan botol kaca. Di masa lalu, beberapa orang tua memilih botol kaca untuk menghindari bahan kimia yang disebut bisphenol A (BPA) yang digunakan dalam beberapa botol plastik. Namun sekarang, beberapa botol plastik yang dijual di pasaran sudah BPA Free.

Apa yang harus kita tahu tentang puting / dot bayi
Sebagian besar terbuat dari silikon atau lateks dan memiliki berbagai macam bentuk. Kadang dot memiliki tingkat aliran yang berbeda, berdasarkan ukuran lubang pada dot. Ibu mungkin harus mencobakan beberapa jenis dot sebagai pengenalan dan juga memahami yang mana yang bayi suka. Periksa dot sesering mungkin untuk melihat tanda-tanda retak. Gantilah dot dengan teratur terutama jika sudah aus atau berubah warna.

Cuci Botol dan Dot
Ibu dapat mencucinya dengan deterjen khusus dan air panas, dengan tangan atau dalam mesin cuci piring. Lakukan setiap kali digunakan. Untuk botol plastik, lebih baik dicuci dengan tangan karena beberapa studi menunjukan bahwa bahan kimia plasti bisa bocor jika terkena suhu panas. kebanyakan ahli merasa tidak perlu untuk merebus botol, kecuali pada bulan-bulan awal bayi.

Hanya ASI atau Formula
Pemberian air dan jus tidak dianjurkan untuk dilakukan lewat botol. Penggunaan botol hanya untuk pemberian ASI yang dipompa atau susu formula. Campurkan susu formula sesuai dengan takaran. Menambahkan terlalu banyak air bisa mengurangi kandungan gizi selain juga menurunkan asupan garam pada bayi yang bisa menyebabkan kejang. Mengurangi air pada campuran susu formula  juga tidak terlalu bagus untuk perut dan ginjal bayi.

Cara Pilih Susu Formula
Kebanyakan orang tua mulai dengan susu yang terbuat dari susu sapi. Ibu sebenarnya juga dapat membeli susu kedelai dan susu sapi jenis hypoallergenic. Pastikan memberikan susu yang diperkaya zat besi. Ibu dapat membeli susu formula dalam bentuk bubuk, terkonsentrasi, atau siap digunakan. Di umurnya yang 6 bulan, bayi harus minum antara 6 dan 8 ons per satu kali minum.

Hangat atau Suhu Ruangan?
Untuk bayi, lebih baik memberikan susu dalam suhu kamar, atau dingin seperti suhu air normal. Jika Ibu membuat susu formula hangat, rendam terlebih dahulu susu dengan air dingin, atau guyur dengan air mengalir selama 1-2 menit. Kocok susu dan teteskan sedikit di punggung tangan untuk menguji suhu. Jangan mengujinya di pergelangan tangan, bagian itu kurang sensitif terhadap panas.

Cara menggendong bayi saat memberikan susu formula

Pakaikan celemek pada bayi dan siapkan kain untuk membersihkan susu yang meleber dari bibirnya. Dudukkan bayi dengan kepala sedikit lebih tinggi dari tubuhnya. Pegang botol dan perhatikan selama dia menyusu. Coba untuk sendawakan bayi di pertengahan konsumsi susu untuk mencegah gumoh atau muntah.



Bagaimana Ibu tahu kapan bayi selesai minum?
Si kecil akan membiarkan Ibu tahu kapan dia selesai minum susu. Bayi mungkin berhenti mengisap, berpaling dari botol, atau mendorong botol menjauh. Ibu bisa memberinya kesempatan untuk berubah pikiran, tapi jangan memaksa bayi menghabiskan semua yang ada di botol. Jika bayi gumoh, maka Ibu lebih baik mengurangi sedikit asupan susunya.


Cara menyendawakan bayi
Jika bayi perlu bersendawa selama atau setelah makan, peluklah bayi di pangkuan atau bisa juga lekatkan di dada ibu. Tepuk lembut atau gosok punggungnya. Ibu bisa juga dapat meletakkannya di pangkuan dengan posisi perut di bawah, tahan kepalanya dan tepuk pelan punggungnya. Jangan khawatir jika bayi ibu tidak bersendawa, karena tidak semua bayi melakukannya.

Jika bayi gumoh banyak, maka sendawakanlah dia setiap beberapa menit selama menyusui. Jangan baringkan bayi atau bermain dengannya selama 45 menit setelah dia makan. Memeluk bayi dalam posisi tegak atau menopang tubuhnya di kursi bayi setelah makan. Sehabis gumoh, kondisi bayi akan lebih jika dia didudukkan.

Haruskah Ibu ganti susu formula?
Jika bayi ibu gumoh terlalu banyak atau rewel, permasalahannya bisa jadi adalah jenis susu formula yang diberikan.  Kadang-kadang, bayi bisa memiliki alergi yang dapat menyebabkan hal-hal seperti diare, muntah, atau, kulit merah kering. Jika Ibu melihat ini, maka konsultasikanlah pada dokter.

Berapa lama susu bisa disimpan?
Buanglah selalu susu formula yang tersisa di dalam botol. Taruh paket susu formula cair yang sudah dibuka di kulkas dan gunakan selama 48 jam. Jika ibu menggunakan campuran susu formula bubuk, Ibu bisa menyimpannya hanya selama 24 jam di kulkas. Jika susu di luar kulkas lebih dari 2 jam, maka sebaiknya dibuang. buatlah susu formula sesuai kebutuhan bayi, jangan dalam jumlah besar.

Mengenai menyimpanan ASI, bisa dilihat di postingan Manajemen Asi Perah untuk Ibu Bekerja
[Continue reading...]

Wednesday, May 11, 2016

Benjolan pada Leher Anak, Diapain Nih?

- 0 comments
Apa yang mommy rasakan ketika menemukan benjolan pada leher anak? Panik? Kaget? Takut?

Iya, saya merasakannya. Anak saya yang kedua, si Widya ketahuan ada benjolan di lehernya. Tepatnya di bawah telinga kanan (agak maju dikit sih). Benjolannya pertama kali saya temukan di tahun 2015. Karena suatu hal, sama sekali belum bisa saya periksakan ke dokter.

Sekitar awal 2016, benjolannya membesar. Sangat-sangat bengkak hingga kelihatan. Padahal awalnya hanya terlihat ketika dia mendongak saja. Saat itu, benar-benar seperti gendongan tapi di kanan.

Gejala lain yang muncul adalah badannya sering hangat dan mukanya juga pucat. Walaupun si anak tidak merasakan apa-apa, benjolannya tidak sakit, aktivitas masih seperti biasa, tetap saja saya panik. Akhirnya si adek saya bawa ke dokter anak.

Berbagai macam pemikiran muncul. Jangan-jangan tumor, jangan-jangan kanker. Apalagi pas di dokter anak, sang dokter tidak berani memberi vonis apa-apa karena benjolannya sudah lama. Sang dokter yang memang terlalu overcare juga sudah sampai membicarakan urusan operasi dan tips mencari kamar di rumah sakit. Seketika saya menyesali kealpaan saya karena terlambat membawa si adek ke dokter.

Oleh dokter anak, anak saya dirusuk ke dokter bedah anak. Kebetulan sang dokter bedah ini praktek di RS Surya Husada Denpasar pada hari yang sama, sehingga langsung kami samperin.

Udah takut banget kalau si adik harus operasi segala macam. Syukurnya sang dokter bedah yang sudah 11 tahun menangani kasus seperti ini berkata untuk kasus seperti ini sangat jarang sampai operasi. Sang dokter jauh berbeda dengan dokter anak yang sebelumnya, lebih santai dan bisa menenangkan perasaan orangtua pasien yang sudah ketakutan.

Dokter bedah kemudian merujuk si adek ke dokter spesialis patologi untuk melakukan FNAB (Fine Needle Aspiration Cytology) atau biopsi jarum halus. Ini merupakan tindakan memeriksa suatu bagian tubuh dengan cara menyuntikkan sebuah jarum yang halus (lebih kecil dari jarum suntik biasa) ke bagian tubuh yang ingin diperiksa.

FNAB tidak berlangsung lama. Hanya menusukkan jarum kecil sekali di benjolan. Namun tetap saja si adek ketakutan dan menjerit. Hasil tesnya juga tidak lama, hanya menunggu sekitar satu jam dan hasil sudah keluar.
Ternyata, dari test itu ketahuan bahwa benjolan itu merupakan akibat dari Reactive lymphoid hyperplasia yaitu pembesaran kelenjar getah bening.

Saat menelpon dokter bedah anak untuk menyampaikan hasil test,  dokter bilang bahwa kasusnya si adek tidak perlu buru-buru. Saya kemudian diminta konsultasi lagi pada jadwal beliau yang berikutnya.

Beberapa hari kemudian, saya kembali konsultasi ke dokter bedah anak. Sang dokter mengatakan bahwa si adek terkena radang sekunder yang membuat benjolannya tambah besar. Akhirnya diberikan antibiotik selama seminggu, dan diminta kontrol lagi minggu depan pada hari yang sama.

Selama seminggu, benjolan berkurang drastis, tidak lagi bengkak seperti hari kemarin. Namun masih ada sisa, sehingga saya kembali kontrol minggu depannya. Karena hasil obat yang memuaskan, dokter kembali memberikan antibiotik dengan jenis serta dosis yang sama selama seminggu.



Seminggu kemudian, benjolan itu ternyata masih ada dengan ukuran yang sama seperti tahun lalu ditambah dua benjolan baru dengan ukuran kecil-kecil.  Saat kontrol lagi, si adek dan juga kakaknya Cuta (yang ternyata setelah saya cek juga memiliki benjolan serupa tapi lebih kecil) dirujuk ke dokter anak spesialis kelenjar untuk menjalani tes mantoux.

Apa itu test mantoux? Ini merupakan alat diagnostik yang sampai saat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk mendiagnosis adanya infeksi tuberkulosis. Prosedurnya adalah dengan menyuntikkan tuberkuloprotein ke bawah kulit. Lokasi penyuntikan di sekitar lengan.

Kenapa anak-anak saya harus menjalani test ini padahal hasil FNAB-nya menunjukan pembengkakan kelenjar getah bening? Karena di keluarga kami pernah ada riwayat TB sehingga disinyalir anak-anak tertular.

Test ini mungkin hanya seperti suntikan, tapi efeknya sungguh berbeda pada anak 3 tahun. Si Adek menangis jejeritan, meronta-ronta padahal sudah dipegangi oleh perawat. Suntikannya gagal karena obatnya keluar sehingga test harus diulang di lengannya lagi satu. Saya tidak heran kenapa si Adek ketakutan. Metode suntikannya tidak seperti suntikan bisa yang asal suntik lalu masukin obat. Tidak. Setelah disuntik, dengan posisi jarum semasih di kulit, sang dokter memastikan posisi jarum di jaringan kulit yang tepat sebelum memasukan obat. Inilah yang membuat si Adek dan kakaknya menjerit kesakitan.

Setelah test, kami diminta kontrol 3 hari kemudian karena hasil test baru akan kelihatan dalam jangka waktu 48-72 jam. Reaksi tubuh terhadap penyuntikan ini nantinya akan berupa munculnya benjolan kemerahan di sekitar suntikan. Dinyatakan tuberkulosis negatif apabila nilai indurasinya 0-4 mm. Di sisi lain, dinyatakan negatif tuberkulosis apabila nilai indurasinya diatas 10 mm. Jika nilai indurasi berkisar antara 5-9 mm, maka dinilai meragukan (ref: artikelkesehatanwanita.com)

Syukurnya, selama 3 hari itu sama sekali tidak ada tanda-tanda benjolan di lengannya anak-anak. Bekas suntikan memudar dengan cepat, dan ketika kontrol dokter mengatakan bahwa mereka tidaklah terkena TB.

Seketika saya lega. Kenapa? Sungguh mommy, pengobatan TB itu tidaklah gampang. Penderita harus minum obat setiap hari selama enam bulan. Tidak boleh putus barang satu hari saja. Kalau lupa sehari, bakteri akan resisten terhadap obat. Pada bulan-bulan awal bahkan 4 biji obat yang gedenya minta ampun. Saya membayangkan anak-anak saya menelan obat-obatan begitu, seketika rasanya mau lemas.

Syukurnya mereka negatif untuk TB. Kemudian, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka hingga memiliki benjolan seperti itu? Apa pengobatan selanjutnya?

Sang dokter yang juga merupakan spesialis kelenjar ini mengatakan bahwa anak-anak saya mengalami suatu jenis radang yang membuat kelenjar getah bening mereka membengkak (hasil FNAB jelas kok, dok). Hal ini katanya umum terjadi pada beberapa anak, tidak akan mempengaruhi kesehatan mereka dan juga tidak membutuhkan pengobatan tambahan. Dokternya sendiri bilang benjolan akan hilang dengan sendirinya. Saya hanya harus mengobservasi anak-anak dan melakukan pemeriksaan jika terjadi radang sekunder yang mengakibatkan bengkak besar seperti kemarin.

Ini melegakan. Sungguh, setelah hampir sebulan berkutat dengan masalah benjolan ini hingga membayang operasi segala macam.  Segala macam ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran yang menyita perhatian dan tenaga akhirnya bisa ditanggalkan (bahasanya novel banget hahahah). Namun biarpun begitu, tetap saya saya masih was-was. Anak saya dua-duanya mengalaminya, saya jadi menduga-duga penyebabnya apa walaupun dokternya tidak bisa menyebut penyebabnya secara spesifik.

Sampai seminggu setelah konsultasi terakhir, tidak ada masalah kesehatan berarti bagi mereka. Semoga benjolan tersebut memang bisa hilang dengan sendirinya.

Nah, postingan saya kali ini tujuannya untuk membuat mommy tahu, bahwa tidak semua gejala penyakit harus ditanggapi dengan ketakutan. Namun tetap ya harus waspada, karena benjolan yang tidak wajar seperti ini bisa jadi sesuatu yang mengkhawatirkan jika tidak ditindaklanjuti.

Atau mungkin ada mommy yang pernah mengalami masalah seperti anak-anak saya? 

[Continue reading...]

Thursday, March 31, 2016

Kenali Croup pada Bayi dan Anak

- 0 comments

Apa itu Croup?
Croup atau yang sering disebut dengan Laryngotracheobronchitis adalah penyakit pernapasan umum di mana pita suara (laring) dan daerah tenggorokan (trachea) meradang. Croup biasanya disebabkan oleh virus, seperti virus parainfluenza, adenovirus, atau respiratory syncytial virus (RSV). Croup dikaitkan dengan batuk keras, batuk menggonggong dan pernapasan yang berisik. Croup terjadi paling sering pada akhir musim dingin, terutama pada anak-anak antara usia 3 bulan dan 5 tahun. 

Gejala dan Tanda Croup
Croup biasanya dimulai eperti flu biasa dengan pilek dan demam. Setelah beberapa hari, suara anak akan tampak serak dan anak akan mengalmai batuk yang keras. Suara batuknya sendiri terdengar seperti gonggongan anjing laut. 

Anak juga mungkin memiliki masalah menarik udara ke paru-paru karena peradangan di saluran napas. Suara berisik yang terjadi ketika menghirup disebut stridor. Batuk dan kesulitan bernafas terjadi paling sering di malam hari atau di di tengah malam. Dalam kasus croup spasmodik, anak mungkin tidak memiliki gejala flu sebelum batuk dimulai, tapi batuk dan gejala pernapasan yang sama seperti pada anak dengan Croup menular. 



Anak-anak yang lahir prematur atau anak-anak dengan asma yang diketahui bisa mengalami  gejala Croup yang lebih parah. Secara umum, bagaimanapun, croup hilang dalam beberapa hari, meskipun gejala sesekali dapat menjadi parah. Kadang-kadang seorang anak yang mengalami kesulitan bernafas bisa emnderita batuk yang cepat, nafas tersengal-sengal atau dikombinasikan dengan batuk yang menggonggong. Warna kulit anak mungkin pucat dan biru di sekitar mulut karena kekurangan oksigen. Jika ibu melihat gejala serius ini, maka cepatlah bawa anak ke dokter.

Cara Mencegah Croup
Sulit untuk mencegah anak dari terserang Croup mengingat virus flu umum juga bisa mengakibatkan Croup. Sering  mencuci tangan dan menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit dapat mengurangi risiko infeksi. 

Pengobatan untuk Croup
Antibiotik tidak membantu karena croup biasanya disebabkan oleh virus, bukan oleh bakteri. Jika anak menderita croup untuk pertama kalinya, hubungi dokter segera jika ada tanda-tanda kesulitan bernapas, dehidrasi, demam tinggi, air liur, dan ketidakmampuan untuk menelan air liur. Ini mungkin merupakan tanda dari epiglottitis akut, infeksi yang jarang namun berpotensi mengancam nyawa dari epiglotis. 
 
kondisi larink saat menderita Croup
Jika anak menderita croup sebelum dan ibu mengenali gejala-gejalanya, cobalah langkah-langkah ini:
  • Berikan anak banyak cairan.
  • Topang anak di tempat tidur dengan bantal dan menjaga tubuh bagian atas terangkat sehingga ia akan bernapas lebih mudah.
  • Beberapa anak merasa lebih baik ketika mereka menghirup udara dingin dan basah. Membawa anak ke jendela yang terbuka atau membuka pintu freezer.
  • Anak-anak lain membaik setelah menghirup hangat, udara beruap. Bawa anak ke kamar mandi setelah mengisi bak dengan air hangat selama 10 menit. Minta anak menghirup uang lembab secara langsung atau melalui handuk basah. Jika menggunakan handuk basah, bisa juga dilakukan di kamar.

Tidurlah cukup dekat untuk anak sehingga Ibu bisa mengamati perjalanan penyakit. Gejala dapat meningkatkan di siang hari, tetapi memperburuk lagi untuk dua atau tiga malam. 

segera hubungi dokter jika anak tidak juga bisa bernapas dengan lebih mudah setelah perawatan di atas. Anak mungkin butuh oksigen, obat-obatan untuk membuka jalur napas dan cairan infus.

(sumber : parents.com)

[Continue reading...]

Monday, March 28, 2016

Mengenali Batuk pada Bayi

- 0 comments
Batuk adalah cara tubuh untuk  melindungi diri sendiri. Batuk berfungsi sebagai metode yang digunakan tubuh untuk menjaga kebersihan saluran udara, membersihkan dahak di tenggorokan, postnasal drip (lendir hidung yang menetes ke bagian belakang tenggorokan), atau potongan makanan yang salah masuk.
Untuk menjalankan fungsi itu, ada dua jenis batuk yaitu:

  • Batuk kering: Jenis batuk yang terjadi ketika bayi merasa  dingin atau alergi. Batuk jenis ini membantu membersihkan postnasal drip atau iritasi akibat sakit tenggorokan.
  • Batuk basah: Jenis batuk ini adalah hasil dari penyakit pernapasan yang disertai infeksi bakteri. Ini menyebabkan dahak atau lendir (yang mengandung sel-sel darah putih untuk membantu melawan kuman) untuk membentuk di saluran udara bayi. 

Bayi berumur kurang dari 4 bulan biasanya tidak sering batuk, jadi ketika batuk itu menimpa bayi umur 0-4 bulan maka itu artinya serius. Pada kondisi dingin, jika bayi ibu batuk keras bisa jadi adalah respiratory syncytial virus (RSV), infeksi virus berbahaya bagi bayi.

Kemudian berdasarkan penyebabnya, seperti dilansir oleh ayahbunda.co.id, batuk bisa disebabkan oleh dua hal:

Batuk alergi.
Salah satu alergen untuk saluran napas disebut inhalan, karena zat-zat yang beterbangan di lingkungan terhirup oleh tubuh. Inhalan yang paling banyak menimbulkan alergi adalah debu rumah, yang biasanya mengandung tungau (sejenis kutu kecil) debu rumah, partikel dari asap rokok, serpihan kulit binatang, serbuk sari tumbuhan, dan zat-zat kimia yang disemprotkan (obat nyamuk, minyak wangi, dan hairspray). Namun, alergen juga dapat berupa makanan, misalnya makanan ringan yang mengandung zat pewarna atau zat pengawet.

Jika anak kebetulan alergi dan mengisap inhalan, maka selaput lendir pada saluran pernapasannya akan terangsang untuk menghasilkan lendir lebih banyak dari biasanya. Akibatnya? Terjadi pembengkakan (edema). Ujung-ujung saraf dalam selaput lendir menjadi terangsang, dan batuklah ia.

Jika pembengkakan terjadi pada saluran pernapasan atas, yaitu di hidung, maka hidung akan tersumbat dan balita pun pilek. Biasanya, sih, disertai juga bersin-bersin. Sebaliknya, jika pembengkakan pada saluran pernapasan bawah, yaitu saluran di paru-paru secara menyeluruh, maka terjadi penyempitan saluran pernapasan. Akibatnya, anak uhuk-uhuk, sesak, dan napasnya berbunyi (mengi) alias asma.

Batuk non-alergi. 
Batuk jenis ini disebabkan infeksi kuman, terutama jenis virus dan bakteri. Proses pembengkakannya hampir sama dengan batuk alergi. Begitu kuman penyakit masuk, selaput lendir pada saluran pernapasan membengkak dan rusak. Akibatnya, produksi lendir berlebihan, hidung tersumbat, dan muncullah batuk.

Batuk non-alergi biasanya disertai demam dan gejala lainnya. Jenis bakteri yang sering jadi biang keladi infeksi saluran pernapasan atas akut (ISPA) adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Tidak jarang, batuk yang bersifat kronis dikarenakan jenis bakteri penyebab penyakit tuberkulosis (TBC).

Cara Alami mengatasi Batuk pada Anak
Kadnag, jika dibawa ke dokter, anak akan diberi antibiotik. beberapa orangtua biasanya mengurangi penggunaan antibiotik, sehingga lebih memilih obat biasa atau bahkan obat tradisional.

Yang sering saya lakukan untuk mengatasi batuk anak dengan ramuan tradisional adalah dengan kencur, jeruk nipis dan madu.

Kencur diperas, kemudian diperas di atas saringan teh. Baru kemudian campurkan dengan perasan jeruk nipis dan madu. Kadang anak memuntahkannya kembali karena rasa kencur yang pedas, untuk menyiasatinya tambahkan madu yang banyak jadi rasanya manis.

[Continue reading...]
 
Copyright © . Catatan Mpasi Acyuta - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger